4 Film Pendek Dokumenter Indonesia Berkompetisi di Tingkat Asia Tenggara

Cecylia Rura    •    08 Mei 2018 18:47 WIB
film dokumenterTribeca Film Institute
4 Film Pendek Dokumenter Indonesia Berkompetisi di Tingkat Asia Tenggara
4 Film Pendek Dokumenter Indonesia Berkompetisi di Tingkat Asia Tenggara (Foto: dok. if/then)

Jakarta: If/Then Shorts Stroy Development Lab mengumumkan 10 proyek film dokumenter yang ikut dalam final pitching di Docs by the Sea pada Agustus 2018. Empat di antaranya berasal dari Indonesia. Sebelumnya, para kandidat terpilih telah melalui proses master class.

Seleksi tersebut berdasarkan penilaian dari 17 film proyek film dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Masing-masing inalis akan kembali berkompetisi merebut dukungan berupan cash prize, distribusi internasional. Pada seleksi tahap akhir akan menghadirkan berbagai pemangku keputusan dunia seperti investor, praktisi dokumenter, lembaga funding internasional, dan stasiun televisi.

Melalui keterangan pers yang diterima Medcom.id, Selasa, 8 Mei 2018, para kandidat terpilih berasal dari Indonesia ditemani para kandidat dari Filipina, Thailand, dan Malaysia. Indonesia dengan perwakilan terbanyak, yakni empat proyek film dengan judul Diary of Cattle karya David Darmadi & Lidia K. Afrilita, Home (Arunaya Gondhowiardjo dan Firman Widyasmara), How Far I’ll Go (Ucu Agustin dan Dian Raisha) dan The Other Half (Wahyu Utami Wati dan Damar Ardi).

Sementara itu, Filipina menempati posisi kedua dengan tiga kandidat proyek film di antaranya Bullet-Laced Dreams (Cha Escala & Kristoffer Brugada), The Legend of The Fish Venice Atienza) dan Touch the Color (Baby Ruth Villarama dan Carlo Joel Gutierrez). Thailand dengan dua kandidat proyek film, yakni Dancing Queen (Watcharee Rattanakree dan Apichon Rattanapayon) dan Swallows Trapped in Twilight (Komtouch Napattaloong dan Nontawat Numbenchapol). Sedangkan Malaysia dengan satu kandidat proyek berjudul Songbirds of Aceh dari Aminda Faradilla dan Jean Chang).

Kesepuluh proyek film terpilih akan meneruskan proses pengembangan cerita dan mengikuti workshop tambahan di Bali yang diselenggarakan pada 2-5 Agustus 2018. Di akhir program If/Then, empat film Asia Tenggara akan memenangkan hibah dana sebesar masing-masing Rp100 juta.

Selain pemenang hibah dana, satu proyek film juga akan mendapatkan hibah produksi dari Al Jazeera, di mana proyek berkesempatan tayang di saluran Al Jazeera.

Kelima pemenang terpilih nantinya mendapat dukungan mentorship dan distribusi dari pihak Tribeca. Film dari para pemenang juga akan dipromosikan ke beberapa partner distribusi Tribeca Film Institute di antaranya POV, The Guardian, The New York Times, Netflix, ITVS, iTunes, Vimeo, dan masih banyak lagi.

Selain 10 film terpilih yang berhasil melalui tahap selanjutnya, British Council mengadakan Special Prize dalam festival film dokumenter terbesar di Inggris, Sheffield Doc/Fest. Kesempatan ini diberikan kepada LIdia K. Afrilita dari film Diary of Cattle. Penghargaan terakhir dalam kategori The Most Improved Pitch diberikan kepada The Act of Forgiving dari Indonesia oleh Kurnia Yudha Fitranto dan Teguh Hari.

Sebelum seleksi dilakukan, para peserta telah mengikuti kelas wajib master class selama tiga hari pada 4-6 Mei 2018. Master class ini diisi oleh lima mentor kelas dunia dari film dokumenter yang memberikan materi pada penguatan pengembangan cerita, teknis, hingga jalur distribusi. Mentor tersebut di antaranya Mridu Chandra selaku Director of If/Then, Aloke Devichand dari Al Jazeera, Gary Byung-Seok Kam, John MacFarlane, serta Sebastian Wingkels.

If/Then Short diselenggarakan berkat kolaborasi antara Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf), Tribeca Film Institute, Al Jazeera, British Council, dan In-Docs.

Melalui program If/Then, para filmmaker mendapatkan perhatian lebih berupa dukungan dana untuk merealisasikan proyek film mereka di skala internasional. Karya film mereka juga akan terhubung dengan mitra Tribeca Film Institute.

Di Indonesia, In-Docs akan menjadi katalis distribusi dalam negeri sehingga cerita karya sineas dapat disaksikan oleh masyarakat Indonesia.

Berikut rincian 10 finalis proyek film di Asia Tenggara:

1. BULLET-LACED DREAMS (Filipina)
Sutradara: Cha Escala & Kristoffer Brugada
Logline: anak-anak dari suku asli di Mindanao berjuang memperoleh hak pendidikan disebabkan pemerintah melakukan militerisasi sekolah-sekolah mereka.

2. DANCING QUEEN (Thailand)
Sutradara: Watcharee Rattanakree
Produser: Abhichon Rattanabhayon
Logline: Seorang bekas ladyboy terinfeksi HIV dari teman prianya yang tengah mempertaruhkan hidupnya berjuang melawan virus HIV dan TB.

3. DIARY OF CATTLE (Indonesia)
Sutradara & Produser: David Darmadi & Lidia K. Afrilita
Logline: Film ini menggambarkan kehidupan sehari-hari peternakan sapi yang makan dan tinggal di lokasi tempat pembuangan sampah. Terlepas dari manfaat ekonomi bagi pemilik ternak, beberapa risiko tidak dapat dihindarkan; baik risiko yang mengancam jiwa ternak, dan kerugian investasi bagi pemiliknya.

4. HOME (Indonesia)
Sutradara: Arunaya Gondhowiardjo
Produser: Firman Widyasmara
Logline: Perjalanan orangutan muda menuju pemulihan melalui jalan panjang dan sulit dengan berbagai dukungan di sepanjang jalan menuju "rumah".

5. HOW FAR I’LL GO (Indonesia)
Sutradara & Produser: Ucu Agustin
Co-Producer: Dian Raisha
Logline: Dua gadis remaja yang mengalami gangguan penglihatan menantang diri mereka untuk mandiri. Andrea dan Salsabila, keduanya beranjak tujuh belas tahun, merupakan teman sejak masih anak-anak. Andrea meninggalkan Indonesia untuk tinggal di Amerika ketika dia berumur lima tahun.

6. SONGBIRDS OF ACEH (Malaysia)
Sutradara & Produser: Aminda Faradilla
Produser: Jean Chang
Logline: Di salah satu tempat subur lahirnya kelompok garis keras Islam terbesar di dunia, sekelompok gadis muda menemukan cara untuk melawan terorisme dengan hanya menggunakan suara mereka dalam lagu.

7. SWALLOWS TRAPPED IN TWILIGHT (Thailand)
Sutradara & Produser: Komtouch Napattaloong
Produser: Nontawat Numbenchapol
Logline: Di suatu tempat di Thailand, sebuah keluarga pengungsi Sudan hidup dalam persembunyian, menunggu pemulihan kembali dengan kamera kecil mereka.

8. THE LEGEND OF THE FISH (Filipina)
Sutradara: Venice Atienza
Co-Writer & Sound: Fanni Wu
Logline: Apa yang harus dilakukan untuk membuat sang legenda tetap hidup?

9. THE OTHER HALF (Indonesia)
Sutradara: Wahyu Utami Wati
Produser: Damar Ardi
Logline: Basri, 65 tahun dan tinggal sendiri, berpartisipasi dalam acara pertandingan yang disebut Golek Garwo; mencari pasangan hidup.

10. TOUCH THE COLOR (Filipina)
Sutradara: Baby Ruth Villarama
Produser: Carlo Joel Gutierrez
Logline: Ketika perang narkoba di Filipina semakin intensif, sekelompok wanita yang dipenjara mengubah neraka penjara menjadi tempat pensucian dosa di saat menunggu putusan akhir mereka di pengadilan.


 


(ELG)