Alasan Max Pictures Gugat Balik Penulis Asli Benyamin Biang Kerok Rp50 M

Elang Riki Yanuar    •    20 April 2018 06:00 WIB
film benyamin biang kerok
Alasan Max Pictures Gugat Balik Penulis Asli Benyamin Biang Kerok Rp50 M
Bagiono dan Ody Mulya Hidayat

Jakarta: Max Pictures memutuskan menggugat balik Syamsul Fuad, penulis asli film Benyamin Biang Kerok yang ditayangkan pada 1972. Langkah ini sebagai reaksi atas gugatan yang sebelumnya dilayangkan Syamsul.

Syamsul terlebih dulu menggugat Max Pictures dan Falcon Pictures, dua rumah produksi yang membuat film Benyamin Biang Kerok versi baru. Bos Falcon, HB Naveen dan produser Max Pictures, Ody Mulya Hidayat turut menjadi tergugat.

Syamsul menuntut ganti rugi materiil Rp1 miliar untuk harga penjualan hak cipta film Benyamin Biang Kerok. Dia juga meminta royalti penjualan tiket film sebesar Rp1.000 per tiket. Selain itu, Syamsul meminta ganti rugi imateriil sebesar Rp10 miliar.

Tak mau kalah. Max Pictures balik menggugat Syamsul Fuad dengan total tuntutan ganti rugi sebesar Rp 50 miliar yang terdiri dari kerugian materiil Rp35 miliar dan imateriil Rp15 miliar.

Menurut kuasa hukum Max Pictures, Bagiono SH, angka Rp50 miliar itu berdasarkan hitung-hitungan yang matang. Jumlah ini dia anggap mewakili kerugian yang dialami Max Pictures karena jumlah film Benyamin Biang Kerok jauh melenceng di bawah target. Sejak tayang pada 1 Maret 2018, film garapan Hanung Bramantyo tersebut sejauh ini baru menembus angka 740 ribu penonton.

"Tadinya kami tidak berpikir soal angka. Tapi melihat pihak sana melayangkan gugatan yang angkanya tidak rasional. Falcon dan Max Pictures yang sudah berkecimpung lama di dunia film tidak mungkin menabrak regulasi yang ada," kata Bagiono saat ditemui di Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (19/4/2018).

Ody Mulya Hidayat sendiri mengaku kaget ketika mendengar dirinya digugat oleh Syamsul dengan nilai yang jika ditotal mencapai Rp30 miliar. Padahal, jauh sebelum film Benyamin Biang Kerok tayang di bioskop, Ody sudah menempuh jalan mediasi kepada Syamsul.

"Yang dikedepankan bukan masalah uang, tapi mediasi. Ketika somasi dari Pak Syamsul dilayangkan ke Pak Ody, dia sudah mengedepankan mediasi, datang, ngobrol. Kami bilang akan beri uang kerohiman, memberi legal standing yang jelas, positioning-nya jelas. Ya sudah jangan ribut. Kami kaget juga ketika tiba-tiba dituntut, satu film itu hampir Rp30 miliar," ucap Bagiono.

Syamsul merasa punya hak atas judul Benyamin Biang Kerok, karakter Pengki dan cerita film asli yang dulu disutradarai Nawi Ismail. Max Pictures yang membeli hak cipta film tersebut pada tahun 2010 menganggap, ketika hak cipta film Benyamin Biang Kerok dibeli, maka segala isi, karakter dan cerita film sudah mencakup keseluruhan proses jual beli.

"Tidak ada landasan hukum kalau seseorang nama itu bisa dipatenkan. Film ini kami beli semuanya. Sampai judul-judulnya, isinya sampai karakter-karakternya," ujarnya.

"Kami memiliki perjanjian jual beli, seluruhnya. Kalau gugat ke Pak Ody ya salah alamat. Beliau sebagai pembeli, di situ ada transaksional, masuk ke produk perjanjian. Kalau menuntut ya ke penjual, kami seharusnya hanya turut. Bukan malah menjadi tergugat," katanya melanjutkan.

Sidang gugatan antara Syamsul melawan Max dan Falcon Pictures akan dilanjutkan pada Kamis, 26 April 2018. Pihak Syamsul dan Bakhtiar akan memberikan tanggapan atas jawaban pihak Max dan Falcon.


 


(ELG)