Beauty and the Beast Tuai Kontroversi

   •    12 Maret 2017 08:46 WIB
beauty and the beast
Beauty and the Beast Tuai Kontroversi
(Foto: Disney UK)

Metrotvnews.com, Jakarta: Bella ialah putri raja. Ia memiliki wajah yang cantik jelita. Banyak laki-laki menyukainya dan tergila-gila padanya. Akan tetapi, Bella tidak tertarik terhadap semua laki-laki tersebut. Ia masih berusaha mencari cinta sejatinya.

Suatu hari Bella bertemu dengan Beast yang membuat Bella sempat ketakutan dan berusaha menghindar, tapi lama-kelamaan Bella menjadi teman akrab dan entah kenapa Bella mulai menyukai pria tersebut. Hal tersebut membuat pertentangan yang membuat kedua orangtua Bella tidak setuju dan menolak hubungan mereka karena cinta Bella yang tulus tersebut Beast si buruk rupa berubah menjadi pria yang sangat tampan dan gagah dan berubah nama menjadi Gaston (Luke Evans). Cinta mereka pun menjadi kisah teromantis dalam sejarah pada waktu itu.

Beast merupakan sesosok pangeran tampan yang terkena kutukan akibat kesombongannya lantaran kutukan tersebut. Ia berubah menjadi makhluk yang menakutkan. Dalam perjalanan waktu akhirnya Bella jatuh cinta terhadap makhluk itu. Seperti apa kisah selanjutnya? Akankah Beast dapat berubah kembali menjadi seperti semula?

Sekilas tidak ada yang mencolok dari film ini. Kisah tentang putri cantik yang tengah berusaha mencari cinta sejati. Tentu saja cerita tentang cinta. Film Beauty and the Beast menceritakan tentang seorang wanita cantik yang menaruh atau jatuh hati kepada manusia yang memiliki rupa yang buruk. Wanita tersebut bernama Bella (Emma Watson) dan pria yang memiliki rupa buruk tersebut yang diperankan oleh Dan Stevens. Namun yang jadi soalan adalah ketika film itu memasukkan muatan LGBT.

Film Beauty and the Beast merupakan film bergenre Fantasy, Musical, dan Romance. Film ini akan diarahkan sutradara Bill Condon dan penulis skenarionya Evan Spiliotopoulos, Stephen Chbosky dan juga Linda Woolverton.

Film ini akan dibintangi Emma Watson, Dan Stevens, Luke Evans, Emma Thompson, Gugu Mbatha-Raw, Audra Mcdonald, dan masih banyak lagi. Film ini akan dinaungi rumah produksi Walt Disney Pictures dan Mandeville Film yang direncanakan tayang pada 17 Maret 2017.

Sutradara Bill Condon mengungkap film ini akan menampilkan karakter gay. Bill Condon mengatakan ia bersama tim telah mengembangkan rasa kagum yang dimiliki sidekick LeFou (diperankan Josh Gad) kepada Gaston.

"Ini seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia memiliki perasaan ini," terang Bill Condon dalam wawancara dengan majalah Attitude, seperti dilansir The Guardian.

Kontroversial

Terang saja, film ini langsung membuat kontroversi di dunia. Rusia berniat melarang pemutaran film itu, tapi batal dan hanya menerapkan pembatasan usia. Bioskop di Alabama menegaskan tak akan menayangkannya.

Beberapa komunitas juga meminta masyarakat, terutama anak-anak, tidak menonton film itu karena berupaya menyatakan gay itu natural. Namun, hal itu tidak terjadi di Indonesia. Lembaga Sensor Film (LSF) Indonesia meloloskan film Beauty and the Beast yang disebut-sebut mengandung konten gay. Film itu dikenai pembatasan usia. Hanya penonton berusia 13 tahun ke atas yang bisa menyaksikannya di bioskop, 17 Maret mendatang. "Film itu telah disensor dan lulus untuk 13 tahun ke atas," terang Ketua LSF Ahmad Yani Basuki.

Sementara itu, ketentuan umur diberikan karena jalan cerita film ini membutuhkan pemahaman dan dianggap baru bisa dicerna anak berusia 13 tahun ke atas.

Seperti diketahui, sutradara Beauty and the Beast Bill Condon baru mengungkapkan ada karakter dan adegan gay di filmnya, antara LeFou yang diperankan Josh Gad dengan Gaston (Luke Evans). LeFou merupakan kaki tangan Gaston yang begitu mengagumi bosnya.

"Setelah dicermati film itu tidak ada adegan gay, homoseksual atau adegan lesbi. LGBT dalam adegannya enggak ada. Tidak seperti yang diramaikan itu," tegas Yani.

Lulus sensor

Menurut Yani, film Disney itu sebenarnya sudah lulus sensor sejak 16 Februari lalu. Namun, karena ramai diperbincangkan lantaran mengandung konten gay, film itu kembali melewati proses pleno untuk menentukan status film tersebut. Hasilnya, film The Beauty and The Beast tetap saja lulus. Sebab film itu ternyata lebih kepada film dongeng.

"Film itu lebih pada film dongeng tentang manusia-manusia yang terkutuk dulu. Kemudian ada proses-proses ditengah-tengah tatanan pergaulan di tengah masyarakat saling tolong-menolong, saling tahu, saling bantu. Akhirnya bisa saling menyelamatkan dari orang-orang terkutuk. Dongengnya semacam itulah kira-kira," tegas Yani. "Yang pasti berdasarkan kriteria dan ketentuan penyensoran, film itu patut atau layak untuk dipublikasikan dengan klasifikasi untuk umur 13 tahun ke atas," terang Yani.

LSF mengklasifikasikan film menjadi 4. Pertama untuk semua umur, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas, dan 21 tahun ke atas. Klasifikasi itu didasarkan pada kondisi psikologis penonton sehingga mampu mencerna dan mengikuti film tersebut.

Meski demikian, LSF saat ini menyosialisasikan budaya sensor mandiri. Artinya, masyarakat harus sadar batasan usia yang boleh ditonton anak-anak. Kontrol orangtua menjadi hal utama dalam budaya sensor mandiri. Orangtua wajib mengingatkan anak untuk menonton tayangan yang sesuai dengan usianya. Ketika film berklasifikasi 13 tahun ke atas, anak di bawah usia tersebut tidak elok untuk ikut menonton.

"Jadi kami berharap, masyarakat ketika menonton film betul-betul dilihat film itu untuk usia berapa," pungkas Yani.

LSF sudah melakukan tugas untuk menyensor dan memilah film berdasarkan klasifikasi usia, sekarang giliran masyarakat dan orangtua untuk menepati klasifikasi tersebut. Sebab bagaimanapun, tontonan yang tidak sesuai juga berakibat tidak baik bagi penontonnya. Apalagi itu menyangkut anak-anak. (Abdillah M Marzuqi/ Media Indonesia)
(DEV)

Menantang Gitar Kelas Dunia

Menantang Gitar Kelas Dunia

16 hours Ago

Tiba-tiba Buddy Blaze kunjungi Sidoarjo, Jawa Timur. Bukan ingin melihat 'lumpur lapindo…

BERITA LAINNYA