Cerita di Balik Film Beyond Skyline

Purba Wirastama    •    29 Oktober 2017 16:06 WIB
film asing
Cerita di Balik Film Beyond Skyline
Liam O'Donnel bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara Beyond Skyline (Foto: Purba Wirastama)

Metrotvnews.com, Jakarta: Beyond Skyline  merupakan sempalan dari film fiksi ilmiah Skyline  dengan kisah besar yang masih sama, yaitu invasi alien ke bumi. Film debut sutradara Liam O'Donnel ini dibintangi oleh Frank Grillo, Bojana Novakovic, Iko Uwais, Callan Mulvey, dan Yayan Ruhian.

Skyline, film pertama yang digarap Greg dan Colin Strause (Aliens vs. Predator: Requiem) menceritakan kejadian invasi di Los Angeles. Dalam Beyond Skyline, kisahnya juga terjadi di Los Angeles dalam waktu bersamaan, tetapi kemudian dibawa lebih jauh ke puing-puing candi kuno di Laos.

Kendati demikian, referensi utama visual untuk latar candi adalah kompleks Candi Sewu atau Prambanan di Yogyakarta. Mengapa bisa demikian?

Berikut cerita di balik pemilihan Laos dan Prambanan, beserta dua penggal cerita lain soal seluk beluk produksi film Beyond Skyline. Film ini akan tayang di bioskop mulai Rabu 1 November 2017.

1. Pemilihan Laos sebagai latar cerita

Setelah terlibat sebagai salah satu produser dan penulis naskah Skyline  (2010), Liam ingin mengembangkan kisahnya lebih jauh dengan membuat film lanjutan yang tokoh utamanya berbeda. Dia bertindak sebagai penulis sekaligus sutradara.


(foto via imdb)

Laos diakui Liam sebagai pilihan personal yang cukup 'egois'. Istrinya Phet Mahathongdy, adalah aktris asal Laos. Bahkan nama anaknya yang kini berusia 8 tahun, Sua, dijadikan nama salah satu tokoh cerita.

"Dua hal itu membuat aku ingin ceritanya terjadi di situ. Namun ketika kami mencari lokasi syuting, Laos kurang sesuai. Kami ke Malaysia, juga enggak sesuai. Hal ini berkembang terus-menerus. Kami ingin ada reruntuhan candi, kami belum tahu akan ke Prambanan," kata Liam usai press screening Beyond Skyline  di Epicentrum XXI Jakarta, beberapa waktu lalu.

Selain itu, alasan utama terkait cerita adalah Laos punya bangunan candi kuno yang dapat mewakili 'tempat tak berpenghuni'. Liam menyebut bahwa dalam logika umum cerita fiksi alien, alien yang hendak datang dan mengambil otak manusia pasti akan mengincar kota besar berpenghuni. Misalnya Los Angeles atau New York. Candi-candi Laos dianggap dapat memberi sentuhan kontras terhadap pola umum ini.

"Mereka tidak datang ke sini untuk air atau emas. Karena itu, aku ingin babak ketiga terjadi di tempat yang sangat terpencil. Aku terinspirasi film James Bond Skyfall, ketika mereka mundur ke markas terpencil dan para penjahat datang ke sana. Aku ingin sesuatu seperti ini," ucap Liam.


2. Pemilihan Prambanan sebagai lokasi syuting

Perjalanan tim riset lokasi sampai ke Indonesia. Lalu diputuskan bahwa kompleks Candi Sewu, yang di dalamnya terdapat Candi Prambanan, adalah lokasi syuting yang tepat untuk mewakili candi-candi di Laos. Syuting juga dilakukan di Air Terjun Sri Gethuk, Gunung Kidul.

"Kami mencari tempat yang seperti Laos, ada air terjun dan sawah padi di sekitar, dan yang terdekat adalah Prambanan. Untung bagi kami karena itu adalah tempat yang indah," ujar Liam.

"Kini aku juga tahu bahwa respons penonton Indonesia positif. Jika aku tahu lebih awal, mungkin aku akan ke sini lebih dulu (saat mengerjakan naskah). Namun waktu itu kami sudah berproses," imbuhnya.


Iko Uwais dan Frank Grillo dalam Beyond Skyline (foto via imdb)

Liam dan tim merasa lanskap Candi Sewu sesuai dengan gambaran awal mereka. Mereka ingin cerita terjadi di lokasi terpencil dan dilupakan, tetapi bukan hutan.

"Kami butuh tempat baru yang indah. Ketika sampai di Candi Sewu, aku terkejut. Lokasi ini sangat sinematik, ke mana pun memotret hasilnya bagus. Jadi aku bayangkan ini ada di layar yang lebih besar," ucapnya.

Syuting di Prambanan berlangsung selama empat hingga lima hari karena porsi latar cerita tempat ini tidak dominan. Selain itu, sejumlah adegan berlatar candi juga dikerjakan secara digital di Infinite Studios Batam.

"Ada banyak tantangan dan batasan untuk syuting di tempat semacam itu (candi). Kami sangat menghargai apa yang bisa dan tidak bisa kami lakukan di sana. Hal-hal yang 'gila' dikerjakan lewat efek visual."

"Lebih banyak adegan bertarung di Candi Sewu. Candi Prambanan lebih banyak untuk establish shot. Kami secara digital meletakkan itu bersebelahan," jelas Liam.

Setelah proyek selesai, Liam mengakui bahwa representasi lokasi adalah masalah penting. Laos harus ditunjukkan dengan akurat. Begitu pula Indonesia. Namun jika waktu itu proyek diulang, prosesnya akan lebih lambat. Sebagai catatan, film ini dikerjakan dari akhir 2014 hingga penghujung 2017.

"Pada akhirnya semoga orang-orang dapat menikmati film serbuan alien yang seru ini. Mungkin ke depan akan ada film yang lebih 'Indonesia' karena dibuat di Indonesia oleh kru Indonesia yang begitu antusias," kata Liam.

"Sekarang saya tahu kenapa saya harus nunggu tiga tahun untuk menonton film ini," ujar Yayan berkelakar dalam kesempatan sama, setelah dia menonton film ini.

3. Siapa Karakter Iko Uwais dan Yayan Ruhian

Iko berperan sebagai Sua, salah satu pentolan kelompok gerilya di kawasan Golden Triangle Laos. Dia dan kelompoknya punya markas bawah tanah, yang juga dipakai sebagai tempat berlindung dari serbuan alien.

Iko beradu akting dengan Pamelyn Che, pemeran salah satu prajurit gerilya, serta Callan Mulvey, ahli kimia dari kelompok bawah tanah ini. Pada satu titik, dia juga bertemu dengan tokoh utama film, yang diperankan Frank Grillo.

Sementara Yayan punya peran yang lebih minor. Dia adalah salah satu pentolan kelompok yang kontra dengan kelompok bawah tanah Sua. Perjalanan cerita membuat karakter Yayan ikut berperang melawan alien yang menyerbu candi-candi Laos.


Yayan Ruhian dalam Beyond Skyline (foto via imdb)

Selain berakting, Iko dan Yayan juga menjadi koreografer laga. Kolaborasi kedua aktor laga ini diawali di film Merantau  (2009) garapan Gareth Evans. Setelah itu mereka beberapa kali bekerjasama sebagai penata adegan laga atau aktor. Misal Star Wars: The Force Awakens  serta The Raid  dan sekuelnya.

Baik Iko maupun Yayan secara terpisah juga terlibat sebagai koreografer di sejumlah proyek film laga. Iko misalnya, menangani adegan laga The Night Comes for Us  dan Mile 22. Lalu Yayan mengatur koreografi laga film Wiro Sableng.

Untuk Beyond Skyline, Liam membidik mereka berdua setelah menonton film The Raid. Dia mengaku terkesan dan ingin memasukkan unsur beladiri khas film The Raid.

"Liam sudah tahu film The Raid. Dia ingin ada gaya The Raid, menyesuaikan (cerita Beyond Skyline). Saya melawan alien," kata Iko dalam kesempatan terpisah, awal Oktober 2017.

(Beyond Skyline Tiru Gaya Bertarung The Raid)

4. Terinspirasi Alien vs. Predator, Terminator, dan Star Wars

Liam mengakui ada beberapa film fiksi ilmiah sebelumnya yang dia jadikan inspirasi dan sumber referensi. Film sekuel Alien vs. Predator: Redemption  (2007) garapan The Brothers Strause adalah proyek film panjang pertama Liam. Dia bekerja sebagai konsultan kreatif efek visual di bawah bendera Hydraulx.

"Tentu saja aku sangat menyukai film ini dan nuansa yang ada di hutan predator. (Dalam Beyond Skyline), aku ingin antagonis (alien alfa) lebih ringan, feminin, kurus, dan kejam," ungkap Liam.

"Awalnya aku ingin membuat pilot alien ini besar, tetapi nanti jadi terlalu jelas. Misal seperti T-1000 di Terminator (Judgment Day) itu lebih kecil dari Arnold (Schwarzenegger), tapi dia lebih bagus, cepat, dan mematikan. Jadi kami buat dia (alien Beyond Skyline) lebih pintar dan ada energi yang kontras," lanjut dia.


Beyond Skyline (foto via imdb)

Liam juga menyebut bahwa Star Wars  (1977) adalah film favorit pertama. Menurut dia, film ini jenius karena dibuat dengan dana terbatas tetapi bisa begitu sukses dan melahirkan waralaba besar yang masih bertahan hingga sekarang.

"Seandainya film itu dibuat sekarang, itu juga bukan film berdana besar. Kalian bisa bikin Star Wars  pertama dengan USD 40 juta hari ini. Film yang sekarang mereka (Lucasfilms) buat dengan dana lebih dari USD 200 juta," ungkap Liam.

Alasannya, kata Liam, adalah soal efek visual yang minim dan lebih banyak efek praktis. Misalnya robot R2-D2 yang didaur ulang dari kaleng bekas, atau pengambilan gambar yang terpusat di beberapa lorong, yang mewakili ratusan lorong di kapal induk Death Star.

"Aku suka betapa film ini punya banyak akal dan membuat sesuatu yang mengubah dunia. Siapapun yang bekerja di film sci-fi pasti melihat itu (Star Wars) sebagai inspirasi," tukas dia.

 


(DEV)

Cinta 99% Dea Dalila

Cinta 99% Dea Dalila

3 days Ago

Di momen yang tepat dan didukung tekad yang kuat, Dea memberanikan diri. Dia resmi memutuskan k…

BERITA LAINNYA