Falcon Klaim Telah Beli Segala Hak atas Film-film Benyamin

Purba Wirastama    •    20 April 2018 18:27 WIB
kontroversi film Indonesia
Falcon Klaim Telah Beli Segala Hak atas Film-film Benyamin
Lydia Wongsonegoro konsultan hukum Falcon Pictures (Foto: Medcom.id/Purba Wirastama)

Jakarta: Falcon Pictures selaku rumah produksi dan distributor film Benyamin Biang Kerok versi 2018, mengklaim telah membeli segala hak cipta atas sejumlah film Benyamin Sueb terdahulu dari pemegang hak cipta terakhir. Gugatan hukum dari penulis skenario versi 1972 Syamsul Fuad disebut salah alamat.

"Penulis skenario tahun 1972 belum tentu pencipta (film). Pencipta adalah yang membuat film itu menjadi satu kesatuan, ya produsernya itu," kata konsultan hukum Falcon, Lydia Wongsonegoro, dalam jumpa pers di kantor Falcon di Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat sore, 20 April 2018.

Menurut Lydia, tidak semua judul film Benyamin Sueb dimiliki Falcon dan Max Pictures. Hanya sebagian saja, termasuk film-film yang sudah dibuat ulang ke dalam versi baru yaitu Benyamin Biang Kerok dan Benyamin Biang Kerok Beruntung.

"Kami sudah membeli dari penciptanya. Sekian orang beli dan kami pembeli terakhir dan kami sudah mendaftarkan hal tersebut di Departemen Hukum dan HAM (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual). Kemudian tiba-tiba Pak Fuad mengaku dirinya sebagai pencipta. Kami enggak bisa terima itu," lanjut dia.

Lydia menambahkan, mereka telah meminta lisensi dari banyak pihak, termasuk keluarga Benyamin Sueb atas karakter dan gerak-gerik Benyamin di dalam film. Dia juga menegaskan bahwa cerita film versi 2018 dan 1972 sama sekali berbeda.

"Kami ada macam-macam (pihak yang memberi izin). Dari pemilik hak cipta itu sendiri, pemilik filmnya, semua hak komersial atas film Benyamin, itu kami beli. Kemudian atas karakter dan gesture, kami izin dari keluarga Benyamin. Semua ada suratnya lengkap. Satu lagi, cerita Benyamin (Biang Kerok) yang  kemarin itu, sama sekali tidak sama dengan yang ditulis Pak Fuad," tutur Lydia.

"Kalau Pak Fuad merasa memiliki hak, dia cari dong siapa yang bayar dia pada tahun 1972. Keluarga Benyamin kek, atau siapa. Yang jelas, kami (Falcon) punya surat menyurat lengkap, sudah terdaftar, ada (catatan) jual beli jelas. Semua turunan, mau beli apa saja, kami sudah ini (punya)," imbuhnya.

Benyamin Biang Kerok versi 1972 garapan sutradara Nawi Ismail diedarkan oleh NV Harapan Film. Menurut Lydia, hak atas film ini telah berpindah ke beberapa pihak sebelum akhirnya dibeli Falcon. Namun dia enggan menyebutkan pihak mana yang menjadi pemilik terakhir.

"Sekarang kami sedang di pengadilan. Enggak etis kalau saya ungkapkan di sini," ucapnya.

Sebelumnya, Syamsul menuding Falcon dan Max serta produser HB Naveen dan Ody Mulya Hidayat telah melakukan pelanggaran hak cipta lewat proyek Benyamin Biang Kerok dan Benyamin Biang Kerok Beruntung versi terbaru. Sebagai pemilik ide cerita asli dan penulis naskah, dia mengklaim sebagai pemilik hak cipta atas judul dan karakter yang diperankan Benyamin.

Dalam gugatan hukum yang diajukan ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, Syamsul menuntut ganti rugi senilai total Rp11 miliar dan royalti Rp1.000 per tiket bioskop terjual. Perkara ini telah masuk ke tahap pemberian jawaban dari pihak tergugat yang diwakili kuasa hukum Atep Kuswara.

Sementara itu, Ody Mulya dan Max lewat kuasa hukum HRM Bagiono telah menggugat balik Syamsul di pengadilan yang sama. Ody menuding gugatan hukum Syamsul membuat citra film Benyamin Biang Kerok versi terbaru menjadi buruk dan tidak begitu laris di bioskop. Syamsul dituntut membayar ganti rugi senilai Rp50 miliar.

 
(ASA)