Produser Naura & Genk Juara Hampir Kapok Bikin Film

Purba Wirastama    •    24 November 2017 14:58 WIB
naura
Produser Naura & Genk Juara Hampir Kapok Bikin Film
Pemeran antagonis di film Naura dan Genk Juara (Foto: dok. KG Studio)

Jakarta: Produser Handoko Hendroyono mengaku hampir kapok membuat film setelah tudingan penistaan agama terkait film Naura & Genk Juara menyebar di media sosial dan diterima mentah-mentah oleh sejumlah kalangan. Menurut dia, hal semacam ini dapat merusak industri kreatif.

"Terus terang, tadi (kemarin) pagi saya merenung, kayak ada perasaan kapok," ujar Handoko saat ditemui di kawasan Gelora, Jakarta, Kamis 23 November 2017.

Industri kreatif seperti film dan buku, kata Handoko, penuh dengan energi positif yang sifatnya spontan. Kabar miring tanpa verifikasi dapat berbahaya bagi industri ini, yang notabene sedang berkembang.

"Saya cukup prihatin bahwa ini bisa mengancam industri kita, sebuah kolaborasi dan ruang apresiasi yang sangat indah. Akhirnya, (tudingan menyesatkan) akan bisa mengganggu rasa percaya diri kita," ucap dia.

Sebelumnya, sebuah opini atas nama Nina Asterly tersebar di media sosial dan grup-grup percakapan ponsel. Dia menyebut bahwa film NGJ menghina agama. Opini ini disusul dengan ajakan untuk memboikot film dan petisi untuk menarik film dari peredaran.

Sejumlah cacian terhadap sutradara dan para pemain beredar di media sosial. Sebagian mengaitkan film dengan preferensi partai politik sutradaranya. Aktor utamanya, Naura Ayu, 12, ikut mendapat perundungan di media sosial.

Menurut pihak NGJ, tudingan sesat tersebut sempat membuat bingung guru dan teman-teman sekolah. Salah satuya, begitu opini miring tersebar, guru menunda rencana nonton bareng film bersama anak-anak.

"Saya punya anak, kebetulan seumur dengan Naura. Dia bingung menyikapi ini dan Naura sendiri juga bingung. Saya sangat salut dengan seorang Naura, yang energinya sangat positif, walau dia menghadapi gurunya enggak jadi nonton, atau teman-teman enggak jadi nonton," tutur Handoko.

"Waktu Baldy (ayah Naura) cerita ke saya (soal tekanan di sekolah), saya sangat tersentuh," lanjut Handoko haru.

Amalia Prabowo, produser NGJ dari rumah produksi KG Studio, menyatakan pihak mereka terbuka terhadap segala kritik. Namun dia menyarankan penyebar opini menonton filmnya dulu sebelum menghakimi.

"Dalam film ini, kami menyampaikan agar menghargai perbedaan pendapat dengan santun. Maka mari kita tonton dulu sehingga kita melihat konteksnya. Kami tetap terbuka untuk menerima kritik dan saran dari teman-teman supaya tadi, jangan sampai kapok (para produser membuat film)," ungkap Amalia.

Sejumlah dukungan mengalir bagi film ini, seperti dari Lembaga Sensor Film, Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Asosiasi Produser Film Indonesia, dan Indonesian Film Director Club. Mereka sepakat bahwa tuduhan yang dimaksud tidak benar dan menyebut film ini punya nilai pendidikan bagi anak-anak.

Handoko mengajak publik untuk ikut menjaga iklim positif dalam industri kreatif. Dia khawatir pola perundungan semacam ini menyebar ke bidang lain, seperti buku atau pameran lukisan.

"Saya setuju, tonton dulu, baru kasih pendapat. Kita punya tatanan sosial kuat. Jangan sampai tatanan ini tidak hidup. Industri film ini juga baru, sedang tumbuh dan kita harus sama-sama pelihara," tukas Handoko.


 


(ELG)