Salman Aristo Berbagi Ilmu Menulis Naskah Film lewat Buku Kelas Skenario

Purba Wirastama    •    21 Februari 2018 21:03 WIB
salman aristo
Salman Aristo Berbagi Ilmu Menulis Naskah Film lewat Buku Kelas Skenario
Triawan Munaf bersama Salman Aristo dalam diskusi dan peluncuran buku Kelas Skenario di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Rabu, 21 Februari 2018

Jakarta: Penulis naskah Salman Aristo dan editor naskah Arief Ash Shiddiq telah berbagi pengalaman penulisan naskah film lewat program lokakarya dalam payung PlotPoint Kreatif sejak 2009. Kini mereka mengabadikan materi ini ke bentuk buku berjudul Kelas Skenario.

Menurut Aris, panggilan akrab Salman, perfilman Indonesia memang sedang bertumbuh dalam tahun-tahun terakhir, terutama kuantitas produksi serta penonton. Namun jumlah pelaku industri, bahkan sejak dia mulai menekuni profesi ini pada 2003, masih terbatas, termasuk penulis skenario.

Pembuatan buku ini didasari kegelisahan tersebut. Apalagi, skenario adalah pondasi dan pegangan bagi tujuh departemen yang terlibat dalam produksi film, mulai dari artistik hingga editing.

"Film Indonesia tahun segitu masih sekitar 40 judul. Begitu ngecek penulis skenario yang gue kenal, tak sampai 10 orang. Delapan yang aktif kalau enggak salah," kata Salman dalam peluncuran buku di Galeri Indonesia Kaya Jakarta, Rabu, 21 Februari 2018.

Saat masih terhitung baru di industri perfilman, Aris mengaku bisa terlibat dalam enam proyek setahun.

"Kalau industri kayak begini, apa kabar ya? Industri enggak jalan dong. Skenario begitu penting sebagai pondasi. Apa yang bisa dikerjakan? Sepanjang 2005, 2006, memutuskan istirahat menulis layar lebar. Kalau begini, kapan kontemplasi berkarya?" ungkap Aris.

Selama istirahat dari layar lebar, Aris mengerjakan sejumlah proyek film TV. Dia dan beberapa kawan lantas membuat lokakarya kecil tentang penulisan skenario bernama PlotPoint Kreatif. Dalam satu program, peserta paling banyak 10 orang.

"Lambat sekali kontribusi terhadap penambahan (jumlah penulis skenario). Setelah tiga hingga empat tahun lokakarya, ada yang ke industri enggak ya? Waduh belum ada. Akhirnya memutuskan, mencoba bikin buku dengan materi yang ada," tutur Aris.

Buku ini ditujukan bagi level pemula. Isinya adalah pembahasan sistematis tentang naskah, mulai dari pengembangan ide ke cerita, perwujudan karakter, serta penyusunan plot ke skenario dengan metode delapan sekuen.

Buku diterbitkan atas kerja sama Wahana Kreator Indonesia dengan penerbit Esensi (grup Erlangga). Bersama tim penulis dari Wahana Kreator, Aris dan Arief telah mengerjakan naskah sejumlah film, antara lain Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, Habibie & Ainun, dan Posesif. Lalu juga ada Keluarga Cemara yang akan dirilis tahun ini.

 


(ELG)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA