The Mummy, Bergurau dengan Kutukan

Purba Wirastama    •    12 Juni 2017 08:26 WIB
resensi film
The Mummy, Bergurau dengan Kutukan
(Foto: Universal Pictures)

The Mummy
* Sutradara: Alex Kurtzman
* Produser: Alex Kurtzman, Chris Morgan, Sean Daniel, Sarah Bradshaw
* Naskah: David Koepp, Christopher McQuarrie, Dylan Kussman
* Cerita: Jon Spaihts, Alex Kurtzman, Jenny Lumet
* Durasi: 107 menit
* Tayang Indonesia: 7 Juni 2017


Satu hal paling dapat diingat dari The Mummy  adalah bahwa film ini menyuguhkan hiburan komikal khas film superhero Hollywood terkini. Banyak aksi laga mendebarkan, dalam ritme cerita yang cukup cepat. Namun balutan humor lebih kentara karena melekat kuat pada para tokohnya.

Cerita besarnya mengambil referensi legenda sejarah Mesir dengan pengembangan pada unsur arkelogi dan horor gaib. Ada mumi, kutukan dan ritual, serta kehidupan abadi. Ditambah sedikitnya empat karakter berikut. Monster sakit hati, prajurit militer oportunis, peneliti cerdas, dan orang kaya eksentrik.

Segmen pembuka secara singkat bercerita tentang seorang putri cantik bernama Ahmanet (Sofia Boutella), yang berambisi menguasai dunia dengan ritual pemanggilan dewa Set ke wujud fisik manusia, tetapi digagalkan oleh para pendeta bawahan ayahnya. Ahmanet dihukum dengan cara disiksa dan dimumikan hidup-hidup di dalam peti.

Sekian ribu tahun kemudian, tentara AS di Timur Tengah bernama Nick (Tom Cruise) nekat mendatangi sebuah kampung rawan konflik demi agenda pribadi bersama rekannya. Seperti biasa, keluar jalur, masalah muncul. Kedatangan mereka berujung pada masalah baru, yaitu kebangkitan kembali mumi jahat Ahmanet.

Seperti takdir yang selalu kebetulan, Nick menjadi yang terpilih, yang terkutuk. Teror Ahmanet menghantuinya. Tujuannya tak lain adalah menyelesaikan ritual dan dendam masa lalu. Tidak terlalu baru memang. Trilogi The Mummy  sebelumnya (1999-2008) juga punya unsur cerita serupa.

Sekitar 80 menit berikutnya, Nick dan Jenny (Annabelle Wallis) berjuang mencari cara untuk mengakhiri teror Ahmanet. Berbagai sudut lokasi di London menjadi arena penuh bahaya yang harus dihadapi. Tom Cruise serasa Ethan Hunt yang terdampar di dunia Jumanji  dan Edge of Tomorrow.


(Foto: Universal Pictures)

Perjalanan dan perjuangan mereka menjadi rangkaian aksi yang bisa dibilang cukup mendebarkan. Hasil kerja sinematografi, lokasi, dan efek visual menyuguhkan kejutan-kejutan tersebut, didukung pembangunan artistik, efek suara, dan musik.

Namun aksi-aksi laga hanya satu dari sekian hal yang tampaknya ingin dicapai film ini. The Mummy  berupaya keras memasukkan menjadi satu, unsur-unsur cerita seperti dunia fiksi sains, praktik ilmu gaib, sejarah terselubung, cinta segitiga yang janggal, serta interaksi komikal antar tokoh. Film ini juga menjadi perkenalan para karakter yang menjadi elemen penghubung dengan film-film berikutnya.


(Foto: Universal Pictures)

Upaya melucu menjadi unsur paling mengemuka. Ketika para tokoh kita bertindak dan berdialog, kutukan, teror, dan bahaya seakan tak lagi jadi ancaman serius. Para tokoh seperti bergurau dengan kutukan gaib, meskipun beberapa momen mencoba membawa keseriusan. Percakapan soal relasi dan hal-hal filosofis juga tak terasa mendalam.

Ahmanet menjadi tokoh paling menonjol. Namun monster mumi berusia puluhan abad ini tak sepenuhnya mengerikan. Salah satu ciri paling kuat adalah sosoknya sebagai putri cantik Mesir dengan daya pikat seksual. Dalam beberapa kesempatan, empati terhadap tokoh antagonis ini menjadi sorotan utama. Lalu muncul elemen romansa yang terasa agak ganjil.

Pembangunan karakter Nick, Jenny, Vail (Jake Johnson), dan Hyde (Russel Crowe) terasa kurang mendalam. Jelas mereka memiliki agenda personal masing-masing, tetapi hal ini tidak terlalu mengemuka. Barangkali karena memang banyak elemen cerita yang hendak disampaikan, sehingga perkenalan hanya jatuh pada level permukaan.

Satu hal sedikit mengecewakan adalah keseruan cerita yang tidak cukup konsisten terjaga hingga akhir. Film ini cukup mudah diikuti dengan banyak petunjuk visual. Sampai titik tertentu, akhir cerita akan dengan mudah ditebak.

The Mummy  sukses sebagai sebuah film hiburan ringan. Sebagai pembuka kisah besar waralaba Dark Universe, film ini menghadirkan dunia fiksi yang tidak asing dengan monster, sihir gaib dengan pendekatan sains, dan berbagai kelakar remeh yang mudah dicerna.


(DEV)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

2 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA