Lima Film dalam Antologi Dokumenter Eagle Awards 2017

Purba Wirastama    •    05 Oktober 2017 13:07 WIB
eagle awards documentary competitioneagle documentary
Lima Film dalam Antologi Dokumenter Eagle Awards 2017
Di Atas Genteng (dok eagleinstitute)

Metrotvnews.com, Jakarta: Lima film dokumenter pendek finalis Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2017 telah dirilis sebagai film antologi bertajuk Indonesia Cerdas pada Rabu 4 Oktober 2017. Film masing-masing berdurasi 24 menit dan mengikuti perjalanan sejumlah orang di daerah berbeda dalam upaya memajukan pendidikan di komunitas mereka.

Berikut sinopsis untuk kelima film tersebut.

1. Marka
Icha adalah seorang anak TKI sekaligus murid kelas 6 Community Learning Center Saremas di Sarawak Malaysia, yang telah mengikuti ujian paket A dan akan menerima ijazah kelulusan. Cita-citanya adalah penari profesional. Namun keinginan ini terhalang oleh peraturan, yang membatasi anak TKI di Malaysia hanya boleh bersekolah di sana hingga 12 tahun. Orang tua Icha pun tak mengizinkan dia kembali ke Indonesia untuk melanjutkan sekolah.

Ketiga kakak Icha, yang adalah buruh perkebunan sawit, tidak ingin Icha bernasib sama seperti mereka. Mereka terus berusaha untuk memulangkan Icha ke Indonesia.

Dokumenter ini digarap oleh sutradara Akhmad Saifuddin dan Ineu Rahmawati atas supervisi Insan Indah Pribadi. Nurtaqir Anugrah menjadi operator kamera dan Agus Darmawan menjadi editor. Pengambilan gambar seluruhnya dilakukan di Serawak, Malaysia.



2. Andreas: Melawan Realitas
Andreas Aujat, 17 tahun, adalah anak seorang tuan tanah di Boven Digoel, Papua. Dia hendak menggapai cita-cita tetapi mengalami hambatan ekonomi dan sosial. Keluarga Aujat terbatas secara ekonomi karena permasalahan jual beli tanah. Sementara Aujat punya kebiasaan buruk konsumsi minuman keras dan mabuk-mabukan sebagai pelarian, yang membuat citranya buruk di mata masyarakat.

Januarius, sahabat Aujat yang adalah atlet lari, mengajak dia untuk tetap menggapai cita-cita.

Dokumenter ini digarap oleh Protus Hyasintus Asalang dan Handrianus Kolibasa Basabelolon atas supervisi Daniel Rudi Haryanto. Suharja Nasrun jadi operator kamera dan Taufik Arifianto jadi editor. Pengambilan gambar dilakukan selama 10 hari di Boven Digoel.



3. Mengeja Belantara
Aco Mulyadi adalah salah satu guru dan penggagas sekolah alam yang didirikan di Salulebbo, Mamuju Sulawesi Barat. Sekolah ini merupakan usaha swadaya dari warga setempat untuk memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, yang dikelola dengan sistem pengajaran berbasis nilai lokal.

Kendati jauh dari pusat kota, sekolah ini telah bertahan secara mandiri selama 13 tahun. Namun pembangunan bendungan mengancam eksistensi sekolah.

Dokumenter ini digarap oleh Syamsuddin dan Samsuddin dengan supervisi Tommy Fahrizal. Kurnia Yudha Fitranto menjadi operator kamera dan Pandu Dwi Angga menjadi editor. Gambar seluruhnya diambil di Mamuju.



4. Mendengar Senyuman
Rusim, seorang tunanetra, sempat merasa putus asa, dan bahkan pernah mencoba bunuh diri, karena tidak pernah mendapatkan kesempatan bersekolah. Dia selalu terhantui kecemasan dan kegagalan. Pada usia 28 tahun, Rusim akhirnya dapat mengenyam pendidikan keterampilan di panti sosial milik pemerintah di Bekasi, Jawa Barat. Saat ini dia mulai berani percaya diri dan punya mimpi.

Dokumenter ini digarap oelh Carya Maharja dan Radisti Ayu Praptiwi dengan supervisi Wisnu Suryapratama. Vera Ita Lestafa menjadi operator kamera dan Supriyadi menjadi editor. Seluruh gambar diambil di Bekasi.



5. Di Atas Genteng
Desa Jatiwangi di Jawa Barat dikenal sebagai desa penghasil genteng sejak lama. Kini eksistensi identitas tersebut terancam oleh kehadiran sejumlah industri pabrik baru. Kadus Ila, 40 tahun, bersama komunitas seni desa Jatiwangi Art Factory, membuat 'keributan' dengan mengadakan acara lomba binaraga untuk para pekerja genteng.

Lomba yang dinamai Jebor ini merupakan salah satu upaya mereka untuk menyadarkan warga, mempertahankan tradisi genteng, sekaligus sebagai bentuk pernyataan sikap bahwa Jatiwangi punya peradaban. Binaraga adalah usaha Ila dan JAF untuk menularkan cara berpikir seni ke warga.

Dokumenter ini dikerjakan oleh Ika Yuliana dan Sangga Arta Witama dengan supervisi Darwin Nugraha, yang sekaligus menjadi editor. Vera Ita Lestafa menjadi operator kamera. Seluruh gambar diambil di kawasan Jatiwangi.




(ELG)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

1 day Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA