Ruth Marini "Sinto Gendeng": Rela Kalah demi Mental Bela Diri

Purba Wirastama    •    04 Mei 2018 07:00 WIB
film wiro sablengsineas kitaRuth Marini
Ruth Marini
Ruth Marini (Foto: Medcom/Purba)

Jakarta: Ruth Marini merasa belum cukup tiga bulan digembleng silat oleh Yayan Ruhian, khusus untuk peran guru Sinto Gendeng di film Wiro Sableng. Dia belum bisa menyingkirkan keraguan bertarung karena memang belum punya latar belakang bela diri sebelumnya.

Uthe, begitu dia akrab disapa, mencari bantuan guru lain. Dia datang ke sebuah padepokan silat Betawi di Condet, Jakarta Timur dan bertemu dengan guru lain untuk belajar menerima pukulan yang benar-benar pukulan.

"Kang Cing Wiro," kata Uthe mengenalkan nama gurunya di padepokan Condet kepada Medcom.id, Rabu, 3 Mei 2018, "kebetulan namanya Cing Wiro."

"Aku ingin merasakan bagaimana (sakitnya dipukul) karena aku enggak punya dasar bela diri, tetapi aku (sebagai Sinto Gendeng) guru yang sakti. Enggak mungkin kan guru menghindari pukulan?" ungkapnya.

Di sana, dia menyiapkan diri mengontrol rasa takut kena pukul. Dalam posisi siaga, tanpa boleh melawan, dia mengamati dan menantikan serangan dari Cing Wiro. Saat satu pukulan mendarat di satu area "aman" dekat pipi, Uthe seketika syok.

"Syok. Memang sakit ya (...). Itu kayak darah turun semua ke kaki. Karena aku memang enggak punya dasar bela diri. Kalau petarung kan sudah berani," ungkapnya.

Latihan "kalah" ini menjadi bagian dari serangkaian persiapan total yang dijalani Uthe untuk debut film layar lebarnya. Tidak tanggung, dalam film laga komedi ini, dia langsung mendapat peran besar sebagai Sinto Weni alias Sinto Gendeng alias Sinto Gila. Sinto adalah pendekar penting di dunia fiksi Wiro Sableng ciptaan penulis Bastian Tito. Tanpa dia, jalan hidup Wiro kecil mungkin langsung berakhir saat komplotan Mahesa Birawa membakar rumah dan kampungnya.

Uthe, perempuan keturunan Ambon-Yogyakarta yang kini berusia 33, adalah satu di antara sejumlah wajah baru perfilman yang akan muncul di film Wiro Sableng produksi Lifelike Pictures. Namun dia bukan orang baru di belakang layar. Setelah pindah dari Lampung ke Jakarta sekitar enam tahun silam, Uthe terlibat di beberapa proyek film sebagai pelatih akting. Ini menjadi titik baliknya menapaki kembali dunia akting yang telah digeluti sejak SMA.


Ruth Marini (Foto: Medcom/Purba)

Sempat Jalan-jalan Keluar "Panggung"

Saat SMA, Uthe bergabung ke Teater Satu Lampung. Dia terlibat dalam sejumlah pementasan drama dan menguji kemampuan aktingnya lebih lanjut dengan tampil solo dalam pentas Monolog Wanci karya Imas Sobariah (pendiri Teater Satu). Menurut catatan Koalisi Seni, naskah Wanci kerap menjadi bahan penelitian akademis dan telah dipentaskan sedikitnya 17 kali, termasuk di Teater Utan Kayu Jakarta. Pentas monolog ini juga menjadi pemenang utama dalam Festival Monolog Dewan Kesenian Lampung.

"Ketika main monolog, semua mata itu tertuju ke diri sendiri. Itu siap enggak, apalagi sekali waktu, enggak pakai medium apapun. Baru tahun 2007 (aku) berani turun," ujarnya.

Monolog Wanci punya sumbangan khusus bagi perjalanan Uthe di teater. Demi mendalami karakter Icih Prihatini, tokoh utama gelandangan dalam Wanci, dia meninggalkan rumahnya di Lampung selama dua bulan dan menggelandang di stasiun dengan pakaian gembel. Dia ingin merasakan bagaimana kenikmatan seorang gelandang saat menemukan seseorang membuang nasi bungkus ke kotak sampah.

"Itu amazing moment banget. Betapa awalnya mual, rasanya menjijikkan, lama-lama aku terbiasa dan ketika orang membuang sampah, itu seperti merasakan rezeki banget. Akhirnya aku dapat makanan," ungkap Uthe.

Kegembiraan itu semakin dirasakan setelah Uthe dua hari tidak menyantap makanan karena bangun kurang pagi. Rezeki itu "dipatok ayam" oleh tukang sampah yang lebih dulu datang untuk mengangkut seluruh isi kotak sampah ke TPU.

Tak hanya bertahan hidup dengan berebut makanan sisa, Uthe juga harus kejar-kejaran dan kabur karena nyaris diperkosa secara seksual. Menurutnya, gelandangan perempuan rentan menjadi korban perkosaan.

"Benar-benar pengalaman banyak terjadi. Dikejar-kejar, ketakutan mau diperkosa. Itu memang banyak gelandangan perempuan yang mau diperkosa," ungkapnya.

Setelah proyek Wanci selesai, Uthe mengaku takjub ketika mengenang itu kembali. Dia pernah merasakan menjadi orang yang sangat berharap orang membuang makanan yang tak dihabiskan. Pengalaman ini menambah tabungan empati terhadap beragam karakter. Baginya pribadi, bermain peran di panggung memberi kesempatan dia untuk lebih peka terhadap apapun di sekitar.

"Jalan-jalan karakter itu punya daya tarik atau passion sendiri (...). Aku pernah memainkan ini, kita harus memberi empati lebih besar terhadap peran tersebut," tukas Uthe.

Semasa kuliah sarjana, Uthe mengambil jurusan Biologi di Universitas Lampung. Begitu lulus, dia bekerja sebagai pegawai negeri dan menjadi asisten untuk Gubernur Lampung Sjachroedin Z Pagaralam selama hampir dua periode jabatan. Memang tidak nyambung dengan dunia akting, tetapi itulah yang dia jalani selama belasan tahun.

Saat pindah ke Jakarta, Uthe masih berstatus pegawai negeri dan bekerja di Taman Mini Indonesia Indah untuk anjungan Lampung. Namun ini hanya bertahan dua tahun. Dia kembali mengikuti kesenangannya di dalam dunia akting dengan menjadi pelatih akting. Awalnya bekerja dalam proyek film, tetapi lalu berlanjut menjadi pelatih privat untuk sejumlah aktor film. Dalam fase ini pula, dia menikah dengan seorang arsitek dan memiliki anak yang kini berusia tiga tahun.

Keterlibatan di proyek Wiro Sableng terjadi lewat Happy Salma, yang melihatnya menjadi Eyang Sumilah di pentas teater Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer. Happy menyarankan nama Uthe kepada produser Sheila Timothy dan tim audisi. Waktu itu, tim audisi pimpinan Nanda Giri kebingungan lantaran tak kunjung mendapat calon aktor yang tepat untuk peran guru-nenek-pendekar Sinto Weni.

Uthe pun diundang untuk ikut audisi. Setelah menunjukkan kemampuan diri, tim langsung sepakat aktor 30-an ini tepat untuk peran Sinto dalam usia 40, 60, dan 80. Kabar gembira ini diumumkan kepada Uthe seminggu kemudian.

"Syok dan kaget, jelas, karena ini pertama buat aku main film, jadi Sinto pula," kata Uthe yang sampai kini kadang masih merasa takjub, "membekas banget soalnya."





Menjadi Sinto Gendeng yang Merdeka

Setelah resmi bergabung, dia menjalani serangkaian proses praproduksi film laga adaptasi seperti biasa, seperti membaca naskah bersama, pendalaman dan observasi karakter, olah vokal, membaca materi novel sumber adaptasi, serta workshop silat tiga bulan dengan Yayan Ruhian. Workshop inilah yang dirasa Uthe belum cukup menyingkirkan keraguannya saat beradegan laga.

Penandanya jelas, yaitu kaki bergerak mundur atau mata membelalak kaget saat lawan bertarung hendak memukul. Memang hanya gerakan untuk kepentingan sinematik, tetapi tetap saja membuat dia ragu. Keraguan ini yang hendak disingkirkan Uthe supaya karakter Sinto sebagai guru sakti bisa ditampilkan matang di depan kamera. Dia pun belajar di Condet dan meminta guru silat Betawi Cing Wiro memberi dia pukulan menyakitkan.

"Aku merasa tak mungkin Sinto Weni menang terus dari dulu. Dia pasti pernah merasakan kalah dan sakit. Observasiku adalah kalahnya, bukan menangnya. Jadi merasakan benar-benar ditonjok, kena, merelakan tubuh dipukul," ungkap Uthe.

"Biar tahu sakitnya seberapa. Kasarnya, kalau gue berhadapan sama lo lagi, 'halah segitu doang tinju lo'.

Ternyata memang berbeda. Begitu kena tinju, gue bangun lagi, 'Ayo Cing pukul lagi'. Dia enggak mau ninju, 'Sudah satu kali saja'. Ancur kali gue kalau berkali-kali kena tinju," imbuhnya.

Tak hanya belajar sakit dari Cing Wiro, Uthe juga mengamati gerak-gerik tubuhnya sebagai seorang guru, termasuk cara duduknya yang sangat santai. Dia juga mengamati gerak tubuh guru dari video rekaman padepokan Silat Panglipur.

Bagi Uthe, Sinto adalah karakter yang kompleks. Tak seperti Icih dalam Wanci yang sinting tapi tersingkir, Sinto adalah sosok pahlawan dan guru besar. Dalam sekali waktu, Sinto mampu serius, gila, penuh kasih sayang, sakti, sekaligus menyimpan dendam. Ini yang membuat Sinto tidak sekadar menjadi karakter satu dimensi yang hanya baik atau jahat, tetapi berlapis-lapis.

"Lapisan-lapisan itu harus tampak dalam satu waktu. Karena dia mampu bersikap tenang, mampu menjadi tiba-tiba melankolis, tiba-tiba berubah-ubah," ungkapnya.

Mental Sinto sebagai guru silat sakti sudah didapat. Kemudian untuk menjadi sosok ibu Wiro dan nenek tua, bukan tantangan baru bagi Uthe. Namun kesintingan dan kebebasan jiwa harus dibangun ulang Uthe untuk Sinto. Dia menangkap kembali kegilaan monolog Wanci dengan cara menggelandang di jalanan. Kali ini di Jakarta.

"Enggak mungkin aku berdandan seperti Sinto di jalan, tetapi momen untuk menangkap kembali kegilaan itu, aku sempat nongkrong lagi dengan pakaian "orang gila". Aku nongkrong di Jembatan Semanggi sambil negur orang. Mencoba lagi tetapi tanpa riasan (gembel) dan itu benar-benar saya," tutur Uthe.

"Kegilaan, gokil-nya itu memang harus muncul dari dalam. Sebelumnya sudah lama banget main Wanci. Semerdeka itulah jiwa Sinto. Aku ingin merasakan dengan tetap observasi," imbuhnya.

Totalitas kesiapan Uthe ini tampaknya berangkat dari satu prinsip yang dia pegang teguh saat menekuni teater. Naik panggung tanpa persiapan, turun panggung tanpa kehormatan. Menurutnya, aktor tidak boleh membawa "lumpur" ke atas panggung.

"Jadi harus siap. Kalau lo enggak siap, ya lo turun panggung tanpa kehormatan saja," tegasnya.



Menurut Uthe, Wiro Sableng adalah properti intelektual yang tidak sekadar bernilai komersial, tetapi juga wujud pemajuan budaya. Dia berpendapat generasi terkini semakin jauh dari fiksi atau sastra Indonesia yang imajinatif tetapi juga penuh kekayaan kultur.

"Dulu kita dekat sekali dengan cerita fiksi imajinatif seperti ini, lalu perlahan memudar. Ketika kisah ini diangkat, wah keren buat generasi baru. Cerita karya Indonesia yang kemudian hadir dalam kemasan seperti ini. Seperti melestarikan, menjadi ada lagi. Anak sekarang jadi, 'Oh dulu ada Wiro Sableng ya'," tuturnya.

"Orang luar melihat itu sebuah kekayaan, tetapi waktu itu kita meninggalkan," imbuhnya.

Kekayaan kultur tersebut tampak dari berbagai elemen cerita yang akan tersaji di film. Misalnya dari segi seni bela diri lewat laga antar tokoh dan seni rupa lewat rancangan pakaian dan senjata. Salah satu contoh adalah senjata Tongkat Kayu Butut milik Sinto. Tongkat diukir dengan motif khas Sumatera oleh desainer produksi Adrianto Sinaga.

Menurut Uthe, Wiro Sableng termasuk satu dari sedikit karya sastra yang bisa merangkul banyak kalangan dan umur untuk menikmati. Dia menilainya sebagai virus positif yang perlu ditularkan dan dikembangkan oleh kisah-kisah lain.

"Virus positif film itu yang kemudian berkembang. Itu yang aku baca ya. Balik lagi, orang-orang kemudian mengangkat lagi. Semakin keren nih film-film Indonesia," tukasnya.

 


(ELG)

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

Wawancara Eksklusif Geisha, Berlayar Tanpa Melumpuhkan Ingatan tentang Momo

1 week Ago

Meski melaju dengan Regina, Geisha tidak ingin menghapus bayang-bayang Momo. Lantas, ke mana ar…

BERITA LAINNYA