Wish Upon, Horor Maut Rata-rata

Purba Wirastama    •    29 Juli 2017 20:36 WIB
review film
Wish Upon, Horor Maut Rata-rata
Cuplikan adegan Wish Upon (dok Prima Cinema Multimedia)

Metrotvnews.com, Jakarta: Clara (Joey King) adalah remaja SMA dari keluarga menengah bawah di suatu kota di AS. Ayahnya (Ryan Phillipe) bekerja dengan mengumpulkan barang bekas untuk dijual dan didaur ulang. Ibunya (Ellisabeth Rohm) telah meninggal gantung diri tanpa alasan jelas sewaktu Clara masih kecil.

Karena situasi ekonomi dan pekerjaan sang ayah, dia sering dirundung di sekolah. Namun beruntung Clara masih memiliki dua sahabat, June (Shannon Purser) dan Meredith (Sydney Park). Ada juga Ryan, murid lelaki (Ki Hong Lee) yang bersimpati padanya.

Suatu hari, Clara mendapat hadiah berupa kotak musik misterius yang tidak bisa dibuka. Pada bagian luar kotak, ada tulisan beraksara Mandarin yang menyebut bahwa kotak tersebut dapat mengabulkan tujuh permintaan dari sang pemilik. Dari sinilah bagian horor kisah film Wish Upon dimulai.

Iseng mencoba, Clara mengajukan permintaan pertama, yang ternyata segera terwujud pada hari berikutnya. Dia gembira, kotak tersebut bukan sekadar mainan. Tak peduli betapa ganjil situasi yang dia hadapi, Clara menganggap masalah hidupnya bisa diatasi satu persatu.


Joey King dalam Wish Upon (dok Prima Cinema Multimedia)

Namun pada saat bersamaan, ada nyawa makhluk di sekitar Clara yang direnggut. Hingga titik tertentu, dia belum menyadari dampak buruk atas anugerah instan ini. Namun sebagai penonton, sejak insiden terjadi dan bahkan sebelumnya, kita sudah tahu ke mana cerita tersebut akan berjalan. Kekuatan gaib di balik kotak musik kuno meminta tumbal darah.

Nyaris seluruh ketegangan horor film ini dibangun oleh perbedaan tersebut. Mata penonton dituntun lewat perspektif orang ketiga yang berada di hampir setiap lokasi ketika sejumlah peristiwa penting terjadi. Kita tahu ancaman maut yang mengintai setiap tokoh, tetapi justru tidak mereka sadari. Ada antisipasi yang membuat kita menebak-nebak apa mereka akan mati sekarang atau nanti.

Penonton film-film Final Destination tentu akan segera sadar bahwa garis besar ceritanya sangat mirip. Harus diakui, cerita film garapan sutradara John Leonetti dan penulis Barbara Marshall ini tidak terlalu segar. Akhir cerita juga tidak cukup mengejutkan.

Namun satu hal yang sedikit membedakan adalah percampuran unsur gaib dan sedikit fiksi ilmiah. Kotak musik Clara mampu mengabulkan permohonan apapun bak dewa pengatur dunia ruang waktu makhluk hidup. Film ini juga menahan diri untuk tidak menampakkan sosok penguasa di balik kotak musik. Seakan semua terjadi secara wajar dan kebetulan.

Ada berbagai petunjuk jelas mengenai siapa saja tokoh yang akhirnya akan mati. Rasa penasaran yang tersisa adalah soal kapan. Apakah sekarang atau nanti. Suatu kuasa gaib menuntun para tokoh pada sekian kebetulan yang penuh resiko maut. Kebetulan yang berasal dari aktivitas wajar sehari-hari. Tak ada yang dapat menghindar dari takdir.

Lalu soal korban, rasanya tidak cukup penting siapa saja dan bagaimana urutannya. Setan pencabut nyawa yang tidak berwujud, terkesan memilih tumbal nyawa secara acak. Sebagian terkesan dipilih hanya agar tiap tahap permintaan Clara selaras dengan perjalanan cerita film.


Cuplikan adegan Wish Upon (dok Prima Cinema Multimedia)

Sejumlah pertanyaan gugatan dapat diajukan ke pilihan-pilihan tindakan Clara sebagai tokoh sentral. Mengapa tidak sedari awal begitu. Namun tujuh permintaan tampaknya dimaksudkan sebagai tahap kesadaran dia sebagai manusia dengan banyak keinginan egois, tak peduli apapun dampaknya bagi orang lain.

Film ini sepertinya memang tidak berusaha untuk menyimpan kejutan mencengangkan, tetapi sekadar membangkitkan rasa waswas karena penonton sudah tahu insiden kematian apa yang akan terjadi. Alur cerita ringan dan dapat dipahami dengan jelas, kendati beberapa hal cenderung stereotipikal.

Selain menggali sisi kelam manusia jika diberi kuasa berlebih atas nasib, Wish Upon juga dapat menjadi pengingat bahwa kelalaian minor manusia dapat berujung pada maut. Misalnya, tidak memasang regulator gas kompor dengan tepat, atau tidak sengaja menjatuhkan potongan sabun padat yang licin di lantai kamar mandi, yang kemudian tidak sengaja terinjak ketika melangkah.

Sutradara: John R Leonetti
Penulis naskah: Barbara Marshall
Produser: Sherryl Clark (Busted Shark)
Durasi: 90 menit
Rilis Indonesia: Jumat 28 Juli 2017





(ELG)