Ifa Isfansyah Sempat Meragukan Naskah Film Turah karena Terlalu Serius

Purba Wirastama    •    10 Agustus 2017 08:00 WIB
film indonesia
Ifa Isfansyah Sempat Meragukan Naskah Film Turah karena Terlalu Serius
Pemain film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo, dan Ifa Isfansyah (Foto: metrotvnews/purba)

Metrotvnews.com, Jakarta: Ifa Isfansyah menjadi produser untuk film Turah garapan penulis dan sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Ketika draf naskah selesai dibuat pada 2014, Ifa mengaku terkejut karena cerita terlalu serius untuk ukuran Wisnu yang dia kenal humoris.

"Ini di luar yang saya bayangkan. Walaupun dia (Wisnu) terlihat serius, dia ini lucu sekali. Pada saat menjadi astrada untuk saya, dia selalu bisa menjadi karakter yang bisa dibilang sangat membangun suasana," kata Ifa dalam sesi diskusi film Turah di kawasan Menteng, Jakarta, belum lama ini.

Dalam pengandaian Ifa, Wisnu akan menulis cerita komedi tentang Tegal yang lucu dan ringan. Wisnu sendiri adalah pemuda Tegal kelahiran 1983 dan menempuh studi film di Institut Kesenian Jakarta. Karena merasa nuansa cerita tak sesuai dengan pembawaan Wisnu, Ifa menyuruh dia menulis naskah lain.

"Bukan saya enggak suka, tapi saya ingin bikin film yang jujur. Enggak usah sok-sokan mau sosial, sok mau ngomongin apa. Ini bukan kamu," kata Ifa mengulang obrolan dia dengan Wisnu.

Menurut Ifa, Wisnu lantas menulis sejumlah naskah lain yang lebih ceria dan lucu. Salah satunya soal warung Tegal (warteg). Namun naskah justru tak kunjung rampung. Dari situ keraguan Ifa soal Wisnu memudar.

"Dua tahun setelah itu (saya) baru sadar, ternyata isumu Turah ini ya. Ternyata di balik kemasan dia yang sangat kocak, dia sangat serius sekali, sensitif sekali, ketika ngomong tentang Tegal. Tegal enggak kayak begitu (sekadar lucu-lucuan)," cerita Ifa.

Film fiksi Turah memotret kehidupan di suatu kampung bernama Tirang di Tegal, yang berisi orang-orang kalah dalam persaingan hidup, diliputi rasa pesimis, serta takut terhadap juragan kaya raya bernama Darso (Yono Daryono). Pakel (Rudi Iteng), sarjana penjilat di lingkaran Darso membuat warga semakin bermental kerdil.

Penggalan kisah mereka diceritakan antara lain lewat perspektif dua kawan bernama Jadag (Slamet Ambari) dan Turah (Ubaidilah). Peristiwa-peristiwa terjadi, mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan.

"(Saya) percaya bahwa ini yang ingin dia sampaikan, bukan karena ikut-ikutan atau sok-sokan. Akhirnya kita syuting," imbuh Ifa.

Turah menjadi debut film panjang Wisnu sebagai sutradara. Film pendeknya, Tobong (2006), masuk ke Festival Film Indonesia dalam kategori film pendek bersama dengan film garapan Ifa, Harap Tenang Ada Ujian! (2006). Film Ifa menang dan waktu itu mereka belum berkawan.

Baru beberapa tahun berikutnya mereka bekerja bersama. Misalnya di film Sang Penari (2011), Rumah dan Musim Hujan (2012), dan Pendekar Tongkat Emas (2014). Naskah Turah ditulis Wisnu di sela syuting Pendekar Tongkat Emas.

Dialog di film Turah menggunakan bahasa Jawa dengan dialek Tegal. Produksi dilakukan di bawah naungan FourColours Films. Para aktor yang terlibat adalah pemain teater senior Tegal dan pernah bermain di beberapa film pendek setempat, termasuk film pendek Wisnu.

Saat ini Turah sedang masuk dalam program pemutaran dan kompetisi beberapa festival film. Untuk bioskop Indonesia, Turah dijadwalkan tayang mulai Rabu 16 Agustus 2017.




 


(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA