Usai Menjadi Nomine FFI, Film Ziarah Diputar di Luar Negeri

Pelangi Karismakristi    •    01 November 2016 12:23 WIB
film indonesia
Usai Menjadi Nomine FFI, Film Ziarah Diputar di Luar Negeri
Film Ziarah (Foto: ist)

Metrotvnews.com, Jakarta: Setelah menjadi nomine di Piala Dewantara Apresiasi Film Indonesia dan nominator Piala Citra Festival Film Indonesia untuk kategori Penulis Skenario Asli Terbaik, film Ziarah akan diputar perdana di Filipina. Film yang ditulis dan disutradarai oleh BW Purba Negara ini akan berkompetisi dengan film-film Asia terbaik pada ajang Salamindanaw Asian Film Festival 2016 di Filipina pada tanggal 7-13 November 2016.

Salamindanaw Asian Film Festival merupakan festival film internasional pertama di Filipina Selatan, yang dipelopori oleh sutradara terkemuka dari Filipina, Teng Mangansakan.

"Festival ini bertujuan untuk mempromosikan film-film Asia dengan fokus pada karya-karya independen yang dibuat oleh sutradara-sutradara muda berbakat yang dinilai mampu membawa perpsektif Asia dalam karya-karyanya, dalam rangka mendukung lahirnya gerakan baru perfilman Asia Tenggara. Festival ini juga melibatkan publik dalam menciptakan wacana populer dan kritis pada seni dan sinema," tulis siaran pers yang diterima Metrotvnews.com.

Sebelumnya film-film Indonesia yang pernah diputar dalam festival ini antara lain; Jalanan karya Daniel Ziv, Following Diana karya Kamila Andini, Mencari Hilal karya Ismail Basbeth dan Mulih karya Fajar Martha Santosa.

BW Purba Negara lebih dulu mengawali kariernya dengan banyak membuat film pendek yang berhasil memenangkan penghargaan dan diputar pada banyak festival film penting baik nasional maupun internasional.

Film Ziarah sendiri merupakan film layar lebar pertama karya BW Purba Negara yang diproduksi secara keroyokan dan independen oleh Purbanegara Films bersama Hide Project Films, Limaenam Films, Good Works dan Super 8mm Studio.

Film Ziarah bercerita tentang perjalanan Mbah Sri dalam mencari makam suaminya yang hilang semasa Agresi Militer Belanda II pada tahun 1949. Keinginan untuk dimakamkan bersanding dengan makam suaminya merupakan alasan yang mendasari perjalanan ini.

Ziarah adalah kisah tentang cinta, dengan sudut pandang yang tidak biasa. Dalam perjalanan panjangnya ini, Mbah Sri bertemu dengan orang-orang yang yang tengah berdialog tentang tanahnya, orang-orang yang memperjuangkan tanahnya, dan orang-orang yang tersingkir dari tanahnya.



Bagi Mbah Sri, perjalanannya mencari makam sang suami ini tidak sekadar menjadi perjalanan menyusuri sejarah cintanya, tapi juga menyusuri luka-luka sejarah bangsa ini.

Agar lebih otentik, BW Purba Negara sengaja meng-casting orang-orang yang benar-benar pernah mengalami masa perang. Salah satunya adalah Mbah Sri, tokoh sentral dalam film ini, yang diperankan oleh mbah Ponco Sutiyem, seorang nenek berusia 95 tahun warga kecamatan Ngawen, Gunung Kidul.

Pada masa agresi militer Belanda II, suaminya ditangkap oleh Belanda. Pada waktu itu mbah Ponco berhasil melarikan diri, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Perjalanannya diwarnai kejaran peluru.

Dengan pemilihan pemeran yang seperti itu, akting para tokoh film Ziarah ini jadi tampak dramatis, unik, dan otentik. Jauh dari stereotype akting film mainstream. Selain itu, film Ziarah sekaligus juga memberi ruang ekspresi bagi orang-orang yang sebelumnya tidak pernah mendapatkan ruang di media mainstream.




(ELG)

Senandung Senja Yon Koeswoyo

Senandung Senja Yon Koeswoyo

1 month Ago

Tubuh pria tua itu hanya bersandar di sebuah sofa berwarna cokelat. Seorang kawan di dekatnya m…

BERITA LAINNYA