Aprofi Mengajak Masyarakat Menilai Film Naura dan Genk Juara dengan Jernih

Agustinus Shindu Alpito    •    24 November 2017 13:37 WIB
film indonesianaura
Aprofi Mengajak Masyarakat Menilai Film Naura dan Genk Juara dengan Jernih
Ketua Aprofi Fauzan Zidni (Foto: dok. aprofi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Asosiasi Produser Indonesia (Aprofi) angkat bicara terkait kontroversi film Naura dan Genk Juara. Seperti diberitakan sebelumnya, film ini dituduh mendiskreditkan Islam oleh dokter Nina Asterly melalui tokoh antagonis dalam film.

Polemik berlanjut dengan adanya petisi yang diinisiasi oleh Windi Ningsih dan ditandatangani hampir 50 ribu orang untuk menghentikan film anak yang dianggap melecehkan agama.

Namun, Aprofi mengambil sikap dengan menyatakan bahwa film Naura dan Genk Juara merupakan film yang baik untuk anak, memiliki nilai edukasi untuk mencintai alam, ilmu pengetahuan dan tentang persahabatan.

“Saya cuma berharap pihak yang ramai membuat ini menjadi kontroversi untuk menonton kembali filmnya, lalu menilai dengan pikiran jernih. Jangan apa-apa langsung dituduhkan penistaan agama. Tolonglah bisa lebih bijak dengan memisahkan antar karya seorang filmmaker dengan pilihan politik yang pernah dia pilih,” kata Fauzan Zidni, Ketua Umum Aprofi.

Sutradara Film Naura & Genk Juara: Distorsinya Terlalu Jauh

Senada dengan Fauzan, Ketua Umum Indonesia Film Director Club, Lasja F. Susatyo menyatakan bahwa film tersebut memiliki konten positif yang baik untuk ditonton anak-anak.

“Film Naura adalah film yang sehat untuk tontonan anak-anak. Sudah lamaIndonesia tidak memiliki film musical, dan Eugene sudah membuat karya yangsangat baik. Harus kita apresiasi,” kata Lasja F. Susatyo.

“Marilah kita tetap menjadi bangsa yang toleran dan tidak menjadi bangsa pemarah. Penggunaan dalil penistaan agama untuk hal yang paling innocent seperti tontonan anak malah menyuburkan bibit kebencian dari rasa curiga sejak usia dini. Ibu yang bijak adalah kunci dari pendidikan toleransi di negara ini,” imbuh Lasja.

Lembaga Sensor Film (LSF) selaku pihak yang mengontrol isi dari film yang beredar di bioskop-bioskop pun telah mengeluarkan pernyataan bahwa film Naura dan Genk Juara tidak mengandung hal-hal yang dituduhkan.

“Sebagai film setting Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim, bisa-bisa saja penjahatnya beragama Islam. Sama wajarnya jika dalam negara yang mayoritas penduduknya non muslim penjahat non muslim. (Seperti dalam film Home Alone misalnya),” tegas LSF melalui pernyataan resminya.



 


(ELG)