Hari Film Nasional 2018

Robert Ronny Keluhkan Aneka Pajak Perfilman dan Ajak Sineas Introspeksi

Purba Wirastama    •    30 Maret 2018 08:12 WIB
hari film nasional 2018
Robert Ronny Keluhkan Aneka Pajak Perfilman dan Ajak Sineas Introspeksi
Robert Ronny (Foto: Medcom/Cecylia)

Jakarta: Produser dan sutradara Robert Ronny mengaku terkejut dengan kenaikan signifikan jumlah penonton film domestik dalam dua tahun belakangan. Kendati begitu, dia menilai perfilman domestik belum menjadi industri besar sehingga aneka pajak perfilman masih sangat berat bagi sineas.

"Dua hingga tiga tahun terakhir ini menarik. (Penonton film domestik) meningkat signifikan. Buat saya yang sudah kerja di sini lebih dari 10 tahun, terkejut," kata Robert kepada Medcom.id saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Menurut Robert, capaian komersial ini memang bagus. Namun secara keseluruhan, perfilman domestik masih punya banyak kekurangan. Salah satunya adalah kebijakan yang berasal dari pihak pemerintah atau regulator mengenai perpajakan.

"Saya merasa bahwa pemerintah kurang memberi kita perhatian terhadap perpajakan soal film. Kita semua di film kena pajak dan pajaknya berlipat. Sewa alat kena pajak, sewa lokasi kena pajak, bayar artis kena pajak, bayar kru kena pajak. Setelah tayang di bioskop, eh kena pajak lagi," tutur Robert.

"Jadi kita benar-benar kena pajak berganda, sementara menurut saya, industri kita belum besar-besar banget," lanjutnya.

Keluhan lain terkait regulasi adalah perizinan lokasi syuting. Robert menemukan bahwa rencana syuting di lokasi yang berhubungan dengan pemerintah itu sulit dilakukan. Misalnya, penggunaan jalan raya untuk proyek film dengan skala produksi besar.

"Kemudahan-kemudahan mengenai infrastruktur film juga masih terbatas. Syuting di lokasi yang berhubungan dengan pemerintah itu masih susah, masih perlu dibantu. Untuk skala film yang besar, misal menutup jalan, itu masih susah. Akhirnya film kita terbatas skala segitu saja. Ya menurut saya, enggak bisa. Dengan penonton yang semakin besar, film yang kita produksi juga harus semakin besar," ungkap Robert.

Introspeksi

Namun di sisi lain, Robert juga mengajak para sineas untuk melakukan introspeksi atas karya masing-masing. Jangan sampai minat penonton film bioskop yang sedang bertumbuh pesat, hancur karena film-film yang dirilis tak layak tonton atau mengecewakan.

"Kita sama-sama tahu, layar bioskop Indonesia enggak banyak, cuma 1500-an, dan film Indonesia setiap tahun 130 tayang bioskop dan yang diproduksi lebih banyak. Kita sebagai sutradara, produser, introspeksi diri. Kalau kita merasa film kita belum cukup bagus, tak punya nilai jual di bioskop, jangan dipaksakan karena ini akan merugikan ekosistem kita semua," ungkap Robert.

Menurut Robert, capaian komersial film-film produksi domestik pernah mengalami titik puncak pada kurun 2006-2007. Waktu itu akumulasi jumlah penonton setahun mencapai 50 juta orang, yang mana mengusai 56% market share bioskop Indonesia.

Namun dalam empat tahun, capaian ini langsung turun drastis ke titik terbawah yaitu 11 juta penonton setahun. Lima tahun berikutnya, jumlah penonton film domestik mulai naik perlahan ke angka 35 juta. Terakhir pada tahun lalu, jumlahnya mencapai 42 juta dengan market share sekitar sepertiga. Untuk 2018, jumlahnya diharapkan naik ke angka 50 juta penonton.

"Begitu kepercayaan penonton terhadap film Indonesia hilang, celaka kita. Orang enggak akan nonton film bioskop lagi. Karena misalnya gini, harga tiket sama, kenapa enggak nonton Black Panther yang sudah pasti menghibur, dibanding film Indonesia yang bisa bagus bisa enggak," tutur Robert.

"Menurut saya, kita harus sama-sama menjaga ekosistem perfilman Indonesia dengan membuat film yang lebih serius, budget lebih benar, cerita lebih benar, pengerjaan lebih benar. Sekarang penonton lebih percaya, enggak ada salahnya kita investasi lebih banyak terhadap budget film Indonesia. Toh risiko film Indonesia lebih kecil karena kesempatan bikin film box office lebih besar lagi," imbuhnya.

Setelah menulis dan mengarahkan dua film panjang pertama, Robert lebih aktif menjadi produser atau ko-produser film cerita panjang. Sebagian berada di bawah naungan rumah produksi miliknya, Legacy Pictures. Terakhir, dia menulis dan mengarahkan film adaptasi Critical Eleven produksi Starvision dan Legacy Pictures. Istrinya, Catherine Keng adalah Corporate Secretary Cinema 21.

 


(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

3 days Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA