Kritik Pedas Betawi Kita dan JJ Rizal terhadap Film Benyamin Biang Kerok: Menipu!

Cecylia Rura    •    24 Maret 2018 13:54 WIB
benyamin sfilm indonesia
Kritik Pedas Betawi Kita dan JJ Rizal terhadap Film Benyamin Biang Kerok: Menipu!
Poster Benyamin Biang Kerok (Foto: dok. falconpictures)

Jakarta: Film Benyamin Biang Kerok (2018) mendapat kritik keras dari para pemerhati budaya Betawi, salah satunya Perkumpulan Betawi Kita. Proyek film garapan sutradara Hanung Bramantyo ini dinilai oleh Perkumpulan Betawi Kita tidak menampilkan unsur budaya Betawi dan hanya meminjam bahkan menjual nama tokoh budayawan Betawi, Benyamin Sueb.

Ketua Umum Perkumpulan Betawi Kita, Roni Adi Tenabang pun mengatakan banyak kritik yang dilayangkan untuk film tersebut. Terutama soal plot cerita yang diangkat.

"Kita mengkritisi dari alur ceritanya, bukan dari sisi pemainnya. Artinya, kalau pemilihan pemain haknya sutradara," ungkap Roni Adi Tenabang kepada Medcom.id ketika dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat, 23 Maret 2018.

"Kalau dari sisi cerita ini absurd. Jadi, di promonya itu ingin merayakan budaya Betawi. Di satu sisi juga mau mengangkat nama besar nama Bang Benyamin, tapi kita tidak lihat satu pun. Yang ada cuma menjual nama Benyamin dan menempelkan semacam kayak ondel-ondel, dodol, dan lainnya tapi enggak menggambarkan Betawi secara substantif," jelas Roni.

Memang dijelaskan di awal promo film, Benyamin Biang Kerok bukan film biopik, dan hal tersebut sudah diketahui oleh Roni. Benyamin Biang Kerok mencoba menghidupkan kembali tokoh Benyamin Sueb melalui gelagat dan gaya bercanda yang khas ala warga Betawi.

"Sutradara memang bilang enggak bikin biopik. Cuma masalahnya dia tulis Benyamin Biang Kerok itu. Dari sisi penamaan (judul). Jadi, orang menganggap ini tentang Benyamin, tapi ternyata bukan," katanya lagi.

"Bahkan orangtua yang datang ketika saya menonton, membawa anak kecil karena mereka tahunya film Benyamin film segala umur, tapi di film itu banyak dipertontonkan kekerasan terus banyak yang menurut kita enggak pantas untuk anak kecil," imbuh Roni.

Ia berpendapat, gesture yang berusaha dibawakan oleh aktor Reza Rahadian justru membuat Benyamin tampak seperti idiot dengan komedi slapstick yang dibawakan.

"Bicara Benyamin, beliau itu artis multitalenta. Di situ memang dia bilang bukan biopik Benyamin, tapi judul filmnya Benyamin. Setiap promo bawa keluarga Benyamin. Di promonya bilang angkat budaya Betawi. Kok, Benyamin dipersepsikan seperti orang idiot? Kalau dari itu hanya penggambaran karakter Reza Rahadian yang komedinya slapstick norak," papar Roni.


Reza Rahadian pemeran Benyamin Biang Kerok (Foto: MI/Sumaryanto)

"Dari gesture pemainnya, Reza Rahadian, lucunya itu lucu kaku, lucu dibuat-buat. Lucu yang bukan (Betawi). Kalau orang Betawi, orang (yang) kenal Betawi lebih dalam, orang Betawi lucu bukan karena dibuat-buat, memang dia punya kecerdasan sendiri untuk lucu. Bukan dia harus muka dijelek-jelekin, enggak. Memang wataknya begitu, kita senang humor tapi enggak slapstick begitu," sambungnya.

Hal lain yang mengganjal dalam film ini dari kacamata Roni adalah konten film Benyamin. Mulai dari poster hingga trailer film Benyamin Biang Kerok mencoba menampilkan kebudayaan Betawi dan cara merayakannya, tapi hal ini pun masih dinilai kurang dan justru budaya Betawi tak ditampakkan secara gamblang dalam film tersebut.

"Sisi konten ini mau mengambil Betawi dari 'planet' mana? Kalau dibilang mau merayakan Betawi, Betawi yang mana? Malah dia mau meneruskan stereotip Betawi itu bodoh tapi malas. Itu yang dikritik sebenarnya," jelasnya.

Dalam promosi film yang dilakukan tim film Benyamin Biang Kerok, disebutkan selain untuk merayakan budaya Betawi dan mengangkat nama Benyamin Sueb, film ini juga ingin menepis pandangan masyarakat umum terkait sosok warga Betawi yang dulu kerap melakukan pekerjaan kasar, sebagai contoh sopir oplet yang pada masa jaya Benyamin Sueb sebagai representatif warga Betawi memerankan profesi tersebut. Gambaran ini begitu dominan dan menancap di ingatan penonton ketika Benyamin bermain dalam sinteron keluarga Si Doel Anak Sekolahan yang menjadi tontonan favorit keluarga.

Pengangkatan derajat kelas sosial dari konvensional ke tingkat modern yang dilakukan dalam film Benyamin Biang Kerok dirasa kurang tepat oleh Roni. Sebab, nilai itu belum tampak dan tidak dipaparkan dengan jelas dalam film Benyamin Biang Kerok.

"Ukuran modern itu apa? Apakah itu rumah mewah megah? Ukuran modernisme itu dari pemikiran yang luas, itu modern. Kalau Betawi itu identik dengan Islam berakhlak mulia, itu modern. Kalau cuma dia, 'Oh, tadinya tentang sopir oplet', banyak Betawi yang pintar, kok. Enggak gitu-gitu amat modern," ungkap Roni.

"Ukuran modern (dalam film Benyamin Biang Kerok) dia punya perusahaan, perusahaanya enggak jelas. Misalnya bicara katanya perusahaan IT tapi tiba-tiba jadi media. Secara plot cerita itu lemah, nyomot sana-sini. Membangun ceritanya itu harusnya membawa value. Kalau kita nonton film Hollywood kita bawa oleh-oleh, pembangunan karakter, pembangunan nilai," lanjutnya.

Persepsi masyarakat terkait tokoh Benyamin saat menyaksikan film Benyamin Biang Kerok ikut terseret dengan penjudulan film yang mengangkat nama. Sehingga menurut Roni, penonton memiliki ekspektasi akan melihat sosok Benyamin dan budaya Betawi dalam Benyamin Biang Kerok, terutama para budayawan pemerhati budaya Betawi.

"Orang yang punya persepsi solid mengenai budaya Betawi ketika baca (judul), 'oh ini tentang Benyamin. Mereka masuk dengan membawa gambaran sosok Benyamin. Ketika masuk, merasa ditipu, Benyamin kok begini? Bicara Betawi, Betawi yang mana? Benyamin kok begini?"

"Dia membuat nama Benyamin, tapi sekalipun enggak mengangkat Betawi. Bahkan Benyamin digambarkan seperti orang idiot begitu. Justru menurut kita itu merendahkan nama besar Benyamin dan itu yang merendahkan kebudayaan Betawi secara keseluruhan. Walaupun keluarga meng-endorse, tapi Benyamin bukan hanya milik keluarganya secara harfiah, Benyamin itu milik orang Betawi. Kecuali kalau keluarga ingin mengerdilkan bahwa Benyamin hanya milik keluarga," kata Roni.

Roni juga memerhatikan, beberapa adegan di menit awal film Benyamin Biang Kerok menyisipkan potongan adegan menyerupai film Hollywood Tomb Rider dan Mission Impossible. Ia menilai apa yang dilakukan Hanung tak ada pengayakan kreativitas dalam menggarap film ini.

"Film itu kan produk kreativitas ya, produk seni. Produk yang penuh kreativitas. Gimana kreativitasnya? Comot sana-sini tapi tanpa kreativitas."


Benyamin Biang Kerok (Foto: dok. falcon)

Sebagai bentuk saran dan masukan, Roni berharap agar tim produksi film lebih banyak melakukan riset lebih dalam tentang budaya Betawi melalui sumber-sumber primer yang paham tentang kebudayaan Betawi. Setidaknya, untuk sumber-sumber pengetahuan tentang Betawi diperoleh dari buku-buku folklore Betawi.

"Ada budayawan, ada tokoh-tokoh yang memang paham. Ada lembaga kebudayaan Betawi. Kita Betawi juga banyak budayawan, sejarawan, intelektual, jurnalis segala macem, bukan berarti kita minta dilibatin, enggak. Itu terserah mereka, cuma harus ada buku-buku tentang folklore Betawi, tentang hidup sejarah Betawi. Jadi, kalau mau menggambarkan orang Betawi pakai kacamata orang Betawi, bukan pakai kacamata orang luar yang tidak paham."

"Selayaknya sebelum bikin film, dia riset, cari bahan yang bagus, yang lengkap, ke budayawan Betawi, di lembaga kebudayaan Betawi. Banyak tokoh-tokoh budayawan, bisa tanya. Filmnya juga yang menggambarkan karakter orang Betawi, lucunya bukan yang dibuat-buat dan alur ceritanya juga yang penuh kreativitas. Jangan comot sana comot sini yang menurut kita enggak jelas."

Ia menambahkan, jika memang tidak bisa membuat film yang mengandung unsur kebudayaan Betawi ada baiknya untuk melepas nama Benyamin di judul film. Sehingga penonton tidak merasa terjebak dengan apa yang disaksikan dalam film Benyamin Biang Kerok.

"Kalau memang dia enggak bisa membuat seperti itu ya jangan pakai judul nama Benyamin. Enggak apa-apa dia misalnya mau bikin Biang Kerok, Pengki, enggak masalah. Jadi, orang juga enggak akan terjebak nonton film itu, ternyata tidak menggambarkan Benyamin. Kalaupun dia paksakan, saya jamin malah tidak akan lebih baik hasilnya dari sisi jumlah penonton."

Oleh sebab itu, pihak Perkumpulan Betawi Kita pun mengimbau agar masyarakat Betawi tidak menonton film tersebut.

Kritik serupa diamini oleh pengamat budaya Betawi, JJ Rizal. Melihat banyak kritik yang menghujani film Benyamin Biang Kerok, JJ Rizal bertumpu pada literasi sang pembuat film. Ia pun sepakat, peletakan nama Benyamin Biang Kerok adalah sesuatu hal yang salah ketika tidak sesuai dengan konten cerita yang dibawakan.

"Protes itu wajar mengingat masalah besar film itu adalah si pembuat film tidak paham sejarah film yang dibuat ulang karena tidak tahu tempatnya dalam sejarah film Indonesia.  Lebih jauh lagi juga tidak tahu arti film Benyamin Biang Kerok dalam sejarah dan kebudayaan orang Betawi. Nah,  alhasil pembuat film itu tersesat dan membuat film sesat. Cilakanya menggunakan judul Benyamin Biang Kerok yang menyejarah itu. Tak ayal, wajar diprotes orang Betawi dan lebih luas lagi juga dicerca masyarakat Non-Betawi, baik kritikus film maupun penonton biasa," ungkap JJ Rizal ketika dihubuni Medcom.id.

Ia bahkan menyebutkan film tersebut adalah hoax dan menipu masyarakat.

"Mengapa diprotes begitu luas, karena film ini adalah hoax, berita bohong soal budaya Betawi bagi orang Betawi."


Reza Rahadian - Benyamin S (Foto: youtube)

Namun, soal akting Reza Rahadian yang memerankan tokoh Benyamin, JJ Rizal tak berkomentar banyak. Sebab, akar permasalahan tidak bersumber dari para pemain melainkan naskah cerita yang diangkat.

"Bukan pada akting Reza yang meniru Benyamin. Saya kira akarnya di luar aktor dan aktrisnya, tetapi dari segi ide lalu naskah film itu tidak kenal dan tahu yang hendak dibuat. Alhasil ya salah buatan," lanjutnya.

Film Benyamin Biang Kerok tayang perdana di bioskop Indonesia mulai 1 Maret 2018. Film ini disutradarai oleh Hanung berdasarkan naskah cerita yang ditulis oleh Bagus Bramanti, Senoaji Julius dan Hilman Mutasi. Aktor yang bermain dalam film ini antara lain Reza Rahadian, Rano Karno, Meriam Bellina, Delia Husein, dan Aci Resti.

Benyamin Biang Kerok diproduseri oleh Frederica dan diproduksi oleh Falcon Pictures. Rencananya, Hanung Bramantyo membuat Benyamin dalam dua bagian, Benyamin Biang Kerok dan Benyamin Tarsan Kota.

Film Benyamin Biang Kerok versi asli pertama kali dirilis pada 1972 oleh sutradara Nawi Ismail. Ia kemudian membuat seri lanjutan dengan merilis Biang Kerok Beruntung. Sementara Tarsan Kota dikerjakan oleh Lilik Sudiyo yang dirilis pada 1974.

 


(ELG)

SMASH Menolak Bubar

SMASH Menolak Bubar

1 day Ago

SMASH kembali bukan sebagai 'Seven Man As Seven Heroes'. Berenam; Bisma Kharisma, Rangg…

BERITA LAINNYA