Kejutan-kejutan Berdarah The Doll 2

Purba Wirastama    •    23 Juli 2017 11:44 WIB
resensi film
Kejutan-kejutan Berdarah The Doll 2
(Foto: Hitmaker Studio)

The Doll 2
Sutradara: Rocky Soraya
Naskah: Rocky, Riheam Junianti, Fajar Umbara
Produser: Rocky Soraya (Hitmaker Studios)
Durasi: 116 menit
Rilis Indonesia: 20 Juli 2017

Kayla, gadis yang belum menginjak usia remaja, hidup bahagia bersama kedua orangtua, Maira (Luna Maya) dan Aldo (Herjunot Ali). Mereka adalah keluarga kecil dari kelas ekonomi menengah atas. Namun, hari-hari bahagia itu segera pergi ketika suatu hari, mobil yang mereka tumpangi terguling karena kecelakaan. Ayah ibunya selamat, tetapi Kayla meninggal. Maira tertekan hingga berbulan-bulan.

Bagian horor dimulai sejak hari ulang tahun Kayla, enam bulan setelah kecelakaan. Maira merasa arwah anaknya masih di sekitar. Ritual dengan lagu Lingsir Wengi  dilakukan, dengan maksud memanggil arwah Kayla ke dalam boneka. Sejak saat itu, Maira semakin tertekan dan ketakutan. Ada hal-hal ganjil yang tidak dia pahami.

Itu baru pengantar. Film ini punya lapisan peristiwa cukup banyak, yang punya peran bagi perkembangan cerita. Setiap segmen memiliki kejutan masing-masing, menuntun penonton ke bagian selanjutnya layaknya bermain teka-teki. Belum lagi penuturan konteks soal Laras (Sara Wijayanto) dan Bagas (Rydhen Afexi), kakak beradik paranormal dari film sebelumnya. Mereka membantu keluarga kecil itu menghadapi teror gaib.


Cuplikan adegan The Doll 2 (Foto: Hitmaker Studio)

Rangkaian peristiwa barangkali terlalu banyak, tetapi formula ini sukses mengacak petunjuk-petunjuk ke bagian cerita selanjutnya. Ada sekian elemen yang membuat film ini tidak sekadar jadi horor gaib, tetapi juga penuh adegan berdarah. Definisi setan bukan hanya makhluk tak kasat mata yang menganggu manusia. Setan nyata hidup dalam sisi-sisi kelam manusia.

Sejumlah tokoh punya garis cerita dan motif masing-masing. Namun dalam film, perspektif penonton lebih sering mengikuti Maira, yang berusaha memahami situasi. Begitu setiap lapisan dikupas satu persatu, barangkali kita akan terkejut seperti Maira. Alhasil, dua jam durasi film menjadi satu perjalanan mencekam yang lumayan memuaskan. Efek suara dan musik berkontribusi penting di sini.

Efek spesial dan visual juga patut diacungi jempol. Hasilnya punya kontribusi besar dalam mencipta ketegangan. Kendati, beberapa bagian terasa tidak senafas dan lebih terkesan sebagai upaya pamer.

Kedalaman emosi karakter terasa kurang mengemuka. Ketika beberapa tokoh dihadapkan pada situasi yang melibatkan emosi, konflik batin mereka tidak terlalu berkesan. Hal yang lebih menonjol adalah efek tegang yang muncul setiap kali mereka menghadapi kejadian baru. Kendati demikian, Luna tampil paling meyakinkan. Tokoh yang dia perankan memang punya porsi panggung paling banyak.

Seperti sejumlah film Hitmaker lain, kisah The Doll 2  terjadi di rumah besar dengan segala kemewahan. Pilihan latar ini membuat rangkaian cerita punya banyak tempat untuk dieksplorasi. Hampir setiap sudut menjadi arena teror yang harus mereka hadapi.

Beberapa hal tampak punya referensi serupa dengan sejumlah film lain. Tidak terlalu segar, tetapi cukup membuat film ini menjadi jalinan cerita menegangkan. Namun satu hal lain yang patut dipertanyakan adalah kemampuan fisik beberapa tokoh. Mereka tampak terlalu baik-baik saja setelah terlibat sekian insiden fisik berdarah.

Namun barangkali tak masalah. The Doll 2  adalah pertunjukan horor thriller yang punya optimisme sendiri soal akhir cerita. Namun sebagai film kategori 17+ dengan berbagai unsur gaib, drama, laga, serta slasher, film ini tetap tidak cocok ditonton bersama anak-anak.




(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA