Athirah, Kisah Mendalam Soal Peran Ibu yang Dikemas Ringan dan Menawan

Agustinus Shindu Alpito    •    23 September 2016 19:37 WIB
resensi filmfilm athirah
Athirah, Kisah Mendalam Soal Peran Ibu yang Dikemas Ringan dan Menawan
Adegan Athirah (Foto: MilesFilm)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pujian harus dilayangkan kepada Miles Films atas keberhasilannya menyuguhkan film yang inspiratif, Athirah. Bukan karena film ini mengangkat kisah hidup ibunda Wakil Presiden Jusuf Kalla, tetapi lebih kepada semangat hidup yang ditularkan kepada keluarga Indonesia, khususnya kaum perempuan.

Riri Riza selaku sutradara mengangkat kisah Athirah dari buku dengan judul sama karya Alberthiene Endah. Penekanan karakter Athirah dalam film bukan pada sosoknya sebagai pengusaha sukses, tetapi justri sisi perjuangan dan ketegaran sebagai seorang ibu.

Pahitnya dimadu, mengurus anak, dan sikap suami yang tak menentu, adalah potret yang tidak saja dialami oleh Athirah, tetapi juga oleh banyak perempuan lain. Lepas dari status sosial dan latar belakang mereka.


Adegan Film Athirah (Foto: Dok. Miles Film)

Athirah difigurkan sebagai perempuan yang memiliki kendali atas kehidupannya. Dia mampu memilih apa yang terbaik untuk keluarga, meski itu mengorbankan dirinya sendiri.

Harus diakui, film Athirah menjadi penting di tengah seragamnya film Indonesia yang ada pada saat ini. Film keluarga yang menggali identitas kultural dan membuat kita sejenak merenung betapa penting peran keluarga dalam perkembangan anak terasa lebih urgen untuk masyarakat.

Kesuksesan film Athirah tidak semata pada penekanan sosok Athirah sebagai ibu, tetapi juga pendekatan budaya yang dilakukan Riri Riza. Sepanjang film, kita disuguhi dialog yang kental dialek dan bahasa Bugis Makassar. Tentu dialek yang dipertontonkan tak sedangkal dialek film televisi kebanyakan yang tak natural. Sebaliknya, Cut Mini (sebagai Athirah), Christoffer Nelwan (Jusuf Kalla muda), dan Jajang C Noer (ibunda Athirah) sangat luwes dan natural. Seperti menyadarkan kita bahwa kualitas akting seorang pemeran harus diprioritaskan jika ingin mencapai hasil terbaik dalam sebuah film.

Catatan positif soal dialog tak lepas dari peran Riri dan Salman Aristo yang menangani sendiri penulisan naskah.


Adegan Film Athirah (Foto: Dok. Miles Film)

Mengambil latar waktu era 1960-an, penata kamera Yadi Sugandi sukses merekam dengan apik visual yang enak dilihat sekaligus memukau. Hal itu diperkuat pencahayaan yang mumpuni, sehingga tiap potongan gambar terasa begitu artistik.

Sang sutradara tampak menyadari bahwa film adalah medium yang baik untuk menggabarkan sebuah masa. Salah satu hal menarik soal itu adalah terdapat frame dalam film yang menunjukkan poster promosi film Pedjuang. Film Pedjuang adalah film karya Usmar Ismail yang dirilis pada 1961. Detail seperti ini membuat kesan klasik sangat terasa dalam film.

Saat jumpa pers, Riri mengungkapkan bahwa dirinya ingin menunjukkan bahwa Makassar di era 1960-an adalah kota yang lekat dengan ragam aktivitas seni budaya, pertunjukkan teater dan pemutaran film adalah hal wajar dalam keseharian warga Makassar pada zaman itu.

"Bahkan pernah ada masanya puisi-puisi itu dibacakan dan disiarkan lewat pengeras suara masjid," kata Riri menceritakan kegiatan seni yang melekat di Makassar dulu.

Riri mengakui bahwa film Athirah memiliki tempat tersendiri baginya, tak lain karena dia besar di kawasan Sulawesi Selatan. Sehingga pendekatan kulturan dalam film ini sejalan dengan referensi dan preferensi sang sutradara.

“Seperti keluarga Kalla, saya juga dibesarkan dalam keluarga dari kawasan Sulawesi Selatan di mana ibu memiliki peran domestik yang sangat kuat, dan menunjukkan kasih dalam tindak tanduk, tutur kata, hingga bagaimana menyiapkan berbagai hidangan khas keluarga. Hal ini membuat film Athirah menjadi salah satu film yang paling personal bagi saya, sekaligus saya bisa memperkenalkan berbagai lokasi serta kebudayaan tanah kelahiran saya seperti sarung sutra dan kuliner,” ungkap RIri dalam catatan sutradara yang diterima Metrotvnews.com.


Adegan Film Athirah (Foto: Dok. Miles Film)

Bagi calon penonton, penting rasanya untuk memahami bahwa kisah Athirah bukan ditekankan kepada perjalanan hidup Jusuf Kalla. Meski hal itu secara otomatis diceritakan dalam film. Tetapi ada hal yang jauh lebih luas dari sangkut-paut keluarga Kalla, yaitu pribadi Athirah sendiri yang menyuratkan ketegaran seorang perempuan, terlebih ibu.

Dalam catatan produser yang kami terima, terkuak bahwa penunjukkan Riri sebagai sutradara tidak lepas dari keinginan Jusuf Kalla yang menyadari bahwa latar belakang Riri tepat untuk membesut film ini.

Baca: Mira Lesmana Bawa Athirah ke Festival Film Internasional

“Riri Riza, yang telah memfilmkan begitu banyak cerita dari berbagai pelosok Indonesia, malah belum pernah membuat cerita di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan. Siapa sangka, keluarga Kalla akhirnya menghubungi kami, dan menyampaikan bahwa Bapak Jusuf Kalla berharap Riri yang akan menyutradarai film ini, karena menurutnya, Riri pasti paham betul kehidupan Bugis Makassar yang ada dalam kisah ini,” kata Mira Lesmana.

Film Athirah mulai tayang di bioskop pada 29 September 2016. Sejauh ini, Athirah sudah mendapat jadwal untuk tayang di tiga festival internasional, yaitu Vancouver International Film Festival, Busan International Film Festival, dan Tokyo International Film Festival.

 


(ELG)