Pertama Kali, Arab Saudi akan Bergabung ke Festival Film Cannes

Purba Wirastama    •    11 April 2018 17:28 WIB
festival film cannes
Pertama Kali, Arab Saudi akan Bergabung ke Festival Film Cannes
Ilustrasi (unsplash & pixabay)

Riyadh: Revolusi Arab Saudi di bidang film semakin memantapkan langkah. Untuk pertama kalinya, negara monarki Islam ini akan bergabung ke Cannes Film Festival lewat badan baru mereka, Saudi Film Council.

Kabar ini dilaporkan pertama oleh The Hollywood Reporter. Sembilan hari sebelum pembukaan bioskop pertama di Riyadh pada 18 April 2018, Saudi Film Council mengumumkan mereka akan ikut Festival Film Cannes tahun ini lewat paviliun khusus dan sembilan film pendek.

Bioskop Pertama Arab Saudi Dibuka 18 April

Saudi Film Council dibentuk pada Maret oleh Jenderal Otoritas Kebudyaan (General Culture Authority). Badan perfilman Arab akan punya satu paviliun khusus di Marche du Film atau forum film di Cannes untuk mempromosikan diri. Badan ini juga akan menggelar beberapa diskusi terkait jejaring industri film antara delegasi dan sineas Arab.

Sembilan film pendek karya sineas Arab akan diputar dalam sesi Short Film Corner selama dua hari pada 14-15 Mei. Festival akan digelar selama 12 hari pada 8-19 Mei.

"Kerajaan menantikan kehadiran pertamanya di festival ini, merayakan dan mendukung keberagaman talenta dan kemungkinan dalam industri film Saudi. Arab Saudi memulai pengembangan industri yang dinamis dan berkelanjutan, yang mendukung dan mendorong semua bagian dalam siklus perfilman, dan menawarkan berbagai lokasi luar biasa untuk dijelajahi sineas dunia," kata menteri kebudayaan dan direktur General Culture Authority, Awwad Alawwad, dikutip dari The Hollywood Reporter.

Pada Desember 2017, otoritas Arab Saudi melakukan langkah revolusioner dengan mencabut larangan keberadaan bioskop yang telah berjalan selama 35 tahun. Upaya ini ditempuh demi menjadikan negara lebih terbuka dan moderat.

Pada era 1980-an, bioskop dilarang di Arab karena dianggap mengancam identitas agama dan budaya negara. Dalam kurun 2005-2015, Raja Abdullah mulai melakukan sejumlah reformasi atas aturan-aturan konservatif.

Pada 2015, Raja Salman naik takhta. Putranya, Pangeran Mohammed, mendorong diversifikasi ekonomi dan pengurangan ketergantungan minyak lewat Visi Arab Saudi 2030. Salah satu program kebijakan ini adalah pengembangan sektor perfilman.

Tiga Dekade Dilarang, Bioskop akan Dibuka Kembali di Arab Saudi



 


(ELG)

Seringai Belum Selesai

Seringai Belum Selesai

2 days Ago

Seringai sudah mengumpulkan lebih dari cukup apa yang dicita-citakan band bawah tanah. Mereka s…

BERITA LAINNYA