Film-Film Unggulan FFI 2017 Disambut Positif Juri

Purba Wirastama    •    25 Oktober 2017 19:18 WIB
ffi (festival film indonesia)
Film-Film Unggulan FFI 2017 Disambut Positif Juri
Film Cek Toko Sebelah, Night Bus, Kartini, Pengabdi Setan, Posesif

Metrotvnews.com, Jakarta: Sejumlah juri Festival Film Indonesia 2017 menilai bahwa film-film yang diunggulkan pada gelaran festival tahun ini menunjukkan keragaman dalam beberapa hal. Salah satu contoh, beberapa film panjang yang unggul di banyak kategori punya genre atau aliran beragam.

Soleh Ruslani, salah satu juri yang mewakili Ikatan Karyawan Film dan Televisi Indonesia (KFT) di dewan penjurian FFI 2017, mengungkap pandangan ini dalam sesi diskusi di CGV Grand Indonesia Jakarta, Selasa (24/10).

"Film-film yang masuk FFI sekarang memang sangat variatif. Ada komedi, drama, horor. Semua itu, yang sangat menarik, adalah bahwa mereka dengan sungguh-sungguh berusaha membuat film sebaik mungkin," kata Soleh.

Daftar Nominasi FFI 2017

Soleh adalah sinematografer yang aktif sejak era 1970 dan telah terlibat di lusinan proyek film cerita panjang, seperti Serangan Fajar (1981), Cinta dalam Sepotong Roti (1990), serta Kantata Takwa, film produksi 1990-an yang baru dirilis pada 2008. Mewakili KFT, Soleh menjadi juri untuk film cerita panjang bersama Karsono Hadi, Sentot Sahid, dan El Badrun.

"Tentu saja saja dalam setiap FFI, pasti ada yang menonjol, yang tentunya akan jadi (fokus) perhatian juri, kita semua, bahwa sineas muda sungguh berusaha untuk menjadi sineas, yang bukan saja mandiri, tapi punya kualitas dan gagasan. (Mereka) punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada penonton," lanjutnya.

Keragaman aliran yang dimaksud Soleh dapat dilihat lewat daftar film yang diunggulkan di banyak kategori. Misalnya Kartini (Legacy & Screenplay), Pengabdi Setan (Rapi & CJE), Night Bus (NightBus & Kaninga), Posesif (Palari), dan Cek Toko Sebelah (Starvision). Lima film ini unggul di kategori Film Terbaik dan sedikitnya delapan lain dari total 18 kategori.

Dominasi Kartini dan Pengabdi Setan di FFI 2017

Donny Damara, juri lain yang mewakili Rumah Aktor Indonesia, sepakat dengan Soleh. Dia juga menilai bahwa film-film terkini lebih berani menyajikan tema yang dulu tidak berani diangkat.

"Tema film sekarang makin beragam. Tema yang tadinya agak takut ditonjolkan, kini mulai ditonjolkan, dikemas dalam bentuk film. Menurut saya, itu suatu nafas baru, terutama dari segi teknik dan profesional, yang tentu lebih bagus dari zaman dulu," kata Donny dalam kesempatan sama.

 "Kami harus berhati-hati dalam memilih siapa yang jadi pemenang. Kami juga percaya dengan setiap rekomendasi (film-film unggulan) dari asosiasi," ucap dia.


Kartini (Legacy Pictures & Screenplay Films)

FFI 2017 melibatkan total 75 juri untuk terlibat dalam proses pemungutan suara pemenang. Khusus untuk 18 kategori film cerita panjang, ada 42 juri dari 11 asosiasi profesi perfilman dan 18 juri mandiri dari sejumlah organisasi di luar produksi film, seperti kritik dan festival.

Lalu ada masing-masing lima juri perwakilan dua lembaga, yang menilai film pendek, film animasi, dan film dokumenter. Juri untuk kelompok ini juga merupakan sineas atau pegiat yang punya riwayat relatif panjang di ekosistem perfilman, seperti Lucky Kuswandi, Mandy Marahimin, dan Wahyu Aditya.

18 juri mandiri dan sejumlah juri film cerita panjang juga mendapat hak untuk menilai film-film unggulan dalam kelompok ini.

Usman Hamid, salah satu juri mandiri, berpendapat bahwa ada banyak film domestik yang punya peran positif dalam perkembangan kebudayaan. Beberapa unggulan FFI, termasuk film pendek, dokumenter, dan animasi, menyajikan gagasan moral kuat.

"Beberapa yang sangat menonjol, membawa satu gagasan dan pesan moral yang sangat tinggi. Saya kira dalam film-film FFI kali ini, banyak pesan kuat yang sangat dibutuhkan hari ini dalam tantangan kehidupan kebangsaan, keagamaan, dan sosial di sekitar kita," ujar Usman.


Night Bus ((NightBus Pictures & Kaninga Pictures)

Film Pendek dan Animasi

Selain dokumenter, film pendek dan animasi juga masuk dalam program penghargaan FFI. Tahun ini, ada enam unggulan film dokumenter panjang, tujuh dokumenter pendek, lima film animasi pendek, serta 10 film cerita pendek.

Jumlah unggulan untuk film cerita pendek lebih banyak dibanding FFI 2016 yang hanya menominasikan lima film saja. 10 film pendek ini direkomendasikan oleh dua organisasi pegiat distribusi film-film pendek, yaitu CLC Purbalingga dan Boemboe.

Wregas Bhanuteja, sutradara Film Pendek Terbaik FFI 2016, Prenjak, adalah salah satu juri untuk film cerita pendek. Menurut Wregas, 10 film pendek unggulan juga punya keragaman soal profil tim produksinya.

"Pembuat film berasal dari berbagai tingkat usia. Ada yang dari SMA, kuliah, profesional, bahkan dari sutradara yang sebelumnya sudah membuat film panjang. Itu justru membuka peluang bagi pembuat film pendek untuk memajukan gagasan dan kebaruan ide di festival ini," kata Wregas.

Pencapaian teknis setiap film juga beragam. Menurut Wregas, ada film pendek yang dibuat dengan kamera DSLR kecil. Ada juga yang menggunakan kamera besar seperti Redcam.

"Kami sebagai juri, melihatnya justru harus lebih jauh dari teknis, tapi lebih ke kebaruan gagasan yang ingin disampaikan para pembuat, karena semua pembuat film pendek punya kepekaan untuk melihat fenomena sosial yang terjadi di lingkungan mereka," ujar Wregas.

Film animasi pendek unggulan diajukan Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (Ainaki) dan Hello Motion. Ada lima juri yang ditunjuk untuk menilai kelima film unggulan.

Tiga Panduan Utama Penjurian Festival Film Indonesia 2017

Wahyu Aditya, salah satu juri yang mewakili Hello Motion, menilai bahwa pembuat film animasi unggulan sudah matang alam berkarya. Biasanya animator pemula akan lebih heboh dalam hal teknis, ledakan, kerumitan karakter, dan efek spesial lain.

"Tapi di sini saya melihat ada kematangan dalam berkarya. Mereka mencoba bercerita dari hal-hal yang sangat dekat dengan topik sederhana, misal tentang menyebarang jalan, berpuasa, interaksi di kelas. Tapi secara teknis juga tidak memalukan," kata Wahyu.

"Menggembirakan. Semua dikerjakan oleh anak-anak muda berusia di bawah 30 tahun. Ini sebagai contoh optimisme di bidang animasi, bahwa ada semangat untuk mengembangkan animasi di Indonesia," lanjutnya.

Film dengan Gagasan Kuat

Kekuatan gagasan memang menjadi salah satu kriteria penjurian FFI 2017. Dua kriteria lain adalah pencapaian teknis-artistik-estetika serta tingkat profesionalitas tim di balik film.

Riri Riza adalah Ketua Bidang Penjurian FFI 2017, yang menangani pembuatan pedoman dasar bagaimana juri menilai film unggulan. Menurut Riri, mereka hendak mencari ukuran standar yang jelas, konkret, tapi dapat ditafsirkan dengan berbagai kepekaan dan keahlian dari setiap asosiasi dan juri yang terlibat.


Pengabdi Setan (Rapi Films & CJ Entertainment)

Kriteria tersebut dirasa dapat menjadi jembatan ke sana. Terbuka terhadap tafsir dirasa penting untuk mengakomodir selera yang berbeda-beda dari setiap juri yang terlibat. Soal kriteria terperinci, panitia FFI menyerahkan kepada pertimbangan pribadi setiap juri.

"Tiga (kriteria) itu sebenarnya tidak bisa dilihat satu-persatu. Saya yakin para juri akan melihat film terbaik dalam tiap kategori dengan pertimbangan ketiga gagasan. Semestinya ini bisa kita pertahankan dalam waktu panjang," ucap Riri.

"Misal kita diskusi soal aktor, enggak perlu diberi kisi-kisi akting yang baik seperti apa. Kami percaya dengan juri yang direkomendasikan asosiasi. Mereka punya pengalaman, punya pengetahuan, dan punya kepekaan untuk menilai, yang mana paling bagus di antara film-film unggulan itu," imbuhnya.

Kendati tiga kriteria harus dilihat secara utuh, kekuatan gagasan menempati posisi utama. Alasannya, menurut Riri, adalah bahwa larut dalam gagasan film lebih penting daripada larut dalam aspek teknis. Film dengan cerita dan karakter yang jelas membuat penonton dapat bersimpati, terkoneksi, dan mengenang dalam waktu panjang.


Posesif (Palari Films)

Alasan lain adalah bahwa media untuk menonton film tak lagi bioskop. Namun juga ada televisi atau saluran video on demand di laptop dan ponsel, yang mana tidak seoptimal bioskop dalam segi pengalaman menyimak film. Misalnya, penonton film di rumah tak dapat mengalami suara yang lebih rinci jika diputar di bioskop.

"Apa yang menyambungkan itu semua adalah ide, gagasan, estetika, yang selain terlihat, pesan secara subliminal juga bisa ditangkap," tukas Riri.

Proses penjurian 75 juri untuk film-film unggulan FFI 2017 telah selesai pada 24 Oktober 2017. Selama dua pekan, para juri memiliki akses online untuk menonton seluruh film atau bagian film yang berhubungan dengan kategori penilaian. Film-film dari sejumlah kategori juga diputar ulang kepada juri di bioskop XXI Setiabudi dan CGV Grand Indonesia Jakarta.

Dalam kurun waktu ini pula, setiap juri memberikan suara secara tertutup untuk memilih mana film terbaik dari tiap kategori. Tabulasi hasil suara dikelola lembaga akuntan publik Deloitte, yang telah bekerjasama dengan FFI setidaknya sejak 2014.

FFI 2017 Upayakan Semua Kategori Pemenang Ditayangkan di TV

Hasil tabulasi akan menentukan pihak-pihak yang layak mendapat penghargaan Piala Citra. Malam puncak FFI 2017 akan diadakan di Manado pada Sabtu 11 November 2017. Acara akan disiarkan secara langsung di salah satu saluran televisi. Belum ada kepastian dari panitia soal mana kanal televisi yang menyiarkan, tetapi kandidat utama adalah TVRI.



 


(ELG)

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

Danilla, Bayangan atas Sakratulmaut dan Merayakan Kegamangan Hidup

1 day Ago

Danilla merengkuh segala yang bisa dilakukan oleh seorang penyanyi pendatang baru. Mulai dari m…

BERITA LAINNYA