Luna Maya Menekuni Bisnis dan Kembali ke Film

Purba Wirastama    •    09 Mei 2018 16:47 WIB
luna mayasineas kita
Luna Maya Menekuni Bisnis dan Kembali ke Film
Luna Maya (Medcom/Purba)

Jakarta: Luna Maya "Ratu Kostmopolitan" melewati dua dekade kariernya dalam beragam profesi, mulai dari model sampul dan iklan komersial, aktris film, penyanyi, presenter, sutradara, penata busana, hingga pengusaha kuliner dan fashion. Ditambah juga, satu dua kasus kontroversial. Dia sempat absen dari dunia film layar lebar selama dua tahun sebelum akhirnya kembali lewat peran sebagai Tarra, pengusaha di Filosofi Kopi 2: Ben dan Jody.

Debut akting filmnya adalah sebagai tokoh pendukung di 30 Hari Mencari Cinta (2004) garapan Upi. Dia memerankan Barbara, gadis kuliahan idaman para lelaki yang membuat ketiga tokoh utama (Maria Agnes, Dinna Olivia, Nirina Zubir) iri karena merasa kurang menarik.

Setelah itu, perempuan kelahiran Bali 1983 ini bermain di belasan film yang dirilis hampir setiap tahun hingga awal 2014. Beberapa di antaranya film horor Bangsal 13 dan laga komedi Ratu Kostmopolitan garapan Ody Harahap, drama Ruang garapan Teddy Soeriaatmadja, serta drama komedi My Blackberry Girlfriend garapan Findo Purwono HW.

Luna juga pernah menjadi produser dan sutradara untuk salah satu segmen di omnibus Pintu Harmonika (2013). Dia absen dari panggung layar lebar selama dua hingga tiga tahun sebelum muncul kembali di tiga film sekaligus pada pertengahan 2017, termasuk Filosofi Kopi (Filkop) 2 dan The Doll 2.

"Karena ada tawaran dan tawarannya menarik," kata Luna kepada Medcom.id dalam perjalanan menuju kantornya yang berada di kawasan Kembangan, Jakarta Barat, akhir pekan lalu.

"Dua tahun itu film enggak banyak. Dua sampai tiga tahun sebelum Filkop 2 itu, ya ada banyak film, tetapi – enggak tahu sih, bukan enggak menarik, ya enggak ditawari saja, aku juga sibuk yang lain," lanjutnya.

Dalam kurun waktu itu pula, Luna merintis bisnis baju wanita yang diberi merek sesuai namanya. Dia juga membuka dua bisnis makanan, yang salah satunya bersama Uya Kuya. Untuk profesi wirausaha ini, Luna mengaku belajar banyak soal pertimbangan dan pengambilan keputusan bisnis.

"Karena (dulu) masih baru dan enggak ngerti, (aku) mengambil banyak keputusan yang salah sehingga merugikan perusahaan. Enggak tahu mau gimana, ya mengira saja ini kayaknya oke. Ternyata apa yang kita pikirkan enggak tepat. Jadi ya rugi karena kita mengeluarkan uang,"

Selama sekitar 30 menit di perjalanan, Medcom.id mendapat kesempatan wawancara dengan Luna di tengah kesibukannya menyiapkan proyek film terbaru dan jadwal promosi film horor Sabrina garapan Rocky Soraya. Kami berbicara soal pengalaman Luna bermain di The Doll 2 dan Filosofi Kopi 2, menjadi penata busana untuk dua film horor Rocky, sekelumit soal bisnis rintisannya, serta pendapat dia tentang perlakuan industri film domestik terhadap laki-laki dan perempuan.

Berikut petikannya.

Akting di The Doll 2 sebagai Maira mengesankan, apalagi setelah dirasuki arwah dan menjadi ganas.
Oh iya? Terima kasih.

Perubahan karakter Maira dimulai dari menjadi seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya karena kecelakaan tunggal, lalu mengurung diri dan mulai percaya dengan hal-hal supranatural, sampai akhirnya menjadi ganas karena kerasukan. Bagaimana Luna membangun lapisan itu?
Dari bedah naskah, kami sepakat ada transisi emosi. Kalau karakter, tidak ada yang spesifik. Seorang perempuan biasa saja yang mengalami kejadian-kejadian. Secara psikis, dia mengalami trauma, stres, kesedihan mendalam. Dia bukan karakter spesifik seperti misal Reza memerankan Rudy Habibie yang jelas karakter khasnya seperti apa, atau misal dia memiliki kelainan sehingga secara fisik harus berbeda.

Namun secara emosi, ada lapisan itu. Jadi, ya mungkin lebih ke baca naskah, lalu paham sebab-akibat. Perbedaan karakter dibedah seperti apa. Jadi fokus di situ sambil latihan dialog dan baca naskah per adegan, per dialog.

Bagaimana memahami perasaan kehilangan anak?
Susah. Jujur, enggak tahu karena enggak pernah. Kedua, kalau emosi, yang namanya kehilangan, apapun, pasti sesuatu yang sedih, berat, menyakitkan, enggak mengenakkan. Jadi diingat-ingat, kehilangan apa yang paling membekas di hidup kita. Itu yang kita ingat dan secara emosi kita terapkan ke adegan itu.

Lalu di film Sabrina, Luna kembali jadi Maira. Apa yang berubah dari Maira?
Banyak banget. Dari cerita, kami maju ke depan. Maira sudah bisa membuka diri, melanjutkan hidupnya dengan tenang sehingga dia bisa memulai menerima orang baru dan menjadikan orang itu suami. Artinya, dia sudah tutup buku. Gue (Maira) enggak mau ingat lagi, gue akan menjadikan kehilangan anak sebagai pengalaman menyakitkan, tetapi gue sudah ikhlas. Sekarang gue mau move on, bertemu pasangan baru, tetapi ternyata tidak juga (berakhir). Masih ada yang membayangi.



Sejak 2017 hingga sekarang, Luna muncul di tiga film dengan peran besar. Selain dua film tadi, ada nanti Sabrina. Mana yang tantangannya paling besar?
Sama saja. (Sabrina) ini lebih berat karena syutingnya lebih lama, lebih capek, dan menguras tenaga. Lama banget syutingnya, 36 hari. Ada Pulau Umang, Ancol, Puncak, Tangerang, pindah-pindah. Ada set pabrik, rumah si A, rumah si B, cerita liburan.

Sebelum Filkop 2, film terakhir rilis tahun 2014. Berarti Luna absen selama dua sampai tiga tahun. Kenapa baru saat itu kembali?
Karena ada tawaran dan tawarannya menarik. Dua tahun itu film enggak banyak. Dua sampai tiga tahun sebelum Filkop 2 itu, ya ada banyak film, tetapi – enggak tahu sih, bukan enggak menarik, ya enggak ditawari saja, aku juga sibuk yang lain. Ada beberapa tawaran, tetapi kayaknya film itu dari rumah produksi yang aku enggak tahu siapa dan ada dari siapa tetapi ceritanya kurang. Ya begitulah, kayaknya enggak jalannya.

Seperti apa kriteria film menarik yang diambil?
Kalau sekarang, lihat siapa yang bikin. Sutradara itu penting juga karena dari karya-karyanya, kita bisa lihat. Gimana pun sebagai pemain, kita ingin diarahkan oleh siapa karena sutradara itu pasti punya sesuatu berbeda yang mungkin bisa mengasah kita sebagai pemain.

Lalu penulisnya, lawan mainnya, ceritanya, semua jadi unsur yang penting. Jadi kita tahu bahwa timnya serius, penulisnya bagus, dan pemainnya juga cukup bagus. Jadi kalau kita berada di lingkungan suatu produksi yang bagus semua, hasilnya akan bagus. Aku enggak bilang yang jelek – enggak, tetapi biasanya yang sudah berpengalaman, biasanya lebih. Itu standar lah, orang mau rekrut saya juga lihat portfolio.

Dalam Filkop 2, Luna jadi Tarra, seorang pengusaha dan investor. Lalu beberapa tahun belakang Luna juga merintis usaha. Apakah dua hal ini berhubungan, dalam arti pekerjaan membantu peran di layar?
Sebenarnya cerita sebagai pengusaha enggak kental, bukan film tentang bisnis, tetapi persahabatan dan cinta dengan latar belakang Tarra pengusaha yang ingin mandiri. Namun dengan latar belakang aku yang juga begitu, mirip-mirip, ingin mandiri dan punya usaha juga – aku enggak bilang 100% memudahkan, tetapi aku sudah punya materi kuat untuk diolah. Bekal untuk bedah naskah dan akting. Tinggal dipoles lagi.



Luna tidak hanya berakting, tetapi juga kru di balik layar. Untuk film Mata Batin yang juga digarap Rocky Soraya, Luna terlibat juga dalam departemen busana. Bagaimana cerita sampai bisa terlibat?
Diajak oleh Rocky. Kenapa tidak? Itu pengalaman pertama. Untuk Sabrina, aku juga (penata busana). Capek. Pusing. Seru. Namun yang bikin pusing continuity karena adegannya banyak. Satu-satu, ini untuk karakter ini adegan ini. Pas lagi berburu, mengonsep karakter ini cocok pakai baju ini, itu seru, tetapi ya atas persetujuan sutradara juga. Jadi aku menunjukkan referensi.

Apakah profesi ini akan dilanjutkan untuk film lain?
Enggak tahu sih. Kalau Rocky mengajak lagi di Mata Batin 2 atau The Doll berapa, mungkin saja.


Luna Maya berpose dengan boneka film horor Sabrina (Foto: Medcom/Purba)

Sekarang Luna menekuni dua bisnis kuliner dan satu fashion. Seberapa mengasyikkan ini sehingga berlanjut terus?
Bukan mengasyikkan, tetapi kebutuhannya. Ya kita kerja buat memenuhi kebutuhan. Saya enggak bilang kebutuhan saya kurang, tetapi kalau bisa melebarkan sayap untuk dapat lebih, kenapa enggak. Seru saja gitu, selalu ada sesuatu. Selama masih bisa produktif dan permintaan masih ada dan perkembangan tren masih ada, orang suka bisnis kuliner, ya sudah, kenapa enggak dikerjakan.

Karena punya kesibukan lain, apakah punya batasan jumlah film dalam setahun?
Enggak juga. Tergantung jadwal saja. Kemarin ada beberapa film yang aku tolak karena jadwalnya sudah diberikan untuk film yang mau syuting besok ini. Lalu Sabrina juga baru selesai 23 April, dua minggu lalu. Masih capek dengan yang itu dan aku harus baca naskah yang baru lagi.

Juni, sudah ada promo Insya Allah Sah 2 yang keluar Lebaran. Juli, sudah ada promo buat Sabrina karena tayang Juli. Jadi kalau ambil proyek Juni juga enggak bisa karena aku masih mau syuting Mei-Juni ini dan baru selesai nanti 28 Juni. Lalu ada Lebaran, bla bla bla. Jadi kalau mau ambil apa-apa di Agustus. Lelah, cukup lelah dan waktu kalau seminggu bisa ada 14 hari, enak kali ya.



Setelah syuting film selesai, gimana proses kembali menjadi Luna yang normal seperti biasa?
Istirahat saja. Pas selesai pun kayak, sudah, tutup, lanjut yang sekarang. Makanya kadang aku enggak suka kalau sedang syuting satu film, walaupun ada tawaran – naskah yang berikutnya jarang aku baca. Aku tunda dulu, konsentrasi ke yang ini dulu. Kalau ini sudah tutup, baru (naskah lain) aku baca. Kalau enggak, ya akan terganggu. Mungkin ada orang yang baca dua-duanya, tetapi aku pikir, ini dulu deh.

Sejak tahun lalu, tren film horor naik.
Horor yang baik yang dilirik. Maksudnya, dari segi penggarapan, ceritanya, serius seperti film yang baik. Bukan sekadar film yang menakut-nakuti orang. Akhirnya terbukti, beberapa film yang mungkin dibikin asal-asalan, bisa bagus dan laku, ternyata enggak juga. Ada yang nonton tetapi 200-300 ribu. Namun yang benar-benar bagus ya Pengabdi Setan 4 juta sekian, The Doll 1,2 juta, Jailangkung 2,5 juta. Film-film ini punya paket itu. Film yang layak tonton dan secara konten, orang juga merasa enggak rugi mengeluarkan uang. Kita harus bertanggung jawab ke penonton. Mereka rela mengeluarkan berapa ribu, setidaknya harus ada sesuatu yang baik.

Menurut Luna, apakah sudah cukup adil perlakuan industri terhadap aktor laki-laki dan perempuan?
Menurutku, Indonesia adalah salah satu tempat yang tidak mempermasalahkan gender tetapi melihat, baik laki maupun perempuan, kalau memang bisa berprestasi dan menghasilkan banyak penonton, kayaknya mereka bisa meminta berapa yang mereka mau. Maksudnya bukan "cowok lebih gede, cewek enggak". Namun sekarang kecenderungan di Indonesia, (bayaran) cowok di bawah cewek. Jadi kayaknya beda dengan Hollywood. Di sana kan cowok cenderung dapat lebih daripada cewek.

Lucunya, di negara itu, yang mengatasnamakan kesetaraan dan anti rasisme, bahwa orang kulit hitam bisa jadi pemain utama, itu mau ditepis semua, tetapi untuk honor, masih belum. Namun di sini mungkin malah setara. Kalau Amerika itu mungkin pemain utama cowok masih lebih berpengaruh ketimbang cewek. Kalau di sini, pemain cewek yang lebih dilihat. Ya aku asal nyeplos saja, tapi itu penilaian yang aku lihat. Mungkin seperti itu.

 


(ELG)

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

Tashoora, Invasi Berbahaya Sekstet dari Yogyakarta

13 hours Ago

Dalam musik yang energik sekaligus kontemplatif yang diramu Tashoora, terlantun lirik-lirik pui…

BERITA LAINNYA