Sutradara Tak Menyangka Film Turah Berumur Panjang

Purba Wirastama    •    19 September 2017 19:19 WIB
film indonesia
Sutradara Tak Menyangka Film Turah Berumur Panjang
Wicaksono Wisnu Legowo (dua dari kanan) (Foto: metrotvnews/purba)

Metrotvnews.com, Jakarta: Film Turah produksi FourColours dipilih sebagai perwakilan Indonesia dalam ajang Piala Oscar ke-90 untuk kategori film berbahasa asing. Penulis dan sutradara Wicaksono Wisnu Legowo mengaku terkejut dan bingung menghadapi apresiasi ini.

"Aku jadi kayak, enggak ngerti cara menghadapinya karena dulu awalnya, yang penting filmnya jadi. Aku enggak menyangka umurnya bisa sepanjang ini. Sudah hampir setahun ternyata masih ada yang mengapresiasi Turah," kata Wisnu saat dihubungi wartawan, Selasa 19 September 2017.

Turah diproduksi pada tahun 2016 dan ditayangkan perdana di Singapore International Film Festival, yang memberi film ini penghargaan Special Mention Asian Feature. Film juga masuk dalam program kompetisi Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016 dan mendapat dua piala, yaitu Geber Award dan NETPAC Award.

Setelah itu, film diputar dalam sejumlah program di komunitas dan lembaga kebudayaan. Menurut data FilmIndonesia.or.id, angka penonton yang didapat lewat peredaran ini adalah sekitar 1.900-an orang.

Ketika dirilis di bioskop pada 16 Agustus 2017, film bertahan selama dua minggu dan mendapat angka penonton di atas lima ribu orang. Total ada 16 layar yang memutar film Turah.

"Tadinya Turah bertemu penonton di ruang festival, ternyata bisa masuk di ruang yang lebih besar lagi, bertemu penonton baru. Seru," ujar Wisnu.

"Oh, aku tahu rasanya (Turah masuk Oscar)! Rasanya aku ingin bikin film lagi. Sudah ada rencana bikin film lagi," imbuhnya tiba-tiba.

Turah menjadi debut film panjang Wisnu sebagai sutradara. Ifa Isfansyah menjadi produser di bawah bendera FourColours. Para aktor, seperti Ubaidilah dan Slamet Ambari, adalah pemain teater senior Tegal dan pernah bermain di beberapa film pendek setempat, termasuk film pendek Wisnu.

Film fiksi ini memotret kehidupan kampung Tirang di Tegal. Penduduknya adalah orang-orang yang kalah dalam persaingan hidup, diliputi rasa pesimis, serta takut terhadap juragan kaya raya bernama Darso (Yono Daryono). Pakel (Rudi Iteng), sarjana penjilat di lingkaran Darso membuat warga semakin bermental kerdil.

Penggalan kisah mereka diceritakan antara lain lewat perspektif dua kawan bernama Jadag (Slamet Ambari) dan Turah (Ubaidilah). Peristiwa-peristiwa terjadi, mendorong Turah dan Jadag untuk melawan rasa takut yang sudah akut dan meloloskan diri dari narasi penuh kelicikan.

Menurut Wisnu, benar-benar ada kampung bernama Tirang di Tegal, tak jauh dari rumah. Situasi kampung ini menginspirasi dia untuk membuat kisah Turah. Sebelumnya, dia juga pernah membuat film pendek di kampung tersebut pada 2010.

"Aku pertama lihat Kampung Tirang 2006. Aku baca di koran, aku datengin kampung itu, dan merasa ada yang keliru di hidupku. 2009, Aku pun bikin cerita pendek," ungkapnya.

Wisnu menyebut bahwa film Turah dibuat sebagai catatan personal dia atas manusia yang hidup di sekitarnya, terutama Tegal. Dengan ragam apresiasi yang didapat, film ini telah berjalan lebih jauh.

"Kini catatan itu sudah bukan milik saya, tapi milik Indonesia, milik dunia," tukas Wisnu.


 


(ELG)