Dark Tower, Kisah Kelam dalam Kemasan Ringan

Purba Wirastama    •    28 Agustus 2017 11:36 WIB
resensi film
Dark Tower, Kisah Kelam dalam Kemasan Ringan
(Foto: Columbia Pictures)

The Dark Tower
Sutradara: Nikolaj Arcel
Penulis: Akiva Goldsman, Jeff Pinkner, Anders Thomas Jensen, Nikolaj Arcel
Produser: Akiva Goldsman, Ron Howard, Erica Huggins (Columbia Pictures)
Adaptasi: Novel The Dark Tower, Stephen King
Durasi: 95 menit
Rilis Indonesia: 23 Agustus 2017

Sejak kematian sang ayah, Jake (Tom Taylor) hampir selalu punya mimpi aneh setiap kali tidur. Dia melihat sosok dan rentetan kejadian dari suatu dunia asing, yang lantas dia gambar di lembaran kertas. Jake yakin visi ini merupakan isyarat sesuatu. Namun ibunya (Katheryn Winnick), yang punya kekasih baru, menganggap Jake sangat tertekan dan butuh bantuan psikiater.

Pada satu titik, Jake kukuh mengikuti petunjuk dari gambar sketsa mimpinya. Dia sampai di suatu pintu gaib menuju dimensi dunia yang lain. Rupanya ada dunia-dunia paralel yang saling terhubung. Ada pula dunia tengah, yang di situ berdiri menara gelap poros keseimbangan dunia paralel.

Manusia berbaju hitam, yang kemudian disebut Walter (Matthew McConaughey) ingin meruntuhkan. Roland (Idris Elba), kaum gunslinger terakhir, hendak mencegah. Namun mereka belum pernah benar-benar berduel  karena Walter selalu menghindar. Jake datang dan mengubah permainan. Cerita berlanjut. Ada hambatan. Ada bantuan.

Konflik utama dimunculkan bertahap penggal demi penggal. Perspektif penonton lebih sering mengikuti perspektif Jake, sebagai bocah Bumi yang berusaha memahami situasi dan dunia yang asing.


(Foto: Columbia Pictures)

Ada sejumlah aksi seru ketika dua kubu berseteru. Duet akting Idris dan Matthew sangat menonjol. Mereka menguasai panggung serta karakter masing-masing. Dalam beberapa bagian, dialog mereka terasa lebih dangkal ketimbang ekspresi yang mereka tunjukkan.

Kendati konfliknya sangat serius – prahara rumah tangga, dunia paralel, ancaman kehancuran dunia, monster gaib, cenayang – dan dibalut nuansa kelam serta dialog serius, alur cerita Dark Tower  sebetulnya ringan dan mudah diikuti. Perjalanan cerita terbaca dengan mudah bak dongeng anak. Namun terlalu kelam untuk dianggap demikian. Bagi penonton yang bukan pembaca novel Stephen King, seluk beluk dunia fiksi film mungkin tampak asing dan butuh usaha lebih untuk dapat dipahami.


(Foto: Columbia Pictures)

Ihwal kedalaman tampaknya memang jadi masalah utama pengemasan cerita. Selain ceritanya menjadi terlalu ringan, motif dan emosi para tokoh pun terasa digali kurang dalam. Kisah latar belakang para tokoh penting dengan keluarga atau 'rumah' hanya punya porsi minim. Barangkali hendak efisien, tetapi juga kurang efektif.

Misalnya soal subtema kesendirian yang dilekatkan pada Jake dan Roland. Keduanya adalah petualang solo. Jake mengalami keterasingan di dunia asal dan Roland adalah orang terakhir dari kaumnya. Ketika bertemu, mereka berbagi nasib sebagai orang yang tak punya siapa-siapa. Emosi-emosi ini terasa tipis, padahal tentu punya pengaruh terhadap keputusan tindakan tokoh.

Dark Tower  tetap seru sebagai kisah petualangan atau avontur yang ringan. Unsur-unsur cerita urban, western, dan fantasi melebur ke satu dunia fiksi yang bergerak dengan cair dan punya potensi untuk dikembangkan lebih lebar lagi.


(DEV)

Menjaga Nyawa Clubeighties

Menjaga Nyawa Clubeighties

4 days Ago

Menjaga nyawa grup musik selama sembilan belas tahun bukan perkara mudah. Terlebih, dengan diti…

BERITA LAINNYA