Joko Anwar Enggan Tanggapi Isu Film G30S/PKI Versi Baru

Purba Wirastama    •    21 September 2017 16:00 WIB
isu g30s
Joko Anwar Enggan Tanggapi Isu Film G30S/PKI Versi Baru
(Foto:Metrotvnews.com/Dwi Ayu R)

Metrotvnews.com, Jakarta: Isu soal kemungkinan produksi ulang film Pengkhianatan G30S/PKI  mencuat setelah Presiden Joko Widodo mengusulkan perlu ada versi baru untuk generasi milenial. Banyak pihak memberi dukungan, tetapi tak sedikit juga yang tak mau ambil pusing dengan menolak berkomentar, termasuk sutradara dan penulis Joko Anwar. 

 
"No comment," kata Joko ketika ditanya sejumlah wartawan di Epicentrum XXI Jakarta, Rabu (20/9/2017).
 
Joko mulai aktif di dunia produksi film sejak 2003 dengan menulis naskah untuk film Arisan!  garapan sutradara Nia Dinata. Janji Joni  (2005), yang naskahnya juga dia tulis, menjadi debut karya dia sebagai sutradara film panjang. Setelah itu dia menulis dan menyutradarai sejumlah film panjang seperti Pintu Terlarang  (2009) dan Pengabdi Setan  (2017). 
 
Selain membuat film, Joko juga cukup aktif di media sosial Twitter. Dalam kesempatan tertentu, dia kadang menyampaikan pandangan dan kritiknya terkait masalah politik dan sosial. Lewat film A Copy of My Mind  (2015), dia tampak menyelipkan gagasan soal permasalahan Jakarta. Dalam Stip & Pensil  (2017), yang naskahnya dia tulis, terselip juga pandangan mengenai isu penggusuran dan rumah susun di Jakarta. 

(Baca: Presiden: Menonton Film Tentang Sejarah Penting)
 
Katakanlah, ada produser yang mengajak Joko menjadi sutradara film G30S/PKI versi baru, apa Joko mau?
 
"Mau tahu komentar gue apa? Hidup gue aja udah ribet!" ujar Joko tertawa.
 
Film G30S/PKI (1984)  garapan Arifin C Noer mulai ramai dibicarakan lagi setelah Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan akan memutar ulang film tersebut bagi kalangan TNI dengan alasan pelurusan sejarah. Penayangan film ini sempat menjadi agenda tahunan pemerintah sebelum era Presiden Suharto runtuh.
 
Menurut Presiden Jokowi, menonton film sejarah penting bagi pembelajaran. Namun Presiden mengusulkan agar lebih baik ada film versi baru supaya dapat dipahami oleh generasi sekarang. Hal ini dinyatakan Presiden di sela acara peresmian Jembatan Gantung Mangunsuko, Magelang, Senin lalu (18/9/2017).
 
"Ya menonton film apalagi mengenai sejarah itu penting. Tapi untuk anak-anak milenial yang sekarang, tentu saja mestinya dibuatkan lagi film yang bisa masuk ke mereka. Biar mereka paham bahaya komunisme, biar tahu juga mengenai PKI," ucap Presiden.

(DEV)