Resensi Film

Danur, Ambisi Horor Kepalang Tanggung

Purba Wirastama    •    13 April 2017 09:35 WIB
film indonesia
Danur, Ambisi Horor Kepalang Tanggung
(Foto: Pichouse Films)

Danur: I Can See Ghosts
Rilis: 30 Maret 2017
Durasi: 78 Menit
Genre: Drama, Horor
Produser: Dian Sasmita Faisal
Penulis: Lele Laila, Ferry Lesmana, Risa Saraswati
Sutradara: Awi Suryadi



Cerita horor film Danur menjadi menarik dengan elemen-elemen latar dan karakter tokoh yang tidak sederhana meskipun konvensional. Logika cerita dibangun dengan alur yang cukup mudah diikuti. Sayangnya, hiburan ringan ini masih memiliki lubang pada beberapa bagian cerita dan dikemas dengan kurang baik. Selain dialog dan akting yang tidak spesial, penyuntingan serta penataan artistik terkesan serampangan.

Danur: I Can See Ghosts merupakan film horor keempat arahan Awi Suryadi dan sekaligus yang paling laris. Tiketnya terjual hampir 2 juta lembar dalam dua minggu penayangan. Tiga film sebelumnya rilis dalam tahun-tahun penuh film horor sehingga harus bersaing ketat.

Film ini diadaptasi dari novel Gerbang Dialog Danur (2012) karya Risa Saraswati berdasarkan kisah nyata. Karena tokoh di film menggunakan nama sama dengan penulis novel dan pemilik kisah aslinya, yang juga ikut menulis skenario, perlu ada penjelasan awal. Penyebutan Risa dalam ulasan ini melulu merujuk pada tokoh dalam film Danur.

Danur bercerita tentang Risa (Prilly Latuconsina), remaja 17 tahun yang harus menghadapi gangguan hantu jahat ketika tinggal bersama adik (Sandrina Michelle), nenek (Inggrid Widjanarko), dan sepupunya (Indra Brotolaras). Hantu jahat bernama Asih (Shareefa Daanish) datang melalui sisir misterius yang diambil Riri adiknya dari pohon besar dekat rumah.

Membangun Cerita Ringan

Harus dibilang bahwa latar tempat menjadi kunci utama pembangunan nuansa horor cerita ini. Keempat tokoh kita tinggal di rumah luas dan tak terurus dalam lingkungan yang sepi dan terkesan jauh dari tetangga. Apalagi ada pohon besar misterius khas kisah-kisah horor. 

Kehadiran tokoh anak kecil dan orang tua usia senja yang lemah mengisyaratkan posisi mereka sebagai korban. Ditambah, sepupu Risa tak berkutik ketika gangguan datang.

Beruntung Risa mampu berkomunikasi dengan hantu sehingga dia tak sendiri. Tiga hantu kawannya sejak kecil datang dan membantu Risa untuk mengakhiri gangguan tersebut. Beruntung juga jaringan telepon tidak mati sehingga dia dapat memanggil bantuan dari luar.

Elemen-elemen latar dan karakter tokoh inilah yang membuat cerita sederhana 'mengusir gangguan hantu' menjadi rumit dan menarik. Namun penonton perlu memahami semua konteks tersebut supaya cerita dapat diterima. Akibatnya, dari 78 menit durasi film, sepertiga lebih di awal digunakan untuk membangun konteks dengan menceritakan masa kecil Risa (Asha Kenyeri Bermudez) dan siapakah tokoh-tokoh di sekitarnya. 

Formula pembangunan logika ini terbilang sukses. Penonton tak akan kesulitan mengikuti cerita karena telah mengenal kemampuan Risa beserta kesendiriannya, relasinya dengan tiga kawan hantu, dan mengapa dia tinggal di situ.

Sisir dan boneka, lagu Boneka Abdi, petak umpet, serta ciri-ciri hantu, menjadi modal utama pergerakan cerita. Elemen-elemen ini pun dapat dijelaskan dengan baik.

Demi Alur Cerita Semata

Meski demikian, ada lubang-lubang motif yang tak dapat dipahami. Misalnya, mengapa Risa tak mencari Riri yang belum pulang setelah petang. Apakah dia menjadi tak perhatian setelah sejak kecil kurang mendapat perhatian? Atau, tokoh ibu Risa (Kinaryosih) yang justru mencari Risa ke ruang keluarga, bukan ke kamar tidur, ketika Risa dipanggil tetapi tak menyahut.

Kehadiran tokoh Ujang tak lebih sebagai alasan bahwa Risa kecil tak sendiri dan sebagai penghubung ibu Risa ke paranormal. Sama halnya dengan sepupu Risa. Kehadirannya terasa hanya sebagai alasan bahwa nenek tak tinggal sendiri sebelum Risa dan Riri datang, serta bahwa Asih bukan manusia.

Meskipun keduanya mendapat jatah dialog dalam adegan penting, mereka tak berkutik ketika Risa mulai didatangi hantu. Barangkali ini demi kepentingan cerita bahwa Risa benar-benar sendiri.

Kemudian, pembangunan cerita juga tidak didukung dengan dialog, akting, serta pengarahan pemain yang mantap. Dari sekian tokoh yang muncul di layar, hanya Asih yang lebih menguasai panggung.

Tak ada yang spesial dari akting Prilly sebagai Risa remaja. Demikian pula dengan tiga hantu kawannya, William (Wesley Andrew), Jansen (Kevin Bzezovski Taroreh), dan Peter (Gamaharitz). Sejauh tokoh-tokoh ini bergerak mengikuti naskah, tak akan ada yang salah. 

Keceriaan Riri terlalu dipaksakan. Ketakutan nenek (dan rias wajahnya) tidak cukup meyakinkan, bahkan justru menakutkan (yang tak perlu). Tindakan wujud perhatian dan kesibukan ibu Risa pun terasa ganjil. 

Serampangan

Lebih disayangkan lagi, aspek penyuntingan dan artistik tidak digarap dengan baik sehingga merugikan cerita itu sendiri. Terkesan serampangan. Potongan-potongan gambar tidak terangkai dengan rapi. Beberapa perpindahan gambar menyadarkan saya bahwa ada kamera di dalam dunia fiksional Risa dan Danur. Bahwa ini adalah sekadar film. 

Sebagian perkara artistik terasa terlalu ditonjolkan, baik untuk latar tempat, properti, maupun rias tokoh. Misalnya, rumah luas tak terurus wajar jika berdebu. Namun untuk menunjukkannya, tak harus sampai dua kali Risa membersihkan penutup piano dalam dua hari berturut-turut. Apalagi jika keadaan genting memaksa Risa harus segera menggunakannya.

Tata rias tidak cukup mendekatkan penonton pada realita yang dibangun dalam film. Beberapa wajah tokoh cenderung tampak selalu bersih setiap saat. Yang menggelikan, riasan untuk nenek yang sakit dan mengalami kelumpuhan, malah membuat saya awalnya berpikir bahwa dia adalah salah satu hantu.

Riasan nenek barangkali menjadi salah satu hal yang membuat aspek sinematografi jatuh pada hal-hal yang tak perlu. Ketika nenek diperkenalkan di segmen kedua (ketika Risa remaja), pandangan penonton dilempar ke tangan, rambut, dan kursi rodanya. Rasa penasaran ini berakhir sia-sia karena sang nenek ternyata bukan sumber ketakutan para tokoh. 

Terlepas dari beberapa kekurangan, film Danur patut mendapat pujian karena menyuguhkan unsur cerita yang relatif segar dalam sinema horor Indonesia, yaitu hantu yang 'bersahabat' dan hantu yang tidak membunuh dengan sadis, hanya menculik. Kisah horornya pun tak perlu dibumbui sensualitas seksual atau mitos hantu gunung demi membakar minat penonton.  •


(DEV)

Di Balik Balada Cinta Geisha

Di Balik Balada Cinta Geisha

6 days Ago

Pada tahun ini, Geisha telah berusia 14 tahun. Sejauh ini mereka konsisten menghadirkan balada …

BERITA LAINNYA