Festival JAFF 2017 Suguhkan Film dari 22 Negara Asia

Purba Wirastama    •    26 November 2017 15:05 WIB
film
Festival JAFF 2017 Suguhkan Film dari 22 Negara Asia
Artwork JAFF 2017 (dok JAFF)

Yogyakarta: Jogja-NETPAC Asian Film Festival akan kembali digelar untuk kali ke-12 pada pekan pertama Desember 2017 di Yogyakarta. Festival ini menghadirkan sedikitnya 113 film pendek dan panjang dari 22 negara di Asia.

Nyai  garapan Garin Nugroho akan menjadi film pembuka dan diputar dua kali pada 1 dan 6 Desember. Pop Aye  garapan Kirsten Tan dari Singapura diputar sebagai film penutup pada Jumat 8 Desember.

Dalam program Asian Feature, sembilan film berkompetisi untuk meraih Golden Hanoman Award dan Silver Hanoman Award. Dua film berasal dari Indonesia, yaitu Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak  dan Sekala Niskala. Tujuh lainnya berasal dari Filipina, Kirgizstan, Thailand, India, Tiongkok, dan Kazakhstan.

Program kompetisi Light of Asia menyajikan 10 film pendek, baik fiksi, dokumenter, maupun animasi. Tiga film dari Indonesia, yaitu fiksi Madonna  (Sinung Winahyoko), animasi Roda Pantura (Hizkia Subiyantoro), dan dokumenter Welu de Fasli  (Ishak Iskandar & Wahyu Utami).

Lalu ada program kompetisi baru khusus film domestik, yang dinamai Indonesia Screen Awards. Sebelumnya program ini bernama The Faces of Indonesian Cinema dan hanya berupa pemutaran non kompetisi. Menurut produser eksekutif JAFF Ifa Isyansyah, mereka hendak memberi apresiasi lebih bagi sinema lokal tempat festival ini tumbuh.

Ada 10 film dalam Screen Awards. Dua di antaranya diputar perdana dalam festival ini, yaitu Satu Hari Nanti  (Salman Aristo) dan The Gift (Hanung Bramantyo). Delapan lain adalah Aisyah Biarkan Kami Bersaudara, Bukaan 8, Cek Toko Sebelah, Galih & Ratna, My Generation, Night Bus, Posesif, serta Negeri Dongeng.

Sebanyak 21 film dokumenter, panjang dan pendek, diputar dalam program Asian Docs. Bulu Mata  dan The Unseen Words, dua dokumenter terbaik FFI 2017, diputar dalam program ini.

Selain itu ada Balada Bala Sinema  (Yuda Kurniawan), Semua Sudah Dimaafkan sebab Kita Pernah Bahagia (Paul Agusta), dan Musume  (Ima Puspita Sari). Ada juga Oh Brother Octopus  (Florian Kunert) yang menyorot kisah suku nomaden di lautan Indonesia .

Film-film Joko Anwar masuk dalam program khusus Fokus on Joko Anwar. Selama 12 tahun, Joko telah membuat enam film fiksi panjang, mulai dari Janji Joni  hingga terakhir Pengabi Setan.

Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran  (Ismail Basbeth) dan Tengkorak  (Yusron Fuadi) diputar dalam program Special Gala. Mobil Bekas, film hasil patungan publik, telah tayang perdana di Festival Film Busan 2017. Tengkorak, fiksi ilmiah garapan sekolah vokasi UGM,  diputar perdana di festival ini.

Lalu ada tujuh film Indonesia yang telah tayang dalam program layar tancap di Taman Tebing Breksi Prambanan. Beberapa antara lain My Stupid Boss  (Upi), Warkop DKI Reborn Part 1  (Anggy Umbara), dan Munggah Kaji  (Rivandy Adi Kuswara).

Selain film-film kurasi, JAFF juga akan memutar dua film pendek hasil lokakarya Film Leadership Incubator (FLY) atas kerja sama dengan Busan Film Commission. FLY merupakan lokakarya tingkat Asia Tenggara yang digelar setiap tahun sejak 2012. Ada juga kerja sama pemutaran dengan Festival Film Pendek Busan dan Studio Ghibli.


Workshop Produksi Film Asia Tenggara akan Digelar di Yogyakarta

Selain penayangan film, JAFF mengadakan diskusi publik dengan sejumlah tema, seperti soal penonton film dan pendanaan film Indonesia. Program JAFF berbayar dan tidak berbayar. Informasi rinci dapat disimak dalam laman resmi jaff-filmfest.org.




(DEV)