LSF Berikan Apresiasi Film Sejarah dan Lokal

Purba Wirastama    •    07 November 2017 15:22 WIB
lembaga sensor film (lsf)
LSF Berikan Apresiasi Film Sejarah dan Lokal
Hans de Kraker mewakili Rere, sutradara Silariang, untuk menerima penghargaan Anugerah LSF 2017 pada Senin (6/11/2017) Foto: Metrotvnew/Purba)

Metrotvnews.com, Jakarta: Anugerah LSF 2017 dari Lembaga Sensor Film memberi piala penghargaan kepada film Silariang: Menggapai Keabadian Cinta untuk kategori film bioskop. Film berbahasa Bugis Makassar ini menang atas empat film unggulan lain, yang juga menyajikan konten sejarah atau budaya lokal.

Ada Rudy Habibie (MD Pictures), Kartini (Legacy Pictures), Turah (Fourcolours Films), serta Nyai Ahmad Dahlan (Iras Pesona Films).

Rudy Habibie, prekuel Habibie & Ainun garapan Hanung Bramantyo, menceritakan sosok Insinyur BJ Habibie muda semasa kuliah di Jerman, yang pada nantinya menjadi Presiden ke-3 Indonesia. Kartini, yang juga digarap oleh Hanung, menceritakan sosok Kartini muda dari Jepara dalam dialog campuran berbahasa Indonesia dan Jawa.

Daftar Lengkap Pemenang dan Unggulan Anugerah LSF 2017

Nyai Ahmad Dahlan (Olla Atta Adonara & Dyah Kalsitorini) memotret kisah kehidupan Siti Walidah, istri dari KH Ahmad Dahlan tokoh pendiri Muhammadiyah dari Jawa. Turah, film berbahasa Jawa dialek Tegal garapan Wicaksono Wisnu Legowo, memotret kisah kehidupan warga kampung miskin bernama Tirang di Tegal.

"Film mengedepankan sumber daya manusia Indonesia dan juga peduli dengan kearifan atau budaya lokal, yang adalah bagian dari budaya nasional," kata Ahmad saat ditanya ulang mengenai kriteria penjurian Anugerah LSF 2017 di Balai Kartini Jakarta, Senin malam (6/11/2017).

Selain soal ketaatan terhadap aturan sensor, ihwal lokalitas menjadi sorotan utama LSF dalam proses penjurian Anugerah LSF 2017. Prinsip ini diwujudkan ke dalam dua dari tiga kriteria penilaian seperti telah disebut di atas, yaitu soal konten budaya lokal dan pekerja kreatif lokal.

Menurut Ketua LSF Ahmad Yani Basuki, mereka secara khusus memang mendukung film-film semacam ini melalui Anugerah LSF 2017. Dengan menyajikan konten lokal, pembuat film dinilai telah ikut mengangkat kebudayaan nasional Indonesia.

"Pengertian 'lokal' itu (...) peduli dengan budaya-budaya nasional," ucap Ahmad.

"Seperti kita tahu, budaya nasional itu berbasis budaya daerah. Kalau film membuat (cerita terkait) budaya-budaya daerah, artinya budaya nasional terangkat semua," lanjut dia.

Tahun ini merupakan kali pertama Anugerah LSF diadakan. Ada tiga kategori penghargaan bagi tayangan bioskop dan televisi yang dinilai layak diberi apresasi. Selain film bioskop, ada kategori serial televisi dan film televisi, yang masing-masing dimenangkan oleh serial Para Pencari Tuhan dan FTV Namaku Sugeng Rawuh.

 
(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA