Dilan, Rangga dan Perayaan Kisah-kasih di Sekolah

Cecylia Rura    •    02 Februari 2018 16:22 WIB
montase film
Dilan, Rangga dan Perayaan Kisah-kasih di Sekolah
Ilustrasi Dilan dan Rangga (Gambar: Medcom.id)

Jakarta: "Jangan rindu, berat. Kamu enggak akan kuat. Biar aku saja."

Begitu kira-kira persisnya bunyi salah satu kalimat rayuan tokoh Dilan yang kini menggelegar di media sosial. Ya, tokoh Dilan dalam tulisan Pidi Baiq ini cukup menyita perhatian anak muda sekarang. Boleh dikata banyak penonton mengacungkan dua jempol pada kisah manis yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq.

Visualisasi dari Dilan digambarkan sebagai sosok remaja tengil dan merupakan Panglima Tempur dari geng motor di sekolahnya. Meski tengil, remaja ini memiliki sejuta kamus penuh romansa untuk menggoda perempuan yang memikat hatinya, Milea.

Perkenalan mereka disengaja, tak juga digambarkan sewajarnya. Mengambil latar belakang dan properti era 1990-an, Dilan saat itu mengendarai Honda CB100 menghampiri Milea - anak baru di sekolah Dilan - yang sedang berjalan kaki menuju sekolah. Milea baru pindah dari Jakarta ke Bandung.

"Kamu Milea, ya?"

"Iya."

"Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin."

Pertemuan-pertemuan mereka seolah terjadi lewat ramalan Dilan. Dan benar, mereka selalu bertemu sesuai yang direncanakan Dilan, bukan ramalannya.

Dilan yang ingin tampak romantis dengan titah dan tingkah laku yang terbilang kaku untuk ukuran remaja kasmaran menjadi daya tarik penonton. Sepatah dua kata narsisme Dilan muncul sebagai awal perjumpaan untuk mengungkapkan rasa sayang kepada Milea. Terdengar jujur dan naif.

"Milea, kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja."

Sesederhana itu tokoh Dilan menyatakan perasaannya. Tanpa gerak-gerik semiotik agar diprediksi oleh lawan mainnya.

Milea yang saat itu berstatus sebagai anak baru sudah memiliki pacar di Jakarta. Tentu, ia tidak tahan jika harus menjalani hubungan jarak jauh dengan Beni, pacar Milea. Lebih-lebih ditemani sikap Dilan yang ofensif, yang saat itu belum mengetahui status hubungan Milea.

Namun, Beni tak selalu bisa memantau Milea oleh sebab jarak. Apa yang ditakutkan Dilan adalah pria-pria di sekeliling Milea, seperti teman sekelasnya, Nanda, remaja cerdas berpenampilan nerd yang diidolakan remaja perempuan di sekolah. Belum lagi Kang Adi, mahasiswa Insitut Teknologi Bandung (ITB) yang tiap sore dengan leluasa bisa berkunjung ke rumah Milea, dengan dalih sebagai pengajar. Meski memang, peran utama Kang Adi sebagai guru les Milea dan adiknya.

Dilan memang tidak memiliki ruang bebas untuk berpapasan tak sengaja dengan Milea seperti Nandan dan Kang Adi, atau waktu khusus seperti Beni. Maka, Dilan selalu mencari waktu lewat surat, pertemuan di sela istirahat, bahkan sepulang sekolah.

Digambarkan sebagai sosok yang tengil dan tergabung dalam geng motor, rupanya bukan menjadi tolak ukur Dilan yang dikatakan pencemburu buta. Nanda yang saat itu berada di lingkaran pertemanan Milea, sempat membuat Dilan berprasangka mereka berpacaran. Bukan melabrak, Dilan justru menjauh dan bersikap acuh.

"Cemburu itu cuma buat orang yang tidak percaya diri."

"Jadi?"

"Iya, dan sekarang aku sedang tidak percaya diri."

Perputaran adegan rayuan itu terus terjadi. Sampai pada titik Milea mengubah hidup Dilan dari perawakan anak geng motor. Keakraban semakin terjalin ketika Dilan dan Milea saling berkunjung. Baik orangtua Milea maupun Dilan sudah mengenal satu sama lain. Tak digambarkan peran orangtua mendominasi dalam hubungan remaja di era 90-an itu. Namun, sebuah adegan menunjukkan keakraban ibu Dilan berdarah Aceh yang menerima baik kehadiran Milea di kehidupan Dilan.

Apa itu yang biasa terjadi di kalangan remaja 90-an? Atau kebetulan Dilan yang memiliki sifat narsisme nan romantis di balik perawakannya yang nakal dan garang?

Film Dilan begitu menarik ketika menampilkan adegan tahun 1990-an serta kalimat rayuan kaku nan narsis. Ditambah, minimnya intrik antar tokoh yang biasa mengglorifikasi adegan dalam sebuah film. Sepekan diputar sejak 25 Januari 2018, film ini berhasil menarik perhatian nyaris dua juta penonton di Indonesia. Dengan demikian, apakah Dilan dan Milea kelak memegang tongkat estafet kekuatan karakter Rangga dan Cinta dalam Ada Apa Dengan Cinta?

Dari segi latar cerita, Rangga dan Dilan hanya berbeda satu dekade, era 1990-an dan 2002. Dilan dengan titah bahasa yang kaku, lugas, dan naif tapi berperawakan lincah dan tengil. Sementara Rangga yang dingin, serius, dengan sikap penuh teka-teki digambarkan sebagai tokoh yang penuh konflik dalam hidupnya, menjadi sebab ia begitu puitis lewat syair puisi. Dilan dengan ketengilannya dan Rangga yang tak bersahabat. Dilan dengan sepeda motor Honda CB100, Rangga dengan kecintaannya pada buku-buku sastra lama.

Sementara Milea dan Cinta, dua tokoh ini juga memiliki sikap yang bertolak belakang. Milea sebagai murid baru, tak cukup aktif seperti Cinta, penggiat kolom majalah dinding di sekolahnya.

Sebagai kilas balik, Cinta dan Rangga bertemu karena sebuah puisi yang dimenangkan oleh Rangga. Cinta yang selalu memenangkan lomba puisi di sekolahnya merasa tidak terima, lalu mulai mencari tahu siapa sosok Rangga. Dalam konteks asmara Rangga dan Cinta, tokoh perempuan yang digambarkan memiliki ketertarikan lebih terhadap lawan mainnya.

Rangga yang dingin, perlahan mencuri perhatian Cinta. Perkenalan mereka diawali penuh rasa curiga dan prasangka. Tak segamblang Dilan dan Milea, yang memang didominasi oleh Dilan.

Saking pendiamnya sosok Rangga, ia hanya memiliki Pak Wardiman, petugas kebersihan di sekolahnya sebagai sahabat bercerita. Dilan, anak geng motor di sekolahnya memiliki segerombolan teman sekaligus musuh di sekolah lain.

Rangga dan Cinta bahkan sempat bermusuhan. Kalimat dahsyat yang kemudian viral dari film ini tidak lain, "Rangga, kamu jahat!"

Lewat kalimat jitu tersebut, Rangga akhirnya meminta maaf pada Cinta. Kisah asmara keduanya pun dimulai di tengah cerita. Berbeda dengan Dilan yang memulai cerita cinta lewat ungkapan gamblang.

Dan mungkin gara-gara film ini, pria-pria kutu buku mulai memiliki daya tarik di mata para remaja putri saat itu.

Jelas jika dibandingkan, peran antartokoh Rangga dan Cinta serta Dilan dan Milea seperti terbalik. Namun, Milea tidak sejahat Rangga. Begitu pula Cinta, tak selincah Dilan. Salah satu pihak tampak berhasil mengubah kehidupan lawan mainnya lewat perasaan.

Kisah Cinta dan Rangga yang cukup fenomenal bahkan seperti tak lekang dimakan waktu. Dirilis perdana tahun 2002, kisah cinta mereka beberapa kali kembali diangkat. Pertama, lewat sinetron berjudul sama yang saat itu diperankan Ririn Dwi Ariyanti, Revaldo dan Andrew White. Dalam cerita Ada Apa Dengan Cinta versi sinetron, ada orang ketiga yang menjadi bumbu cerita. Sinetron ini dirilis setahun setelah filmnya beredar dan tayang hingga 2005. Banyak pengembangan cerita yang cukup rumit di dalamnya. Sayang, gaungnya tak sekuat kisah cinta Rangga dan Cinta yang diperankan Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo.

Seolah tak tergantikan, pada 6 November 2014 penggemar serial romantis dikejutkan dengan kisah Rangga dan Cinta dalam mini drama produksi LINE. Dikisahkan 12 tahun berlalu, Rangga yang masih diperankan Nicholas Saputra telah bermukim di New York. Cinta masih di Jakarta dan bertunangan dengan pria lain. Mini drama ini sekaligus sebagai bentuk promosi aplikasi chat LINE saat itu.

Dalam mini drama, Rangga muncul membacakan narasi puisi karya Aan Manshur yang dikemas dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini.





Rilisan lagu soundtrack Ada Apa Dengan Cinta berjudul Bimbang yang dibawakan Melly Goeslaw ikut kembali dihadirkan.

Tak lama berselang, sutradara Riri Riza merilis sekuel Ada Apa Dengan Cinta, menghadirkan tokoh-tokoh lama. Ada Apa Dengan Cinta 2 dirilis serentak 28 April 2016 dan lebih dulu ditayangkan premier di Yogyakarta pada 23 April 2016. Harapannya, film ini dapat kembali mengobati rasa rindu penggemar Ada Apa Dengan Cinta sekaligus mendulang kesuksesan yang sama seperti film perdananya.

Munculnya Dilan dan Milea seolah sebagai kisah selanjutnya yang siap memeroleh tongkat estafet pasangan fenomena dari Rangga dan Cinta. Mungkin, Rangga berhasil meluluhkan hati para penikmat film lewat sajak puisi yang dibacakan. Dilan dengan sejuta kamus romansa untuk Milea, berpotensi kuat bisa menggeser posisi tokoh Rangga yang dingin dan serius di hati para penggemar.

Fenomena Rangga, Dilan dan sejumlah karakter kuat dalam film membuktikan bahwa layar sinema punya pengaruh besar di masyarakat. Bahkan turut memoles gaya hidup para remaja yang terobsesi dengan karakter itu. Bukan tidak mungkin harga motor CB-100 kian melambung tinggi karena ribuan remaja di luar sana ingin bergaya seperti Dilan. Sama seperti ketika para remaja era 2002 mendadak suka menulis puisi dan membaca buku sastra seperti Rangga.

Melihat ke belakang, Rangga dan Dilan bukan salah dua karakter yang menghipnotis masyarakat urban di Indonesia. Kita pernah tersihir demam serupa lewat Ali Topan, Lupus, atau Si Boy. Tongkat estafet para ikon dari dunia sinema (termasuk adaptasi novel) terus berjalan hingga hari ini. Dan Dilan sukses memegang tongkat estafet itu.

Lupus, Rangga dan Dilan merupakan tokoh yang sama-sama diceritakan memiliki romansa masa SMA. Dengan keunikan karakter masing-masing. Siapapun tahu, "Kisah Kasih di Sekolah" adalah masa yang indah. Tidak peduli penuh rayuan gombal atau konflik cinta yang remeh-temeh. Kehadiran karakter-karakter ini seperti memberi cerminan bagi kita semua tentang apa yang bersinggungan dalam kehidupan kita dan film adalah cara merayakannya.



(ASA)