Amoroso Katamsi, Dari Deklamasi Sampai Film G30S/PKI

Purba Wirastama    •    17 April 2018 14:14 WIB
obituariartis meninggalamoroso katamsi
Amoroso Katamsi, Dari Deklamasi Sampai Film G30S/PKI
Amoroso Katamsi (Foto: Dok. MI/Sumaryanto)

Jakarta: Kendati bermain di banyak judul film, Amoroso Katamsi lebih dikenal publik sebagai pemeran Soeharto lewat film berdurasi 271 menit garapan Arifin C Noer, Pengkhianatan G30S/PKI. Jika menilik kembali perjalanan karier seni perannya, kita tahu bahwa pada awalnya Amoroso gemar berdeklamasi puisi.

Amoroso, seperti ditulis Tempo.co dalam laporan khusus September 2012, berkisah dirinya berminat dan menapaki dunia seni sejak SMP. Dia suka puisi dan berdeklamasi. Prestasinya dalam deklamasi bahkan membuat Amoroso tak perlu mengikuti ujian kenaikan kelas semasa SMA.

Saat mengikuti salah satu lomba deklamasi puisi, dia menang. Jurinya adalah Willybrordus Surendra Bhawana Rendra yang saat itu sedang aktif mengelola kelompok teater di Yogyakarta. WS Rendra pun mengajak Amoroso bergabung ke kelompok ini.

Teater tersebut bernama Studi Grup Drama Yogyakarta. Menurut catatan biografi Rendra dalam buku Pacar Seorang Seniman, Rendra mendirikan grup ini pada 1960 bersama sejumlah kawan, termasuk Arifin, Parto Tegal, dan Deddy Sutomo, karena tidak mendapat ruang ekspresi untuk menulis. Waktu itu banyak media massa dibredel.

Dari situ, kedekatan Amoroso dengan seni peran dan Arifin berlanjut. Menurut Republika dan sejumlah artikel lepas, mereka juga sama-sama aktif di Teater Muslim pimpinan Mochtar Hadi di Surakarta. Arifin pindah ke Jakarta pada akhir 1960-an dan mendirikan Teater Kecil di Taman Ismail Marzuki.

Amoroso turut bergabung ke Teater Kecil saat pindah ke Jakarta. Dia juga pernah menjadi sutradara pementasan pada 1997. Kepindahan Amoroso ke Jakarta, menurut laporan Jawa Pos September 2017, adalah dalam rangka dinas Angkatan Laut dan sekolah spesialisasi psikiatri di Universitas Indonesia.

Pada awal 1980-an, sebuah proyek film ambisius dari Pusat Produksi Film Negara (PPFN) membuat nama Amoroso dikenal publik lebih luas hingga kini. Direktur utama PPFN Gufran Dwipayana mengajak Arifin untuk membuat film tentang G30S/PKI, yang kemudian diberi judul seperti yang kita kenal kini.

Proyek film ini dikerjakan dalam dua tahun dan melibatkan 120-an pemain dan 10 ribu figuran. Tiga tokoh sentral adalah Presiden Soekarno, Mayor Jenderal Soeharto, Kolonel Untung, dan Ketua PKI DN Aidit. Menurut Amoroso, awalnya Arifin menjadikan dia sebagai pemeran cadangan Soeharto.

"Amoroso, kamu saya calonkan untuk peran Soeharto, tetapi sebagai cadangan. Saya mau cari dulu yang lebih persis wajahnya," kata Amoroso dalam wawancara khusus kepada Jawa Pos, mengulang ucapan Arifin.

Namun tiga bulan sebelum jadwal produksi, belum ada kandidat utama pemeran Soeharto. Akhirnya Arifin mengajukan nama Amoroso ke Dwipayana. Setelah disetujui, baru Amoroso memulai proses tiga bulan mempelajari segala hal tentang Soeharto, yang saat itu telah menjadi Presiden.

Amoroso mempelajari Soeharto dari dokumenter, buku, dan media massa. Merasa tak cukup, dia minta izin untuk mengikuti kegiatan Soeharto selama sehari. Permintaan dikabulkan. Dengan pakaian dinas tentara, Amoroso menemani Soeharto saat ada kunjungan dari Australia di peternakan Tapos, Bogor.

Lewat pengalaman sehari ini, Amoroso mendalami karakter, cara bicara, cara jalan, dan perubahan mimik muka. Dia menemukan bahwa Soeharto sama seperti yang dibayangkan. Namun sosok RI-1 ini ternyata tidak cukup ekspresif.

"Dia itu tidak terlalu ekspresif. Kalau secara emosional, ketemu orang, ya senyum dan terima kasih. Segitu saja. Jadi tidak hangat," kata Amoroso kepada Tempo.co.

Performa akting Amoroso sebagai Soeharto rupanya mendapat pengakuan publik, selain karena film ini menjadi agenda wajib tahunan sejak 1984 hingga 1998. Dia kerap dipanggil dengan "Pak Harto" oleh orang-orang. Menurut Amoroso, Siti Hartinah, istri Soeharto, memuji aktingnya.

"Bu Tien malah dia bilang, 'kamu kok bisa ya, merankan itu, kan kamu belum lama kenal'," ucapnya.

Katalog Film Indonesia mencatat Amoroso tak hanya bermain di film ini. Sebelumnya, dia telah bermain dalam beberapa film garapan banyak sutradara, termasuk Arifin. Ada Cinta Abadi (1976), Menanti Kelahiran (1976), Cinta Putih (1977), Terminal Cinta (1977), Buah Terlarang (1979), Putri Seorang Jendral (1981), Serangan Fajar (1981), dan Pasukan Berani Mati (1982).

Sebagai Soeharto, dia juga bermain di film sekuel Djakarta 1966 garapan Arifin dan Di Balik 98 (2015) garapan Lukman Sardi. Dia juga pernah menjadi produser bersama Budiyati Abiyoga untuk film drama Surat untuk Bidadari (1992) garapan penulis-sutradara Garin Nugroho.

Pada 2015, Amoroso membuktikan bahwa dalam usia 77 dirinya mampu tampil di panggung teater. Koran Tempo menuliskan bahwa dia lancar membawakan monolog karya Putu Wijaya di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Keluarga Seniman

Pada Januari 1964, menurut catatan tokoh.id, Amoroso menikah dengan Pranawengrum, penyanyi seriosa yang aktif menapaki jalur seni sejak sekolah menengah. Rum, panggilan Pranawengrum, adalah penyanyi yang didaulat sebagai Ibu Seriosa Indonesia karena beragam prestasinya di dunia tarik suara.

Dari pernikahan tersebut, Amoroso dan Rum mempunyai tiga anak yang semuanya manapaki jalur seni musik, mewarisi sang ibu. Ada Ratna Arumsari, Doddy Keswara, dan Ratna "Aning" Kusumaningrum. Ratna, lulusan sarjana biologi UI, adalah pianis yang sering tampil dalam berbagai konser dan lomba musik seriosa. Dia juga mengiringi ibunya dalam penampilan seriosa. Dia juga aktif mengajar piano.

Doddy memilih jalur musik rock, kendati juga mengajar olah vokal. Doddy pernah menjadi vokalis grup Voodoo pada 1980-an dan Elpamas pada era 1990-an. Lalu Aning adalah lulusan jurusan fisika UI yang kemudian juga menekuni dunia vokal seriosa.

Rum tutup usia pada Senin, 4 September 2006 karena gagal ginjal dan komplikasi ke paru-paru dan jantung. Dia sempat menjalani perawatan selama satu bulan sebelum meninggal dalam usia 62 tahun.

Hari ini, Amoroso menyusul kepergian istrinya dalam usia 79. Menurut anak-anaknya, Amoroso telah berjuang lima tahun menghadapi kompilkasi penyakit ginjal, diabetes, serta kanker usus dan tulang. Kondisi ini membuat Amoroso tak sanggup menopang berat badannya.

Kondisi paling parah adalah saat dia terjatuh pada Januari 2018. Dia mendapatkan perawatan medis secara intensif. Kondisinya terus menurun hingga harus dibantu oleh ventilator. Jenazah Amoroso akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Wakaf Pondok Labu pada Selasa, 17 April 2018 pukul 13.00 WIB.


 


(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

1 week Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA