Wonder Woman, Kehangatan dalam Dunia Kelam DC

Purba Wirastama    •    03 Juni 2017 17:25 WIB
review film
Wonder Woman, Kehangatan dalam Dunia Kelam DC
Wonder Woman (Foto: warnerbros)

Metrotvnews.com, Jakarta: Wonder Woman sukses sebagai sebuah film perkenalan tokoh utama dalam rangkaian cerita besar. Film ini menyorot asal-usul salah satu pahlawan super komik Amerika ber-alter ego Diana Prince, lewat potongan-potongan kisah masa lalu bernuansa kelam dan dingin, tetapi juga punya kehangatan tertentu. Dapat dikatakan, Wonder Woman adalah film terbaik dalam waralaba DC Extended Universe.

Plot film diawali di museum Louvre, Perancis, tempat Diana Prince (Gal Gadot) abad 21 bekerja. Pegawai Wayne Enterprise mengantarkan koper kecil kepada Diana, yang ternyata berisi foto monokrom tercetak di selembar kaca. Tampak dirinya berdiri bersama empat pria, masing-masing berseragam dan bersenjata perang.

Foto ini sudah muncul sebelumnya dalam adegan penutup Dawn of Justice (2016). Waktu itu Bruce Wayne (Ben Affleck), yang terkejut melihat foto bertahun 1918, bertanya kepada Diana lewat surel, nona sebenarnya siapa? Cerita dalam film Wonder Woman menjadi jawaban Diana kepada penonton. Setelah adegan pembuka, dua jam berikutnya adalah rangkaian kenangan masa lalu Diana, terkait perjumpaan dengan keempat orang dalam foto, terutama Steve Trevor (Chris Pine).

Kilas balik cukup efektif dan mudah diikuti. Konteks situasi tempat asal Diana dipahami lewat pengalaman Diana kecil (Lilly Aspell) melihat Antiope bibinya (Robin Wright) melatih para prajurit perempuan muda di pulau berlanskap surga Themyscira. Hasrat bertarung sudah ada sejak kecil. Namun Ratu Hippolyta (Connie Nielsen) ibunya melarang Diana dilatih, sekaligus tidak cukup jujur soal asal-usul Diana sebagai satu-satunya anak kecil di sana.



Setelah Diana berlatih diam-diam, lalu di tempat lebih terbuka, Hippolyta akhirnya mengizinkan. Dalam salah satu latihan, setelah secara tak sengaja Diana menyadari salah satu kemampuan supernya, sebuah pesawat jatuh di perairan Themyscira. Dia menyelamatkan sang pilot, Steve, yang kemudian menjadi tiketnya keluar dari kedamaian rumah, menuju medan perang manusia yang belum dia kenal.

Dia lantas berkawan dengan sekretaris pribadi Steve (Lucy Davis) serta tiga orang lain dalam foto, yaitu seorang agen rahasia lain (Said Taghmaoui), penembak jitu yang pemabuk (Ewen Bremner), dan penyelundup orang di perbatasan (Eugene Brave Rock). Dia juga bertemu juru bicara kabinet perang Inggris (David Thewlis), serta duo antagonis jendral perang Jerman Ludendorff (Danny Huston) dan Doctor Poison (Elena Anaya).

Kendati film bercerita tentang jasa Diana dalam salah satu sudut arena perang dunia pertama di Belgia tahun 1918, perjalanan hubungan sentimental dengan Steve tampak menjadi sorotan utama. Hubungan ini mewakili relasinya pertama kali dengan manusia, yang dia anggap semua baik tetapi menjadi jahat karena ulah dewa perang Ares.

Lewat Steve pula, Diana perlahan menyadari sikapnya yang naif dan impulsif. Dia belajar memahami dunia manusia yang selalu berada di titik pergumulan baik buruk. Beberapa dialog canggung dengan Steve menjadi hiburan yang agak aneh. Terlihat betapa sutradara Patty Jenkins berhati-hati dalam mengeksplorasi hubungan mereka berdua.

Secara keseluruhan, Wonder Woman berhasil menyuguhkan berbagai momen, yang meninggalkan kesan kuat bagi Diana pada saat awal dia bertahan hidup dalam dunia yang asing. Persoalan kesetaraan gender, kepercayaan, harapan, serta ambisi pribadi Diana, dibungkus dalam kisah cinta dan perang, yang berjalan beriringan. Kenangan ini menjadi pintu bagi penonton, untuk mengenal sekilas sosok Wonder Woman.

Elemen twist cerita dikemas dengan efisien, meskipun tidak terlalu mengejutkan. Setidaknya jauh lebih baik daripada film-film waralaba DC Extended Universe sebelumnya. Sebagai catatan, trilogi Dark Knight tidak termasuk dalam waralaba ini.



Raungan musik cello Tina Guo terasa menyatu dengan kehadiran Diana sebagai Wonder Woman. Musik tema karya Hans Zimmer dan Junkie XL ini mudah diingat dan membantu penonton, untuk mengantisipasi saat-saat Diana beraksi. Leitmotif ini sudah diperkenalkan dalam film Dawn of Justice.

Efek visual punya beberapa kekurangan yang tampak cukup jelas. Wajah Diana juga tampak terlampau bersih dan cerah setelah seharian berperang. Namun tak masalah. Barangkali kulitnya kebal kotoran.

Sebagai sebuah kisah perkenalan, film ini mencapai tujuannya dengan baik. Penonton dapat mengenal Diana yang tangguh, berani, empatik, hangat, bersemangat, dan di sisi lain naif serta punya kegamangan tertentu. Beruntunglah Wonder Woman. Patty dan segenap tim produksi relatif lebih leluasa karena proyek ini merupakan kali pertama karakter superhero perempuan komik DC diadaptasi ke film layar lebar.

Sejauh ini, Wonder Woman adalah film terbaik DCEU. Film keempat ini berhasil memberi kesegaran dalam rangkaian film waralaba sejak Man of Steel. Dalam nuansa kelam khas DC, Wonder Woman mampu membawa komedi ringan dan kehangatan tertentu. Terima kasih pada Gal Gadot dan api yang menyala di sela-sela perang.


 


(ELG)