Kak Seto Sebut Naura & Genk Juara Film Edukatif

Purba Wirastama    •    23 November 2017 23:03 WIB
naura
Kak Seto Sebut Naura & Genk Juara Film Edukatif
Kak Seto (Foto: Antara/Refina Safri )

Jakarta: Seto Mulyadi, Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, tak sepakat dengan anggapan bahwa film Naura & Genk Juara melecehkan agama. Menurut Seto, film produksi KG Studio dan Creative & Co ini justru menjawab keluhan soal ketiadaan film atau lagu edukatif bagi anak.

"Film itu menjawab kerinduan jutaan anak Indonesia akan film-film edukatif," kata Seto dalam jumpa pers di kawasan Gelora, Jakarta, Kamis 23 November 2017.

Menurut Seto, sisi edukasi dapat terlihat lewat lima aspek isi pendidikan yang ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ada nilai etika, estetika, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), nasionalisme, dan olahraga.

"Saya melihat unsur etika ditanamkan. Sikap rendah hati, mau belajar, berani menghadapi kesulitan, atau melawan ketidakadilan, ditampilkan. Estetika, lagu-lagunya indah sekali. Begitu pulang, (cerita ke) anak saya, dia langsung ingin nonton," ungkap Seto.

Seto juga memuji penggambaran anak-anak yang begitu riang gembira. Menurut dia, koreografi tarian terpadu dengan alam yang indah dan mencerminkan rasa bangga sebagai anak Indonesia. Hal ini juga menunjukkan anak senang bergerak, berolah raga, dan menjelajah alam.

"Itu menjawab isi pendidikan tanpa kesan menggurui. Akting dari para pemain juga bagus, sangat wajar sebagai anak-anak, tidak menor, spontan," ucapnya.

Terkait tudingan bahwa film ini melecehkan agama, Seto memberi catatan. Dia tidak menemukan penggunaan seruan takbir yang tidak tepat atau kata-kata mendiskreditkan. Hanya ada ungkapan spontan 'Astagfirullahalazim', yang dinilai wajar diucapkan saat kaget.

Dia memberi saran supaya film tidak mudah dituduh menghina.

"Mungkin akan seimbang, atau tidak akan menimbulkan pertanyaan, kalau anak-anak baik ini juga mengucapkan Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Mungkin juga ada adegan salat, bahwa mereka tidak melupakan ibadah," ungkap Seto.

"Mungkin itu supaya tidak menimbulkan suatu dugaan-dugaan aneh. Tapi secara keseluruhan, sebagai film anak-anak, ini perlu diapresiasi dengan harapan, akan segera lahir oleh produser-produser lain, film-film anak serupa," tukas Seto.

Sebelumnya, sebuah opini tersebar di media sosial dan grup-grup percakapan ponsel. Opini atas nama Nina Asterly menyebut bahwa film NGJ menghina agama. Opini ini disusul dengan ajakan untuk memboikot film dan petisi untuk menarik film dari peredaran.

Sejumlah cacian terhadap sutradara dan para pemain juga beredar di media sosial, termasuk bagi aktor utamanya, Naura Ayu. Namun, banyak pula yang memberi dukungan.

 


(ELG)