Cermin Budaya Lewat Film

Pelangi Karismakristi    •    13 Desember 2017 14:53 WIB
galeriindonesiakaya
Cermin Budaya Lewat Film
Christine Hakim (Foto:Antara/Wahyu Putro)

Jakarta: Indonesia kaya akan tradisi, budaya, dan alamnya yang indah. Para sineas Tanah Air sering menuangkan ketiga unsur tersebut dalam karya film.

Ifa Ifansyah, salah seorang sutradara yang beberapa kali mengangkat tema budaya Indonesia dalam film. Pria kelahiran Yogyakarta, 16 Desember 1979, ini cukup beken di dunia perfilman Indonesia dan karyanya sering diganjar penghargaan di dalam maupun luar negeri.

Pada 2014, Ifa menyutradarai film Pendekar Tongkat Emas yang dibintangi oleh Christine Hakim, Reza Rahardian, Nicholas Saputra, Tara Basro, Slamet Rahardjo, dan Eva Celia. Film silat ini mengambil lokasi di Sumba, Nusa Tenggara Timur.

Tiga tahun sebelumnya, Ifa menyutradarai film Sang Penari, yang terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Sang Penari menceritakan kehidupan Srintil (Prisia Nasution) yang merupakan seorang ronggeng dan kisah asmaranya bersama Rasus (Oka Antara).

Film yang bagus bukan hanya karena sutradara, melainkan juga pemainnya. Siapa yang tidak kenal Christine Hakim? Aktris senior ini masih aktif di dunia perfilman Indonesia hingga saat ini.

Sudah puluhan judul film ia perankan, sejak 70-an. Berkat aktingnya yang mengagumkan, Christine Hakiml dinobatkan sebagai pemeran utama wanita terbaik dalam Piala Citra (pada 1974, 1977, 1979, 1985, 1983, dan 1988).

Pemeran Cempaka dalam film Pendekar Tongkat Emas ini juga mendapat penghargaan sebagai aktris terpuji Festival Film Bandung untuk Film Tjoet Nja' Dhien pada 1989 dan Pasir Berbisik pada 2002. Bahkan, ia pernah dinobatkan sebagai best actrees dalam Asia Pacific International Film Festival (Daun di Atas Bantal tahun 1998).

Dalam sebuah film, keterlibatan produser pun tak kalah penting. Perempuan berambut pendek ini telah banyak berkecimpung dalam produksi film Indonesia sebagai seorang produser, dia adalah Dewi Umaya Rachman.

Sederet film yang melibatkan namanya pun banyak menyita perhatian pecinta film Indonesia. Di antaranya Minggu Pagi di Victoria Park (2010), Rayya (Cahaya di Atas Cahaya) (2012), Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015), Salawaku (2016), Insyallah Sah (2017) dan masih banyak lagi.

Penasaran bagaimana mereka bisa mengemas cerita, karakter, dan pembawaan hingga bisa mempersembahkan karya film dengan unsur Indonesia? Simak perbincangan Yovie Widianto bersama Ifa Isfansayh, Christine Hakim, dan Dewi Umaya dalam program IDEnesia Metro TV, Kamis 14 Desember 2017, pukul 21.05 WIB.

Jangan lupa, ikuti kuis IDEnesia dan Galeri Indonesia Kaya dengan mem-follow twitter @IDEnesiaTwit atau @IndonesiaKaya.

 


(TRK)

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

Nyawa Lain Yon Koeswoyo

4 days Ago

Yon dan Koes Plus meninggalkan segudang warisan bagi generasi setelah mereka. Semasa jayanya, K…

BERITA LAINNYA