Segmentasi Film Daerah Bisa Jadi Pasar Baru

Cecylia Rura    •    03 Maret 2018 11:19 WIB
film indonesia
Segmentasi Film Daerah Bisa Jadi Pasar Baru
Robert Ronny (Foto: medcom/cecylia)

Jakarta: Jejaring industri perfilman di Indonesia makin menguat. Proyek-proyek film independen dan nasional seolah semakin beradu dalam memproduksi karya film.

Menariknya, beberapa pasar industri film Indonesia mulai tampak berkembang di luar Jakarta. Sebut saja Yogyakarta dan Makassar. Kedua daerah ini tengah ramai diperbincangkan dengan munculnya beberapa filmmaker dan sineas indie.

Hal ini menimbulkan sebuah gagasan, mengapa harus di Jakarta untuk dapat memproduksi sebuah karya atau film yang bagus? Sebutan lain untuk ini adalah ide Jakarta sentris yang menjadi titik terakhir berkumpulnya para sineas profesional.

Produser Robert Ronny memberikan pendapatnya tentang ini. Menurutnya, menarik jika membahas soal Jakarta sentris yang acap kali menjadi salah satu gagasan beberapa sineas muda agar bisa berkembang. Padahal, sebenarnya ada market baru yang bisa diciptakan menjadi sebuah peluang.

Sebagai contoh konkrit, Robert pernah menggarap film Kartini yang mengangkat tema daerah, tetapi dikemas dalam skala nasional. Hasilnya, jumlah penonton di pulau Jawa justru tidak sesuai dengan yang diharapkan.

"Berkaca dari pengalaman film yang pernah saya produseri. Sekali lagi saya enggak mau kasih contoh yang saya enggak tahu. Film Kartini. Waktu itu saya optimis bahwa ini film pertama dengan skala nasional. (Kartini) Besar dan lahir di Jepara, tapi saya lihat sosok Kartini ini adalah (sebagai) pahlawan nasional."

"Kenyataannya enggak. Film Kartini susah diterima di luar pulau Jawa, target tidak tercapai. Penonton satu juta yang kita harapkan, tapi cuma dapat 550 ribu. Ini menarik, karena ternyata memang difusi (pengaruh pranata) budaya Indonesia ternyata lebih besar dari yang saya duga. Banyak sekali film di daerah dari Medan dan Sumatera, tapi sama sekali enggak jalan di Jawa," kata sutradara film Critical Eleven itu kepada Medcom.id di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Fenomena ini dilihat oleh Robert sebagai peluang yang bagus bagi para sineas di daerah untuk lebih mendekatkan diri dengan budayanya dan menjadikannya sebagai pasar baru di industri perfilman. Sehingga, tidak melulu dipaksakan film khas daerah ditayangkan secara nasional atau sebaliknya. Namun, lebih kepada menyasar selera penonton di daerah dan nasional.

Kendati demikia perencanaan biaya menjadi fokus utama yang tak bisa dilepas.

"Fenomena seperti film dari Makassar tidak laku. Atau seperti film Yowisben yang hanya laku di Jawa Timur dan Jawa Tengah, makin menarik, sih. Jadi, ada peluang untuk memang membuat film dengan target market tertentu saja. Tentu dengan budget dan target market itu ya. Menurut saya ini akan memperkaya khazanah perfilman Indonesia," jelas Robert.

Robert menambahkan, film skala nasional memang harus berbahasa Indonesia agar tidak menitikberatkan pada budaya tertentu. "Dan mengalienasi (mengasingkan) budaya lain. Itu pengalaman saya sendiri," lanjutnya.

"Misalnya saya bikin film Kartini full bahasa Indonesia. Hasilnya akan berbeda dengan kita memakai bahasa Jawa. Itu pengalaman buat saya."

"Bukan berarti tidak bisa memproduksi film dengan khas daerah tertentu, tetapi desain produksinya," tutup Robert.

 


(ELG)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

2 weeks Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA