Perjuangan Chanee Dalam Kalaweit Wildlife Rescue Season II

Deny Irwanto    •    02 Maret 2016 21:06 WIB
binatang langka
Perjuangan Chanee Dalam Kalaweit Wildlife Rescue Season II
Sekjen Eagle Institute Indonesia Bambang Hamid (kiri) bersama Chanee (tengah) dan Sutradara Kalaweit Wildlife Rescue Season II, Jastis Arimba (kanan) saat merilis Wildlife Rescue Season II di salah satu hotel di Jakarta Barat, Rabu (2/3/2016). Foto: MTVN/

Metrotvnews.com, Jakarta: Eagle Institute Indonesia merilis program Kalaweit Wildlife Rescue season II yang akan tayang dalam waktu dekat. Dalam season ini, Eagle Institute Indonesia akan menampilkan kegiatan aktivis lingkungan sekaligus pemilik Yayasan Kalaweit, Aurelien Brule atau yang akrab disapa Chanee.

Kisah ini akan disajikan berseri dalam 13 episode, setiap episode akan tayang selama 30 menit. Tim Eagle Institute Indonesia merekam sepak terjang Chanee saat menyelamatkan banyak binatang liar yang terancam hidupnya. Tergambar upaya Chanee saat menangkap, memelihara dan mengembalikan kembali binatang ke alam liar.

"Sebenarnya mungkin lebih lengkap lagi, karena tidak hanya di lingkungan Kalaweit itu sendiri, tetapi di season kedua ini kita keluar dari lingkungan Kalaweit, ke tempat lain. Kalaweit itu di Kalimantan dan Sumatera, kitapun ke Mentawai dan lokasi lain," kata Chanee, saat merilis film dokumenter Kalaweit Wildlife Rescue season II, di salah satu hotel di Jakarta Barat, Rabu (2/3/2016).

Sejak 1997, pria asal Prancis ini sudah mendedikasikan diri untuk menyelamatkan binatang liar di Kalimantan dan Sumatera. Awalnya Channe hanya fokus menyelamatkan primata jenis Owa, salah satu binatang endemik di hutan Indonesia, namun upaya penyelamatan bertambah ke binatang jenis lain, mulai dari buaya, ular, kelelawar dan beruang.


Chanee didampingi keluarganya saat merilis film dokumenter Kalaweit Wildlife Rescue season II, di salah satu hotel di Jakarta Barat, Rabu (2/3/2016). Foto: MTVN/ Deny Irwanto.

Ayah dua anak ini mengaku, saat menyelamatkan binatang dalam kondisi yang terancam bisa memberikan kesenangan tersendiri. Terlebih saat melepas binatang kembali ke alam, hal itu sangat berkesan bagi dirinya.

"Yang saya ingat adalah setiap kali berhasil menyelamatkan satwa ini atau buka kandang. Di season dua ini ada beberapa satwa yang akhirnya kembali ke alam, perasaan ini ada kamera atau tidak, buat saya, itu yang terpenting dan itu yang berhasil direkam teman-teman Eagle. Tentu itu perasaan senang, ujung dari perjuangan saya dan tim saya adalah pada saat kandangnya terbuka," ungkap Chanee.

Sementara itu, Sekjen Eagle Institute Indonesia Bambang Hamid mengatakan, program ini diharapkan bisa menjadi inspirasi dan bisa menggerakan masyarakat untuk menyelamatkan flora maupun fauna yang ada di Indonesia.

"Program Kalaweit Wildlife Rescue season II ini mudah-mudahan bisa menjadi salah satu tontonan yang menghibur dan bermanfaat. Yang penting bahwa betapa kita harus tahu kondisi alam kita saat ini," kata Hamid.

Dalam kesempatan yang sama, Sutradara Kalaweit Wildlife Rescue Season II, Jastis Arimba, memaparkan, program ini ingin menyajikan kejujuran dari upaya dan dedikasi serta konservasi dari program Kalaweit.

Jastis menjelaskan, dalam season ini, tim Eagle Institute Indonesia berupaya mengemas program lebih nyata dalam upaya evakuasi yang dilakukan Kalaweit. Namun, bukan hanya keberhasilan yang ditampilkan, tapi  season ini juga merekam kegagalan yang pernah dialami Chanee.

"Bahwa upaya konservasi yang dilakukan Chanee itu tidak serta merta memaparkan succes story nya saja, tapi kita juga memotret bagian dari persoalan-persoalan, tantangan, bahkan kegagalan-kegagalan yang memang sebagai manusia kita harus alami, tapi pada bagian itu dia tidak menyerah dan dia terus melakukan perjuangan tersebut," jelas Jastis.
 


(DEN)