Garin Nugroho Senang Syuting di Lokasi Angker, Kenapa?

Agustinus Shindu Alpito    •    22 Agustus 2016 18:03 WIB
garin nugroho
Garin Nugroho Senang Syuting di Lokasi Angker, Kenapa?
Garin Nugroho (Foto:MI/Panca Syurkani)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sutradara Garin Nugroho telah menyelesaikan film horor berjudul Setan Jawa. Film bisu dengan visual hitam-putih itu mengambil latar di Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah.

Dalam jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (22/8/2016), Garin menjelaskan bahwa dirinya tidak lepas dari pengalaman mistik sepanjang hidupnya.

"Ayah saya bekerja sebagai penerbit buku. Salah satu buku yang diterbitkan adalah novel horor sensual. Sehingga dari kelas 3 SD, kisah-kisah horor sudah ada di kepala saya," kata Garin.

Dalam mengeksekusi Setan Jawa, Garin sengaja memilih tempat yang dianggap angker.

"Lokasi syuting di Yogyakarta dan Solo. Ada beberapa tempat sengaja dipilih karena memang dianggap mewakili era lama (kolonialisme). Ada lokasi syuting Setan Jawa itu sudah dipakai berkali-kali untuk lokasi uji nyali. Semakin angker, semakin saya senang," ucap Garin.

Garin membeberkan beberapa kali pengalamannya dalam mengapresiasi tradisi lokal ketika membuat film. Tak jarang pengalaman itu dianggapnya sebagai sesuatu yang lucu.

"Saya pernah waktu syuting di Solo, ada dukun yang bilang ke saya agar segera menyerahkan uang untuk membeli sesaji. Lalu saya berikan uang. Tapi ternyata uang itu justru dibakar. Saya bingung, lalu saya tanya ke dukun itu. Kata dukun itu, karena saya telat memberikan sesaji, uangnya dibakar biar yang di Atas yang membeli sendiri sesajinya berupa ayam," kata Garin.

Lain lagi dengan pengalaman yang didapat Garin ketika syuting di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Di sana, Garin melakukan ritual membaca hati hewan babi.

"Saya satu minggu belajar membaca hati babi. Ketika semua kepala adat berkumpul, babi disembelih dan hatinya dioper ke kepala adat untuk dibaca. Waktu sampai giliran saya, saya pura-pura mengangguk-angguk tanda mengerti arti dari goresan di hati babi. Sulit sekali memang membaca goresan-goresan pada hati babi itu," ujarnya.

Garin melanjutkan bertutur tentang pengalamannya. Kali ini, ketika membuat film bersama sutradara Riri Riza. Keduanya diminta oleh warga setempat untuk datang ke rumah kiai. Tanpa berpikir panjang, Garin dan Riri menyambangi rumah kiai tersebut. Ternyata yang dimaksud adalah kuburan yang dianggap sakral dan disebut "kiai." Uniknya, kuburan tersebut memang berbentuk rumah, sehingga dari luar Garin dan Riri mengira kiai yang dimaksud adalah manusia.

Apa yang dilakukan Garin adalah bagian dari upaya riset dan menghargai kultur lokal Indonesia yang sangat kaya dan beragam. Garin menganggap realisme-magis merupakan bagian dari budaya banyak adat di Indonesia.

Dalam film Setan Jawa, Garin mengangkat kisah pesugihan Kandang Bubrah. Dia juga melakukan sejumlah riset, termasuk meneliti kaitan seni lukis dengan tradisi pesugihan yang banyak dijumpai di masyarakat Jawa.

Film Setan Jawa akan tayang pada 3 dan 4 September 2016, di Gedung Teater Jakarta. Film itu akan diiringi penampilan langsung orkestra gamelan asuhan Rahayu Supanggah.

Setan Jawa juga dijadwalkan tayang di Melbourne dalam acara pembukaan Asia Pacific Triennial of Performing Arts. Di Melbourne, pemutaran Setan Jawa akan diiringi Melbourne Symphony Orchestra.


(DEV)