Kaleidoskop Film 2018

Kilas Balik Perfilman Indonesia 2018

Purba Wirastama    •    22 Desember 2018 12:45 WIB
kaleidoskop film
Kilas Balik Perfilman Indonesia 2018
Adegan Dilan 1990 yang menjadi film terlaris sepanjang masa di Indonesia (Foto: maxpictures)

Jakarta: Banyak hal terjadi dalam dunia perfilman dalam negeri selama setahun terakhir. Dalam lingkup film layar lebar, kunjungan penonton ke bioskop semakin tinggi terbukti dengan total penjualan tiket selama 2018 yang jauh lebih banyak dibanding 2017.

Namun performa komersial film-film dalam negeri hanya satu dari berbagai yang menjadi catatan akhir tahun 2018. Medcom.id merangkum 10 poin penting dan menarik yang terjadi selama setahun terakhir dalam dunia perfilman.


1. Rayuan Gombal Dilan
Film Dilan 1990 sukses besar. Secara komersial, film adaptasi novel karya Pidi Baiq menjadi film terlaris kedua sepanjang masa dengan penjualan tiket lebih dari 6,3 juta lembar selama tayang di bioskop. Tidak sedikit penonton yang merelakan waktunya menonton beberapa kali karena gemas dengan duet akting Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla serta keajaiban dialog yang ditulis Pidi.


Adegan film Dilan (Foto: maxpictures)

Kisah dua remaja Bandung mabuk asmara ini sebenarnya sudah populer sejak terbit sebagai novel trilogi. Selain ramai obrolan tentang sosok asli Dilan dan Milea, orang-orang tertarik dengan gombal dan tingkah laku Dilan.

Dilan 1990 juga populer di jagat maya karena menjadi kata kunci terkait film yang paling banyak dicari pengguna Google Search Indonesia sepanjang 2018, jauh lebih banyak dibanding Avengers: Infinity War. Film keduanya, Dilan 1991, sedang dikerjakan dan akan dirilis tahun depan.


2. Adaptasi Karakter Benyamin dan Suzzanna
Bioskop Indonesia era 1970-an punya sejumlah film populer yang tokohnya melekat erat dengan pemerannya. Sebutlah mendiang Benyamin Sueb dan Suzzanna Martha Frederika. Kendati mereka bermain sebagai tokoh dengan nama berbeda setiap film, yang dikenang adalah "film komedi Benyamin" atau "film horor Suzzanna".

Tahun ini, ada film berjudul Benyamin Biang Kerok (Falcon Pictures) dan Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (Soraya Intercine Films). Dua film baru ini tidak dibintangi Benyamin dan Suzzanna, tetapi pemeran lain yang meniru karakter mereka di dalam film lama.

Apakah kedua film itu mendaur ulang kisah film lama? Belum tentu. Kendati judulnya memakai nama pemeran lama, bukan juga biografi. Mungkin saja ide awal film berangkat dari strategi pemasaran filmnya lewat "nostalgia", embel-embel "perayaan", atau nama pemeran lama yang menjadi semacam merek. Mungkin kita perlu istilah baru untuk jenis film eksperimen seperti ini, termasuk juga untuk Warkop DKI Reborn.


3. Gugatan Hak Cipta Film Biang Kerok
Film Benyamin Biang Kerok benar-benar menjadi biang keributan. Syamsul Fuad, penggagas cerita dan penulis naskah film Benyamin: Biang Kerok (1972) dan Biang Kerok Beruntung (1973), menggugat produser Benyamin Biang Kerok (2018) ke pengadilan terkait persoalan hak cipta.

Menurut Syamsul, proyek film terbaru menyalahi aturan hak cipta karena dibuat dan dirilis tanpa persetujuan dia sebagai pemilik cerita. Menurut pihak Falcon dan Max Pictures, properti intelektual terkait Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung telah menjadi milik mereka berdasarkan transaksi dengan pemilik sebelumnya.

Gugatan Syamsul sempat dibalas dengan gugatan "gertakan" dari pihak Max. Setelah berbulan-bulan proses, kedua kasus hukum ini sudah ditutup pengadilan karena beberapa kekurangan. Syamsul mengajukan gugatan kedua dengan tambahan nama dalam daftar tergugat.

Sementara itu, film Biang Kerok Beruntung versi terbaru batal rilis bioskop tahun ini.


4. Kisah Doel dan Wiro Sableng
Di antara film-film baru dengan materi lawas, perfilman kita punya dua film adaptasi yang konsepnya lebih familiar. Ada Si Doel The Movie (Falcon), yang melanjutkan kisah serial televisi Si Doel Anak Sekolahan, serta Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Lifelike & 20th Century Fox) yang diangkat dari novel berseri karya Bastian Tito.


Pemeran Wiro Sableng (Foto: lifelikepictures)

Kedua film tersebut masuk ke jajaran 10 film terlaris 2018 dengan capaian penjualan tiket lebih dari 1,5 juta lembar. Kisah Doel dan Wiro juga tidak hendak berhenti di satu film. Proyek sekuelnya sedang dikerjakan.


5. The Night Comes For Us dan Netflix
Kendati proyek film kerja sama dengan platform streaming bukan hal baru, tetapi The Night Comes For Us punya pembeda. Film garapan penulis dan sutradara Timo Tjahjanto menjadi film cerita panjang pertama yang dirilis secara eksklusif di platform streaming. Netflix membeli hak edarnya untuk lingkup internasional.


6. Pemutaran dan Penghargaan di Festival Internasional
Sepanjang 2018, ada sejumlah film cerita garapan produser dan sutradara dalam negeri yang berkelana ke berbagai festival film internasional, bahkan meraih penghargaan. Tidak semua film ini tayang perdana tahun 2018 dan tidak semua dirilis di bioskop.

Beberapa film cerita antara lain Sekala Niskala (Kamila Andini), Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Mouly Surya), Pengabdi Setan (Joko Anwar), Sebelum Iblis Menjemput (Timo Tjahjanto), Kucumbu Tubuh Indahku (Garin Nugroho), Ave Maryam (Robby Ertanto), 27 Steps of May (Ravi Bharwani), If This Is My Story (Djenar Maesa Ayu & Kan Lume), Istri Orang (Dirmawan Hatta), dan Bird (Richard Oh), Kado (Aditya Ahmad), dan Ballad of Blood and Two White Buckets (Yosep Anggi Noen).


Film Ave Maryam (Foto: dok. ave maryam movie)


7. Festival Film Indonesia Punya Komite Tetap
Setelah direncanakan sejak gelaran Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2017, Badan Perfilman Indonesia (BPI) akhirnya membentuk komite tetap dengan masa jabatan periodik untuk menyelenggarakan FFI. Masa kerja komite pertama adalah 2018-2020 dengan harapan kegiatan FFI, termasuk Piala Citra, bisa berjalan lebih optimal.

Komite dipimpin Lukman Sardi. Anggota adalah Catherine Keng sebagai sekretaris, Edwin Nazir untuk urusan keuangan dan pengembangan usaha, Lasja F Susatyo untuk urusan program, Nia Dinata untuk urusan penjurian, dan Coki Singgih untuk urusan komunikasi. Pertanyaannya, apakah komite tetap membuat FFI lebih baik atau sama saja seperti sebelumnya.

Sementara itu, terkait ajang penghargaan Piala Citra, kategori nominasi Pemeran Anak Terbaik akan dihapuskan untuk gelaran 2019. Pemeran anak akan dijadikan satu dengan pemeran dewasa.


8. Pendanaan Film Dokumenter
Akses sokongan biaya produksi film adalah masalah utama yang dihadapi para pembuat film sejak lama. Melanjutkan program 2017, Badan Ekonomi Kreatif (BEKraf) mengadakan Forum Film Akatara untuk mempertemukan calon investor dengan pembuat film.

Lalu ada juga Docs By The Sea (DBTS), program kolaborasi BEKraf dengan In-Docs khusus untuk proyek film dokumenter. Setelah meninggalkan kesan baik bagi investor dan mitra internasional, DBTS 2018 berhasil mengajak mitra lebih banyak. Salah satu mitra yang membuat komitmen kerja sama adalah Go-Jek lewat Go-Studio, yang tahun ini mendukung 13 proyek film dokumenter Indonesia.


9. Kenaikan Jumlah Film Supranatural
Jumlah film dengan tema gaib atau supranatural meningkat signifikan, baik untuk horor, slasher, atau jenis pendekatan lain. Terima kasih untuk sukses komersial Pengabdi Setan, Danur, dan The Doll tahun sebelumnya atas kenaikan tren ini.

Menurut catatan Medcom.id berdasarkan data FilmIndonesia.or.id, total ada  137 judul film cerita tayang bioskop sepanjang 2018. Dari daftar tersebut, 35 judul di antaranya atau 25% merupakan film supranatural. Jumlah ini lebih banyak dibanding tahun lalu yang mencapai setidaknya 23 judul.


Suzanna Bernapas dalam Kubur salah satu film horor mencuri perhatian di 2018 (Foto: soraya)


10. Kenaikan Jumlah Penonton Bioskop
Belum ada rilis data resmi dari FilmIndonesia.or.id terkait capaian box office atau penjualan tiket bioskop 2018. Namun akun Twitter @bicaraboxoffice, yang rutin memantau data mingguan box office domestik, telah merilis data sementara akumulasi penjualan tiket selama tiga tahun terakhir.

Setidaknya sejak 2016, jumlah penonton film bioskop memang meningkat. Angka penjualan tiket film selama 2017 adalah 42,65 juta lembar. Tahun ini, sebelum ditambah dengan capaian tiket film-film akhir tahun, jumlahnya meningkat menjadi 48,57 juta lembar. Angka ini kemungkinan naik menjadi 50 juta lembar seandainya Milly & Mamet berhasil mencapai penjualan di atas dua juta lembar.


 
(ELG)