Diskusi Film

Potret Keluarga dalam Perfilman Indonesia Mulai Ditinggalkan

Cecylia Rura    •    18 Maret 2018 13:10 WIB
film indonesia
Potret Keluarga dalam Perfilman Indonesia Mulai Ditinggalkan
(kiri-kanan) Matius, Katinka dan Ifan dalam sesi diskusi Film Indonesia Mencatat di kineforum Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu, 17 Maret 2018. (Foto: Medcom.id/Cecylia Rura).

Jakarta: Kineforum mengadakan diskusi forum dengan tema Film Indonesia Mencatat. Dalam diskusi ini, juru program Kinosaurus Alexander Matius bersama koordinator program Kineforum Ifan A. Ismail mengundang peneliti film Asia Tenggara Katinka van Heeren.

Menurut kacamat Ifan, film-film Indonesia kini tengah mengalami banyak perubahan. Salah satunya yang paling mencolok soal unsur elegi keluarga dalam sebuah film.

"Kita di Indonesia secara family besar, hidup berkumpul dengan saudara. Film di tahun 2000-an ada kehilangan semacam itu, tidak seriuh dulu. Seperti di The Photograph dan Banyu Biru. Semacam ada kerinduan," kata Ifan dalam diskusi terbuka di kineforum Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 17 Maret 2018.

"Tapi mereka masih berusaha mencari. Semakin ke sini, semakin normal melihat single parent. Seperti di film Posesif, Lala dan ayah. Itu menjadi sesuatu yang normal dan tidak digambarkan sebagai hal buruk juga. Hubungan Lala dan ayah juga naik turun," lanjutnya.

Katinka menambahkan, perfilman Indonesia juga kerap tak memiliki topik cerita yang kuat. Sehingga banyak tema yang bercampur aduk.

"Di Indonesia susah bikin cerita utuh. Susah, (pesan) dalam film ini mau dibawa ke mana. Enggak ada konsentrasi," papar peneliti asal Belanda tersebut.

"Di sini seperti Snapchat, nanti dikumpulkan jadi satu untuk film, tapi sebenarnya mau dibawa ke mana?" katanya lagi.

Fenomena ini memang terjadi dalam beberapa film Indonesia belakangan. Tidak mengeherankan memang. Sebab, ada banyak tuntutan yang diberikan tim produksi film yang menyeimbangkan pendapatan sekaligus kualitas. Meski, ada beberapa sineas yang memiliki target khusus, tak melulu soal balik modal.

"Betul dikatakan kecenderungan film Indonesia mau membicarakan banyak hal dalam satu topik besar yang celakanya tidak nyambung dan bergeser. Itu sering kali terjadi dalam film lama. Saat itu meledak di pasaran, tapi tidak bisa kita lihat hari ini. Arsip film di Indonesia juga buruk," timpal Matius.

Cuplikan elegi keluarga merupakan sisipan adegan kesedihan atau konflik dalam keluarga. Ini cukup menjadi perhatian khusus dalam diskusi lantaran sudah dianggap biasa dan tak memiliki nilai.

Acara diskusi Film Indonesia Mencatat merupakan bagian dari acara kineforum yang bekerjasama dengan Kinosaurus dan organisasi boemboe menyambut Bulan Film Nasional.

Mulai tanggal 9-29 Maret nanti program Sejarah adalah Sekarang ke-9 menawarkan 20 film panjang, 2 kompilasi film pendek dan 2 sesi khusus diskusi, salah satunya Film Indonesia Mencatat.

 


(DEV)