20 Tahun Film Kuldesak Dirayakan lewat Buku

Cecylia Rura    •    20 Desember 2018 10:20 WIB
film indonesia
20 Tahun Film Kuldesak Dirayakan lewat Buku
Jumpa media perayaan 20 tahun film Kuldesak di XXI Epicentrum Jakarta, Rabu, 19 Desember 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura)

Jakarta: Kuldesak, film debut empat sutradara Riri Riza, Nan T. Achnas, Mira Lesmana, dan Rizal Mantovani diarsipkan dalam medium buku berjudul sama. Bedanya, kali ini ada penambahan empat jargon untuk film yang rilis pada akhir masa Orde Baru itu, yakni; berjejaring, bergerak, bersiasat, dan berontak.

Philip Chea, rekan Mira Lesmana sejak 10 tahun lalu, mendorong Mira untuk kembali mengangkat Kuldesak. Menurut dia, ini penting. Sebab, Kuldesak dianggap sebagai pemantik pergerakan sineas Indonesia pasca-Orde Baru. Film ini pada masanya adalah harapan baru dan darah segar bagi dunia film Indonesia.

"Kamu harus melakukan sesuatu, mengingatkan banyak orang bahwa tahun '98 kalian bergerak untuk perfilman Indonesia," kata Mira mengulang pesan Philip Chea.

Modal pembuatan buku diambil dari uang "tabungan" yang sempat terkumpul dari film itu. Kira-kira sebesar Rp140 juta. 

"Akhirnya kami berpikir bikin buku saja, agar bisa terekam (diarsipkan) dengan baik. Mungkin kami bisa bikin restorasi tapi karena waktunya pendek akhirnya kita dibantu Film ID membuat (hal) dari positif (lain) dari film," lanjut Mira dalam jumpa pers di XXI Epicentrum Jakarta, Rabu, 19 Desember 2018.

Restorasi dari negatif film tetap direncanakan, tetapi belum dapat dilakukan karena terhalang masalah biaya.

Buku 20 Kuldesak dicetak terbatas dan tidak dijual bebas. Buku dapat diperoleh dengan cara berdonasi sebesar Rp750 ribu. Alasannya, agar buku berada di tangan orang yang relevan. Seperti komunitas dan periset film.

Untuk saat ini buku 20 Kuldesak baru dicetak 50 eksemplar. Nantinya, akan dicetak sebanyak 200 buku. 100 untuk BEKraf dan 100 untuk Kemendikbud, kemudian buku akan disumbangkan ke perpustakaan di beberapa kota.

Film Kuldesak ditayangkan perdana pada 1998 secara swadaya, tanpa membayar kru. Proses dimulai dari Riri Riza pada 1995 yang memegang cerita Andre (Ryan Hidayat), setahun berikutnya syuting arahan Nan dalam cerita Dina (Oppie Andaresta), kemudian pada 1997 oleh Mira Lesmana dalam cerita Aksan (Aksan Sjuman), dan terakhir pada 1998 oleh Rizal Mantovani dalam cerita Lina (Bianca Adinegoro). Film ini diproduksi di bawah bendera Day For Night Films.


 


(ASA)