Jomblo, Tragedi Cinta dan Persahabatan

Purba Wirastama    •    15 Oktober 2017 10:38 WIB
resensi film
Jomblo, Tragedi Cinta dan Persahabatan
Poster film Jomblo (Foto: dok.falconpictures)

Jomblo
Sutradara: Hanung Bramantyo
Skenario: Ifan Adriansyah Ismail & Adhitya Mulya
Cerita Asli: Novel Jomblo karya Adhitya Mulya
Produser: Hanung Bramantyo (Dapur Film), Frederica, HB Naveen, Dallas Sinaga (Falcon)
Durasi: 117 menit

Kisah empat sekawan jomblo bernama Olip, Doni, Bimo, dan Agus sudah ada setidaknya sejak 11-12 tahun lalu dalam versi novel dan film. Ada Olip yang kaku dan hidup dalam fantasi romantika, Doni yang playboy, Bimo yang aneh dan membuat perempuan nyaris selalu menghindar, serta Agus dengan obsesinya terhadap hubungan ideal.

Cerita film Jomblo  versi terbaru dibentuk oleh empat tokoh yang sama. Seperti film versi 2006, Agus (Ge Pamungkas) adalah tokoh utama yang sekaligus menjadi narator dominan. Keempat tokoh termasuk dirinya diperkenalkan dalam bahasa Agus. Kendati tidak selalu konsisten, kita hampir selalu melihat para tokoh dari kacamata Agus.

Tokoh paling pendiam dan terkesan lemah adalah Olip (Deva Mahenra). Dia mengincar satu perempuan bernama Asri (Aurelie Moeremans), yang belum pernah dia ajak ngobrol dan berkenalan dalam tiga tahun terakhir karena dia tak terbiasa dengan interaksi sosial. Doni (Richard Kyle) sebaliknya. Dia begitu mudah mendapat perhatian perempuan tetapi tidak ingin terjerat komitmen supaya dapat 'bertualang' ke sana kemari.

Bimo (Arie Kriting) adalah pemuda berkulit hitam bertingkah aneh, yang sulit mendapat perhatian para perempuan serta selalu gagal dalam mendapatkan pasangan. Sementara Agus, mahasiswa cerdas di jurusan teknik sipil, tiba-tiba melihat sosok pasangan ideal dalam Rita (Natasha Rizki), teman masa kecil yang kebetulan dia temui di kantin.

Film ini punya pengembangan cerita yang lebih kompleks dan seperti kata Hanung, lebih 'adil' bagi para tokoh. Para tokoh, termasuk tiga perempuan Rita, Asri, dan Lani mendapat porsi panggung relatif lebih banyak. Kedalaman karakter tiap tokoh jadi lebih tampak. Meski tidak sangat dalam, tetapi cukup memudahkan penonton dalam memahami cerita berjalan.

Bimo misalnya. Bagi dia, 'perburuan cinta' adalah dunia yang tampak tidak adil. Beberapa usaha dia mungkin berlebihan. Namun ada kalanya tindakan biasa ditanggapi dengan tidak menyenangkan karena pandangan superfisial tertentu, yang dia yakini berpengaruh terhadap penilaian orang atas dirinya.

Pada sisi lain, pendalaman karakter para tokoh menambah warna cerita sehingga film tidak hanya menjadi hiburan ringan menggelitik, tetapi juga menyajikan beberapa poin reflektif yang dapat diurai lebih lanjut. Tak luput ada sejumlah lawakan parodi dan satire yang menyeruak di sela-sela dialog. Nasihat bijak keluar pada saat yang tepat dan tidak terasa sebagai upaya paksa menggurui.

Jika Jomblo  2006 menyorot soal nyali dan sikap ikhlas dalam pengejaran cinta, Jomblo  2017 lebih kentara dalam menyajikan tragedi cinta. Hampir setiap tokoh 'dihukum' oleh hukum aksi-reaksi. Hal-hal mereka lakukan di masa lalu, yang dirasa pahit oleh orang lain, kembali sebagai kado yang isinya tak kalah pahit. Gagasan mereka terhadap perempuan dan hubungan digugat sendiri oleh berbagai kejadian yang mereka hadapi.

Hanung sendiri menyatakan bahwa Jomblo  dibuat ulang, salah satunya demi menebus dosa yang dia lakukan di film sebelumnya, yaitu membiarkan pelaku perselingkuhan terbebas dengan mudah. Upaya ini berhasil tersampaikan dengan jelas dalam cara yang jenaka sekaligus serius. Salah satunya lewat penokohan para perempuan yang lebih kuat.

Rita, Asri, dan juga Lani (Indah Permatasari) memiliki kekuatan dalam bertindak serta menanggapi godaan dari para lelaki. Pengejaran cinta bukan lagi hal yang dapat dikontrol dengan mudah oleh lelaki, seturut pandangan Doni. Bahkan Agus, yang mengejar cinta demi hubungan jangka panjang serius, nyatanya tak berkutik ketika berhadapan dengan para perempuan yang lebih kuat.

Kekonyolan para remaja-dewasa ini diceritakan dalam balutan humor yang asyik. Ada sekian metajokes dan metafora yang seru dan berpengaruh signifikan dalam membawa nuansa keceriaan film. Dominasi Agus sebagai narator membuat lawakan fantasi dapat masuk dan keluar kapan saja dengan cair. Kendati, secara keseluruhan ritme film terkesan kasar, kurang rapi, dan terlalu terburu-buru.

Beberapa momen mungkin familiar. Bisa jadi karena dialami langsung, atau dialami oleh orang-orang yang kita tahu dan kenal. Pengalaman ini tentu berbeda-beda bagi setiap penonton. Namun bagi saya pribadi, satu dua momen dalam cerita film membuat saya bertanya-tanya lagi, apa mungkin dulu saya pernah bertindak seperti itu.

Jomblo  menyajikan banyak lapisan cerita yang sangat menarik disimak. Film ini bisa jadi tontonan ringan penuh hiburan, tetapi pada satu sisi juga punya lapis-lapis kedalaman yang sangat dekat kehidupan sehari-hari kalangan masyarakat terdidik perkotaan.




(DEV)

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

1 day Ago

Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari m…

BERITA LAINNYA