Night Bus, Film Terbaik Piala Citra Minim Popularitas

Purba Wirastama    •    14 November 2017 16:46 WIB
ffi (festival film indonesia)
Night Bus, Film Terbaik Piala Citra Minim Popularitas
Agus Nur Amal dalam Night Bus (dok NightBus Pictures)

Metrotvnews.com, Jakarta: Night Bus, film garapan Emil Heradi peraih Piala Citra untuk kategori Film Cerita Terbaik, memang terbilang kalah populer dibanding empat unggulan film terbaik lain. Produser Darius Sinathrya mengakui, mereka memiliki kendala dalam aspek distribusi dan pasca-produksi.

"Kami punya kendala di distribusi. (Kendala) memang dari pihak kami, pihak studio pasca-produksi, sehingga ada beberapa layar, yang (Night Bus) memang enggak bisa diputar, dan orang mau nonton enggak bisa di beberapa kota," kata Darius usai seremoni penerimaan Piala Citra di Manado, akhir pekan lalu.

Jumlah penonton Night Bus di bioskop jaringan berselisih jauh dibanding empat film lain. Cek Toko Sebelah mencapai angka 2,6 juta orang penonton dan jadi film terlaris keempat tahun edar 2016. Kartini mencapai 545 ribu penonton dan masuk dalam 20 besar film laris 2017.

Pengabdi Setan masih tayang di bioskop dan untuk sementara menjadi film terlaris 2017 dengan 4,1 juta penonton. Posesif, yang juga masih tayang dan pekan lalu telah mencapai angka 200 ribu penonton.

Night Bus Film Terbaik FFI 2017

Sementara Night Bus, yang dirilis di bioskop pada Kamis 6 April 2017, sudah turun layar pada sepekan berikutnya. Menurut Darius, ada sebanyak 105 layar yang memutar film garapan sutradara Emil Heradi ini, baik bioskop jaringan maupun yang lebih kecil.  


Teuku Rifnu Wikana, sutradara Emil Heradi, dan produser Darius Sinathrya (Night Bus)

"XXI ada 70-an (layar untuk Night Bus) dan sebenarnya cukup bagus. Jadi kami dibantu juga oleh pihak distributor. Bahkan dalam kondisi sulit pun, mereka tetap suportif dan proaktif memberikan arahan," ungkap Darius.

Proses Panjang

Night Bus menjadi proyek pertama Darius sebagai produser bersama Teuku Rifnu Wikana di bawah atap produksi NightBus Pictures. Dalam perjalanan awal, Kaninga Pictures (I am Hope, Bukaan 8, Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak) bergabung dengan produser eksekutif Willawati.

Pendanaan awal turut dibantu oleh sekitar 600 individu yang bergabung dalam program crowdfunding atau patungan publik. Patungan, kata Darius, digelar lewat beberapa wujud program yang dikaitkan dengan misi sosial.

Misalnya barter pakaian jin baru dengan yang lama untuk disumbangkan, atau kerja sama dengan Rumah Harapan Indonesia, tempat singgah bagi anak-anak sakit dari keluarga tak mampu.

"Kami beri credit (pengakuan keterlibatan kepada publik secara resmi) untuk teman-teman yang sudah mendukung filmnya. Tapi kemudian film ini harus didukung individu, investor, yang memang tertarik dengan filmnya," tutur Darius.

Dari sekian nama individu pendukung patungan, tiga yang disebut teratas Muly Munial, Ario Wibisono, serta Donna Agnesia istri Darius. Lalu ada banyak nama tertulis dalam laman web nightbuspictures.com.

"(Hasil patungan) itu sebenarnya buat dana awal kita produksi. Itu cukup membantu kita memulai proyek ini," imbuh Darius.


Situasi syuting film Night Bus (dok NightBus Pictures)

Tahap pra-produksi dimulai pada 2015 setelah naskah digarap hingga draf ke-6 oleh Teuku Rifnu Wikana dan Rahabi Mandra. Kisahnya diadaptasi dari cerita pendek Rifnu berjudul Selamat. Rifnu menulis cerpen ini pada 2010, setelah beberapa kali diceritakan secara lisan sejak 2009.

Darius bergabung pada 2014 sewaktu naskah sampai pada draf ke-3. Dia terlibat sebagai produser dan salah satu figuran. Sementara Rifnu ikut menjadi produser dan melibatkan diri sebagai pemeran utama, Bagudung, kondektur bis penumpang yang menuju daerah konflik Sampar.

Raih Piala Citra Pertama, Teuku Rifnu Wikana seperti Dicambuk

Sentot Sahid, editor film senior yang aktif sejak era 1990, menyebut bahwa produksi Night Bus mengingatkan dia terhadap proyek film Kuldesak garapan sutdarara Mira Lesmana, Riri Riza, Rizal Mantovani, dan Nan Achnas, serta penulis Adi Nugroho. Sentot juga terlibat jadi penyunting gambar.

"Saya melihat semangat teman-teman dari Night Bus ini, sebuah rumah produksi baru yang membuat satu film, yang orientasi ke berkarya. Perjuangan ini mungkin mengingatkan kita jaman dulu, pada film Kuldesak. Film Kuldesak itu dibikin ramai-ramai. Ini seperti itu kira-kira," kata Sentot di kawasan Daan Mogot Jakarta Barat, Oktober lalu.

Dalam Night Bus, Sentot juga ikut menjadi penyunting gambar bersama Kelvin Nugroho dan  Bobby Prabowo. Film ini mengantar mereka meraih Piala Citra dalam kategori Penyunting Gambar Terbaik. Mereka juga meraih penghargaan dari Festival Film Bandung 2017 dalam kategori Penata Editing Terpuji.

"Yang saya katakan mirip Kuldesak adalah semangatnya, gimana teman-teman memberi tenaga dan pikiran semaksimal mungkin untuk film yang dibuat. Saya kira semua film juga begitu dalam level berbeda-beda (...). Cuma, ada semangat yang agak berbeda dibanding film reguler," ujar Sentot saat ditanya lebih lanjut.

"Aku pikir semua pembuat film yang berkarya dengan jujur dan punya niat baik pasti akan punya usaha yang sama (...). Saya masih baru banget, pertama kali produksi. Jadi, ya benar bahwa kita punya semangat tinggi, sama seperti yang lain juga kok, tapi dibikin dengan cerita, pendekatan, dan genre berbeda. Ada pesan sangat kuat yang ingin disampaikan," ungkap Darius saat dimintai tanggapan mengenai penilaian Sentot.

Daftar Lengkap Pemenang FFI 2017

Usai turun layar dengan cepat karena beberapa persoalan dan kini memboyong enam Piala Citra, termasuk Pemeran Utama Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik, Night Bus disebut Darius masih memiliki pekerjaan rumah terkait filmnya. Selain itu, kini mereka juga sedang sibuk mengerjakan pasca-produksi film lain beraliran komedi romantis.

"Night Bus belum selesai, masih punya pekerjaan rumah yang harus kami selesaikan. Banyak yang minta untuk ditayangkan lagi, tapi kami agak menahan diri karena seharusnya kami bisa lebih baik lagi di beberapa bagian efek visual, yang rasanya memang belum sesuai harapan," ujar Darius.

Salah satu tantangan utama proyek Night Bus, kata Darius, memang pengerjaan efek visual yang memakan waktu lama. Menurut laporan Liputan6.com, nyaris separuh bagian dari film berdurasi 139 menit ini memakai teknologi CGI (computer-generated imagery).
 
"Ada total 128 adegan dalam film ini dan 48 adegan bersentuhan dengan CG. Lalu ada enam adegan besar atau sekuens dengan CG. Bahkan ada tiga adegan yang sepenuhnya dengan animasi 3D," kata Darius, awal April 2017.

Cerita Konflik di Daerah Kaya Sumber Daya Alam

Cerita Night Bus diangkat dari cerpen Selamat tulisan Rifnu, yang juga diinspirasi dari kisah pengalaman pribadi dia melewati satu kawasan yang sedang berkonflik pada 1999. Rampak dan Sampar adalah dua kota fiktif yang menjadi awal dan akhir perjalanan para penumpang di bis berwarna merah kuning bernama Babad.

Sampar adalah kota kaya sumber daya alam tetapi memiliki konflik berkepanjangan. Dalam perjalanan menuju ke sana, bis Babad yang dikemudikan Amang (Yayu Unru) bertemu para aparat pemerintah pusat yang bersiaga melawan milisi Sampar Merdeka, pemberontak yang menuntut kemerdekaan.

Setiap penumpang memiliki tujuan masing-masing tanpa berpikir bahwa ada konflik yang menghadang. Pasalnya, ada seorang penyusup dalam bis (Alex Abbad) yang membawa pesan penting untuk kelompok di Sampar. Para penumpang harus bertahan hidup di antara desingan peluru.

Tokoh yang dihadirkan, terutama penumpang bis, cukup banyak. Hal ini disebut Sentot menjadi hal tersulit baginya dan tim editor dalam mengatur ritme film.

"Film ini multi-plot, pemain banyak, bagaimana saya dan Kelvin membagi kapan itu masuk, ini masuk, itu sulit sekali. Pemain banyak sekali, bagaimana membuat semua pemain itu hadir, menonjol," ucap Sentot.

Ada wartawan yang istrinya mati di daerah konflik (Edward Akbar), mahasiswa korban perkosaan yang hendak pulang (Hana Prinantina), dan nenek yang ingin menjenguk makam anaknya (Laksmi Notokusumo) bersama sang cucu (Keinaya Messi Gusti).

Lalu ada pasangan yang kabur mencari penghidupan baru (Rahael Ketsia, Arya Saloka), aktivis LSM (Abdurrahman Arif), tunanetra yang rutin pulang setiap dua minggu (Agus Nur Amal), serta seorang kakek yang juga rutin pergi pulang (Torro Margens).

"Esensi cerita ada di perjalanan, kalau kata Rifnu, ibarat Indonesia kecil. Dengan semua penumpang beragam, mereka harus menghadapi konflik, situasi yang tidak mereka harapkan, seperti tagline kami, konflik tak pernah memilih korban. Kita sebagai warga Indonesia, jangan sampai terpancing jadi bagian dari konflik itu," ungkap Darius.


Teuku Rifnu Wikana dalam Night Bus (dok NightBus Pictures)


Dengan gagasan dan cerita ini, yang kemudian diwujudkan ke film oleh sutradara Emil dan tim penyunting Sentot, Kelvin, dan Bobby serta segenap divisi, Night Bus mendapat pengakuan sebagai Film Terbaik dan Penulis Skenario Adaptasi Terbaik lewat hasil pemungutan suara 58 juri akhir.

Tiga Panduan Utama Penjurian Festival Film Indonesia 2017

Satu dari tiga kriteria utama penjurian FFI kali ini adalah kekuatan gagasan. Panduan ini disusun oleh tim panitia bidang penjurian yang dipimpin Riri Riza. Kendati tidak terlibat sebagai pemberi suara dalam proses penilaian, Riri menyebut bahwa kelima film unggulan memiliki gagasan kuat masing-masing, termasuk Night Bus.

"Night Bus secara gamblang bicara tentang persoalan politik era militerisasi di Indonesia. Saya kira, cepat sekali asosiasi sepakat bahwa itu film yang baik karena pesannya, karena gagasannya. (Aspek) yang lain-lain masih bisa diperdebatkan," kata Riri dalam diskusi terbuka bersama para juri di Jakarta, akhir Oktober lalu.

Penilaian awal Riri mengenai 'dapat diperdebatkan', nyatanya tercermin lewat hasil pemungutan suara akhir. Film ini menang dalam kategori naskah dan film terbaik. Sementara aspek-aspek teknis yang dapat diindera, seperti sinematografi, artistik, suara, musik, dan lagu tema, dimenangkan Pengabdi Setan produksi Rapi Films dan CJ Entertainment.

Pengabdi Setan Borong Tujuh Piala Citra 2017

Bukan berarti bahwa empat film unggulan lain minim gagasan. Sejumlah panitia dan juri menegaskan dalam beberapa kesempatan, bahwa terpilih sebagai unggulan atau nominee adalah bukti bahwa film terkait sudah menjadi pemenang dalam FFI.

"Saya kira, dalam film-film FFI kali ini, banyak sekali pesan kuat yang sangat dibutuhkan hari ini dalam tantangan kehidupan kebangsaan, keagamaan, dan sosial di sekitar kita," kata Usman Hamid, salah satu juri mandiri.

Film-Film Unggulan FFI 2017 Disambut Positif Juri

Night Bus adalah produksi pertama Darius dan Rifnu, sekaligus film cerita panjang kedua arahan Emil Heradi. Sebelumnya dia telah membuat film panjang Sagarmatha (2013) dan sedikitnya tiga film pendek sejak 2008, yaitu Negeri Maling, Fronteira, dan segmen Rumah Perkara dalam omnibus Kita Versus Korupsi.

Kendati mengukir prestasi manis di FFI, Darius tak mau menjadikan ini sebagai momen untuk membuat sekuel. Menurut dia, cerita Night Bus sudah selesai begitu para tokoh tiba di Sampar. Bisa jadi ide film dengan tema dan genre serupa, tetapi cerita dan pendekatan akan dibuat berbeda.

"Aku pikir untuk menyampaikan pesan kemanusiaan, kita enggak bisa bercanda, engak bisa main-main. Kalau sudah dipanjangkan, cerita melebar ke mana-mana. Kalau bercandaan kami sih banyak. Dilanjutkan, judulnya War of Sampar (...), tapi esensi cerita bukan di sana," tutur Darius.


Rencana Penayangan Ulang

Pada awalnya, Night Bus hendak dikirim ke festival film internasional terlebih dulu, baru dirilis di bioskop domestik. Namun menurut Darius, ada beberapa kendala yang membuat rencana ini batal.

Lagipula, menurut produser eksekutif Willawati, film yang sudah dirilis di bioskop sulit atau bahkan tidak dapat dilombakan di festival film internasional. Beberapa festival memberi syarat film harus dirilis perdana di festival, bukan di bioskop.

"Jadi kalau belum (rilis) teatrikal, masih bisa (diikutkan ke festival). Mungkin bukan (dikirim ke) festival, tapi distribusi. Kalau distribusi, dijual, masih bisa. Tapi kalau dilombakan, agak berat. Mungkin enggak bisa karena sudah tayang," kata Willa saat dihubungi Metrotvnews secara terpisah.

"Kalau distribusi di luar, kami coba. Ada banyak tawaran ke kami, surel banyak sekali masuk untuk distribusi," imbuhnya.

Darius juga berharap Night Bus dapat ditayangkan ulang karena permintaan dari penonton masih tinggi. Hal ini tercermin lewat program pemutaran lima film unggulan FFI 2017 di Jakarta pada awal November lalu.

"Mudah-mudahan (bisa tayang lagi). Kemarin,  ketika ada public screening yang dilakukan panitia FFI, antusiasme masih tinggi. Banyak yang waktu itu ingin nonton tapi ternyata sudah turun layar," ucap Darius.

Unggulan Film Terbaik FFI 2017 Diputar Ulang di Jakarta


Namun kepastian soal pemutaran ulang harus menunggu 'pekerjaan rumah' yang hendak diselesaikan Darius dan kawan-kawan. Mereka akan mengikir kembali bagian dalam pasca-produksi, terutama aspek efek visual, sebelum ditayangkan ulang.

"Semalam kami berdiskusi internal, pasca-produksi mau seperti apa karena berhubungan dengan waktu (...). Kami harus punya tenggat waktu sampai kapan," ujar Willa.

Willa dan tim Kaninga kini juga tengah sibuk menyiapkan hal-hal terkait perilisan Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak produksi Cinesurya. Rencananya, Night Bus akan dirilis tak jauh dari waktu perilisan Marlina.

"Bareng juga enggak apa, tapi memang belum siap filmnya. Kalau bisa sih, paling telat, ya Desember," tukas Willa.


 


(ELG)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA