Persekusi Karya Film Jadi Sorotan Kongres Asosiasi Sutradara IFDC 2018

Purba Wirastama    •    28 Februari 2018 10:19 WIB
film
Persekusi Karya Film Jadi Sorotan Kongres Asosiasi Sutradara IFDC 2018
(Foto: Shutterstock)

Jakarta: Asosiasi sutradara Indonesian Film Directors Club (IFDC) telah menggelar kongres kedua mereka di kawasan Kemang Jakarta pada Selasa, 27 Februari 2018. Salah satu poin yang menjadi pembahasan adalah persekusi atau penganiayaan terhadap sutradara terkait karya filmnya.

Riri Riza, sutradara anggota IFDC yang menjadi salah satu pengarah kongres, merangkum sejumlah topik pembahasan dalam acara penutup yang digelar terbuka. Hadir pula Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Maman Wijaya, dan Ketua Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf.

"Yang dibicarakan, muncul perlindungan bagi profesi ini, misal dari hubungan bisnis antara sutradara dengan studio produksi, hubungan sutradara sebagai profesi dengan pemerintah dalam hal kebijakan, dan juga bagaimana posisi beberapa rekan yang mulai mendapat banyak tekanan dari berbagai dinamika masyarakat," kata Riri dalam pidato singkat.

"Misalnya kemarin, ada beberapa sutradara mengalami tekanan terkait dengan karya filmnya. Apa yang biasa kita sebut dengan persekusi juga terjadi pada profesi sutradara film," lanjut Riri.

Menurut catatan Medcom.id, pada 2017 sedikitnya terjadi dua kasus film kontroversial, yaitu tudingan miring terhadap Bid'ah Cinta dan Naura & Genk Juara. Sejumlah obrolan di media sosial menuding film Bid'ah Cinta sebagai pemecah belah agama dan Naura & Genk Juara sebagai film penista agama. Sutradara dan pemain film Naura bahkan dirundung di media sosial, yang berdampak ke kehidupan sosial sehari-hari.

Riri juga menyebut mereka hendak memperkuat asosiasi profesi ini, salah satunya dengan perbaikan jaringan komunikasi ke masyarakat lewat situs web dan kegiatan lain. Satu hal lain yang menjadi topik penting adalah perbaikan kualitas profesi sutradara Indonesia.

"Hal paling penting dan paling banyak diskusinya, bagaimana kita bisa memperbaiki kualitas profesi sutradara Indonesia, khususnya yang jadi anggota IFDC," ucap Riri.

IFDC adalah asosiasi bentukan para sutradara yang telah mulai setidaknya pada 2012. Pada 2013, mereka menggelar kongres pertama dan memilih Lasja Fauzia Susatyo sebagai ketua. Tahun ini, pemungutan suara mayoritas anggota IFDC memilih Ifa Isfansyah sebagai ketua baru.

Saat ini IFDC memiliki 52 anggota dengan beragam usia. Beberapa nama antara lain Garin Nugroho, Ody Harahap, Kamila Andini, Anggy Umbara, dan Nia Dinata. Selain kongres tiap lima tahun, IFDC juga mengadakan ajang penghargaan IFDC Awards.

 


(DEV)