Happy Death Day, Hidup dan Mati Berulang Kali

Purba Wirastama    •    23 Oktober 2017 18:46 WIB
resensi film
Happy Death Day, Hidup dan Mati Berulang Kali
Jessica Rothe dalam Happy Death Day (universal pictures)

Happy Death Day
Sutradara: Christopher Landon
Naskah: Scott Lobdell
Produser: Jason Blum (Blumhouse)
Distributor: Universal Pictures
Rilis Indonesia: 18 October 2017

Setelah mabuk karena minuman, Tree (Jessica Rothe) terbangun di kamar asrama Carter (Israel Broussard), teman sekelasnya. Hari itu, 18 September, menjadi hari ulang tahun Tree yang akan selalu berulang hingga sekian hari berikutnya. Tanpa dia ketahui, dan penonton tidak ketahui, Tree selalu terbangun pada hari yang sama di tempat sama dan bertemu dengan orang-orang yang sama.


Happy Death Day (universal pictures)

Ide utama film horor fantasi thriller ini tak jauh beda dengan Groundhog Day, film tahun 1993 yang juga disebutkan di film. Seseorang terjebak dalam pusaran waktu dan mengulang hari yang sama, yang sekaligus menjadi perjalanan dia mengenali lebih dalam dirinya sendiri. Ada juga fiksi ilmiah Edge of Tomorrow (2014), tentang seorang prajurit yang mengulangi hari sama setiap kali terbunuh dalam perang melawan alien.

Dalam Happy Death Day, ide ini dibungkus dalam cerita mengenai remaja sekolah asrama yang bandel, egosentris, dan mudah menyepelekan orang lain. Tanggal 18/9 pertama dijalani dengan  tindakan semau sendiri, termasuk mengabaikan ajakan ayahnya (Jason Bayle) untuk bertemu dan merayakan ulang tahun. Malam itu, ketika datang ke pesta, Tree dibunuh oleh seseorang berjaket hitam dan bertopeng.

Tree terbangun pada hari 18/9 kedua dengan tetap mengingat kejadian sebelumnya. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali. Perlahan dia sadar bahwa dia harus mencari tahu siapa sosok di balik topeng. Siklus berulang 18/9 menjadi petualangan pribadinya untuk menemukan si pembunuh sebelum dia dibunuh lagi untuk kesekaian kali.

Alurnya begitu sederhana dan sekaligus menjadi perjalanan menegangkan. Secara konsisten, perspektif penonton dibatasi pada apa yang diketahui oleh Tree. Penonton mengikuti saat dia hidup, mati, dan secara aneh 'bangkit' lagi. Ada banyak kejutan yang dapat ditemui dalam tiap hari berulang Tree.

Karakter dia beserta latar belakang juga dibuka lapis demi lapis seiring hari berulang. Sejumlah tokoh di sekitar hidupnya sehari-hari turut diperkenalkan satu per satu dalam siklus tersebut. Singkat, tetapi cukup dapat memberi gambaran masalah yang dihadapi Tree, sebagai remaja sekolah asrama yang sudah tak punya ibu.

Ada hal menarik mengenai penokohan Tree. Sebagai perempuan, dia digambarkan lebih kuat dibanding kebanyakan lelaki lain di sekitar dia. Jessica Rothe membawakan karakter ini dengan cukup meyakinkan. Muncul juga sejumlah elemen tambahan seperti penolakan perempuan terhadap gaya hidup anti makanan berlemak demi menjaga bentuk tubuh dan kecantikan.

Bosan terjebak pada hari yang sama, sudah pasti. Namun ada privilegi yang didapat di sini. Tree bisa melihat 18 jam hari itu dengan lebih detail karena dapat diulangi berkali-kali. Pergi ke hari lalu demi meluruskan apa yang disesali adalah fantasi mustahil milik banyak orang.


Jessica Rothe dan Israel Broussard dalam Happy Death Day (Universal Pictures)

Sebagai sebuah kiasan, ide soal perangkap waktu dan pembunuhan dapat menjadi gambaran yang cukup brutal mengenai perjalanan seseorang menemukan kesadaran diri. Sayang, bagian kisah ini kurang tergali secara maksimal.

Ungkapan klasik tersurat 'today is the first day of the rest of your life' sekadar menjadi materi renungan permukaan. Mungkin karena kalimat ini sudah terlalu populer layaknya ungkapan 'experience is the best teacher'. Dibanding tema ini, saya pribadi lebih sibuk menikmati sajian ketegangan untuk menguak siapa sosok pembunuh Tree.

Happy Death Day adalah tontonan horor yang seru dan menegangkan, dengan cerita ringan dan mudah diikuti. Beberapa kejadian komedi, yang menertawakan situasi sosial sekitar Tree, menjadi sentuhan yang cukup menghibur. Film ini menawarkan suatu pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi tidak mungkin dapat dialami manusia.




(DEV)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA