Rano Karno: Saya adalah Doel, Doel adalah Saya!

Agustinus Shindu Alpito    •    31 Juli 2018 16:09 WIB
sineas kita
Rano Karno: Saya adalah Doel, Doel adalah Saya!
Rano Karno berperan sebagai Doel dalam Si Doel The Movie (Foto: YouTube Falcon)

Selama 49 tahun Rano Karno menghidupi tokoh fiksi Doel. Seorang anak Betawi yang berada di muara pertemuan kultur konservatif dan modern. Karakter Doel yang kita kenal saat ini lahir jauh lebih dulu dari Rano Karno, lewat novel berjudul Si Doel Anak Betawi (1932) karya Aman Datuk Madjoindo.

Dalam sejarah film Indonesia, memang tidak sedikit aktor yang sepanjang hidupnya diidentikan dengan tokoh fiksi yang diperankannya. Nicholas Saputra dengan karakter Rangga contohnya. Tapi, Rano Karno lebih dari sekedar identik dengan tokoh fiksi yang diperankannya. Dia mengaku bahwa dirinya adalah Doel yang sebenarnya. Doel yang hidup bukan saja di layar lebar atau layar kaca, tapi juga di luar itu, dalam kehidupan nyata sehari-hari.

"Novel Doel sudah saya baca sejak saya berusia 8 tahun. Bahkan kehidupan Si Doel saya jalani (di kehidupan nyata). Jujur, Si Doel adalah saya, saya adalah Si Doel. Dalam kehidupan nyata, kehidupan Si Doel saya lakukan," kata Rano kepada Medcom, di Amsterdam, beberapa saat sebelum premier Si Doel The Movie diputar di Pathe Tuschinski. Gedung pertunjukan prestisius bergaya klasik yang dibangun pada 1921.

Pendapat Rano menarik. Klaimnya terdengar baru di industri film kita, seorang aktor yang menjalani kehidupan tokoh fiksi dalam kehidupan nyata. 

Apa yang terjadi antara Rano dan Doel telah melalui proses yang begitu panjang, dia telah menghidupi peran Doel lebih dari empat dekade. Dalam film pertama Si Doel yang berjudul Si Doel Anak Betawi (1972), Rano telah berperan sebagai Doel. Usia Rano 12 tahun saat film itu dirilis.  



Si Doel Anak Betawi disutradarai oleh sutradara legendaris Indonesia, Sjumandjaja. Dia kemudian membesut kembali kisah Si Doel lewat judul Si Doel Anak Modern (1976). 

Sebagai aktor, Rano telah membintangi puluhan film. Termasuk peran-peran dengan karakteristik yang ikonik, sebagai Galih dalam film Gita Cinta dari SMA contohnya. Namun, perannya sebagai Si Doel yang paling diingat masyarakat. Hal itu tidak lain karena serial berjudul Si Doel Anak Sekolahan yang diproduksi sebanyak 124 episode pada 1994-2003 sukses membentuk persepsi publik bahwa Rano adalah Si Doel.

Dalam Si Doel Anak Sekolahan, dan kisah-kisah Si Doel lainnya setelah itu, Rano cukup berkuasa atas "universe" Si Doel. Dia bertindak bukan saja sebagai aktor utama, tetapi juga sutradara, penulis naskah sekaligus produser. Bisa dibilang, nasib Si Doel hari ini, termasuk soal bagaimana drama cinta segitiganya berjalan, ada di tangan Rano.

Kebetulan yang Unik

Pada salah satu episode Si Doel Anak Sekolahan, Babe (almarhum Benyamin Sueb) secara spontan berbicara pada Doel agar suatu saat jadi Gubernur.

"Jangan kayak Babe jadi supir, atau (jangan) lo ntar jadi tukang buah, tukang layangan, calo tanah, bukan itu yang gue mau Doel. Sekali-kali lo jadi Gubernur," kata Babe.

Tak disangka, puluhan tahun sejak dialog spontan itu terjadi, Rano benar-benar jadi Gubernur. Rano menjadi Gubernur Banten, Jawa Barat, pada 2015-2017. Dia kembali mencalonkan diri pada pemilihan selanjutnya, namun tidak terpilih.

"Dulu Babe bilangnya cuma sekali-kali jadi Gubernur sih, jadinya gue cuma sekali kan," kelakar Rano.

Rano mengatakan bahwa nasihat dan angan-angan Babe agar Doel jadi Gubernur tidak ada dalam skenario. Benyamin mengungkapkan itu penuh spontanitas. 



Peristiwa kebetulan itu menggambarkan bagaimana Rano begitu dekat dengan dunia Si Doel, baik di layar kaca maupun di kehidupan nyata.

Lantas, bagaimana cara Rano melestarikan kisah Si Doel? Seperti kita ketahui, Si Doel bukan semata mengangkat drama kehidupan semata. Tetapi juga memperkenalkan budaya Betawi yang perlahan mulai tak terdengar atau terlupakan. 

"Soal edukasi budaya Betawi, harus dari anaknya Doel, Dul (Rey Bong). Anak ini lahir di Eropa, di Belanda. Dia harus mencari lagi akarnya (sebagai keturunan Betawi), Menarik ini konsep, seperti Benyamin (Babe) dan Doel."

Kepergian Benyamin memang membuat film dan serial Si Doel terasa ada yang kurang. Hubungan antara Babe dengan berbagai tokoh dalam film bisa dibilang mata rantai penting yang menjadi pilar cerita utama. Masuk akal jika Rano ingin kembali membangun itu lewat keterlibatan Rey Bong.

Tidak Ada Doel Lain, Selain Rano Karno

Perkembangan kisah Si Doel bisa dibilang mengikuti perjalanan usia Rano Karno. Kini, "universe" Si Doel masuk ke fase dewasa dengan segala problematika yang dihadapinya. Rano belum berencana kembali mengangkat kehidupan Si Doel muda layaknya serial Si Doel Anak Sekolahan. Dia merasa belum ada aktor yang pas untuk memerankan Si Doel muda.

"Kalau (misalnya yang jadi Si Doel muda) Adipati Dolken, dia terlalu bersih, (kalau) Iqbaal jadi Dilan saja. Saya harus cari (yang tepat jika ingin ada film Si Doel muda). Sekarang ada 'Doel' kecil, perpaduan Doel dengan Sarah. Tetapi kalau Doel asli, harus wajah Indonesia, tidak bisa blasteran. kira-kira kayak Rano Karno kecil. Nanti kita audisi saja," kata Rano.

Rano juga memastikan bahwa kisah Si Doel pada saat ini tidak akan masuk layar televisi. Hal itu dikarenakan Rano tidak menginginkan proses syuting yang padat dan kejar tayang untuk sebuah kisah yang begitu dia cintai.



Rano menyapa para penggemarnya yang berkerumun di depan Pathe Tuschinski, Amsterdam, pada 23 Juli 2018, saat pemutaran perdana Si Doel The Movie (Foto: Shindu Alpito)


Menjadi Si Doel bukan hal mudah bagi Rano Karno. Baginya, peran ini butuh lebih dari sekedar akting. Dia menghayati betul bagaimana kehidupan Si Doel, sejak puluhan tahun lalu. Ditambah, Rano juga tumbuh di lingkungan Betawi, seperti kisah Si Doel dalam novel.

"Saya waktu kecil tinggal di Kemayoran, istilahnya dulu daerah lokalisasi Planet Senen, tetapi daerah itu dulu tempat berkumpulnya para seniman. Kemayoran itu sentra kebudayaan Betawi. Ada teater Miss Tjijih, wayang orang, banyak sentra kesenian. Si Doel muda harus tahu sejarah itu. Rey Bong itu saya pilih karena dia mencari juga literasi-literasi Si Doel dan Betawi," ujar Rano.

Rano tidak ingin para pemeran yang terlibat dalam "universe" Si Doel memiliki karier yang pendek di dunia seni peran Indonesia. Untuk itu dia memikirkan betul siapa saja yang akan terlibat dalam proyek ini.

"Mudah sekarang orang lahir dan hilang di televisi. Saya enggak mau orang yang terlibat dalam Si Doel nasibnya seperti itu. Para pemeran harus memiliki wawasan, harus tahu mengapa si doel hadir."

Melalui Si Doel The Movie, Rano bukan saja kembali setelah lebih dari sepuluh tahun absen di dunia film. Tetapi, ini jadi awal perjalanan panjang yang dia rencanakan. 
 


(ASA)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

1 week Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA