Pritagita Arianegara, Jalan Panjang Memahami Pertunjukan

Purba Wirastama    •    17 Juni 2017 15:20 WIB
film indonesia
Pritagita Arianegara, Jalan Panjang Memahami Pertunjukan
Pritagita Arianegara (Foto: Metrotvnews/Purba)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pritagita Arianegara adalah sutradara baru yang cukup diperhitungkan setelah ragam apresiasi ditujukan terhadap Salawaku (2016), film pertamanya sebagai sutradara di bawah rumah produksi Kamala Films. Namun 13-14 tahun ke belakang, sebagai lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, Prita belum punya impian spesifik untuk menjadi pembuat film.

Setelah menetap di Jakarta pada 2003, perempuan kelahiran Solo tahun 1976 ini menemukan kesenangan pertama sebagai pencatat adegan (script/continuity supervisor) dalam produksi sinetron dan film. Sinetron pertama adalah Luv (2000-2004) produksi RCTI. Setelah itu dia terlibat dalam lusinan proyek lintas rumah produksi.

Kru pencatat adegan berada dalam departemen penyutradaraan. Tugas utama mencatat detail tertentu dari kejadian dan elemen artistik yang tampak di dalam monitor pratinjau, mulai dari gerakan dan ekspresi pemain, pakaian, posisi benda-benda, suara, serta gerakan kamera. Gunanya untuk memastikan, bahwa gambar demi gambar yang hendak direkam punya kesinambungan ketika kemudian dirangkai dalam tahap paska produksi.

Rabu 14 Juni 2017, saya bertemu Prita di sela jumpa pers serial Viu Indonesia berjudul Switch yang dia sutradarai. Ketika saya bertanya apakah bersedia untuk melakukan wawancara ekslusif, Prita langsung mengiyakan. Kami mengatur janji untuk bertemu sore hari berikutnya di sebuah kafe dekat bioskop Metropole Jakarta, usai penayangan perdana film Insya Allah Sah, yang juga melibatkan Prita sebagai asisten sutradara.

Selama sekitar 45 menit, Prita bercerita cukup banyak mengenai perjalanannya keluar masuk industri film. Perjalanan, yang dia anggap sebagai tempat terbuka untuk belajar seluk beluk film serta ragam cara bercerita melalui pertunjukan.


Pertama kali terlibat di produksi film sebagai pencatat adegan. Sejak awal memang berniat bekerja di unit ini?
Awalnya karena menikah, sejak tahun 2003 tinggal di Jakarta. Dulu aku kerja di jasa ekspor-impor di Bantul sewaktu belum menikah. Pekerjaan cuma staffing, menaikkan barang ke kontainer. Memang enggak suka kerja kantoran. Begitu pindah, aku coba les public speaking, ingin tampil di depan layar. Waktu itu masih kurus, ha-ha. Belajar segala macam di tempat (almarhum) Indra Safera, IP Entertainment.

Dari situ, ada workshop melihat pembawa acara yang jadi patokan kita. Waktu itu kita ke RCTI untuk melihat Who Wants to be A Millionaire, melihat Tantowi Yahya syuting seperti apa. Dari situ, aku malah lebih tertarik dengan orang-orang di belakang layar. Aku mendaftar ke RCTI sebagai pegawai, enggak diterima. Lalu ditawari, kalau mau ada kerjaan di belakang, sedang ada syuting di sinetron in-house RCTI, Luv (2000-2004), yang bikin mas Guntur Suharyanto

Aku datang ke Ciputat - Kebon Jeruk setiap hari. Sampai akhirnya Mas Guntur bilang, mau ikut (syuting) enggak. Kalau mau ikut, mau jadi apa? Enggak tahu jadi apa. Mau jadi make-up artist, enggak bisa. Mengurus kostum, enggak punya selera. Akhirnya ya sudah mengerjakan apa yang dikerjakan rekan sebelah, Mbak Iin, sebagai pencatat adegan. Aku ikut Luv beberapa episode.

Karena sering bolak balik, orang-orang RCTI mengenali aku, sehingga akhirnya diajak ke Bintang Akting (2004-2006) jadi pencatat timecode yang ada di kamera. Dari situ kenal dengan pencatat adegan bernama Safa. Safa itu pencatat adegan film Jomblo (2006) Mas Hanung Bramantyo. Lalu aku diajak jadi asistennya.

Habis dari Jomblo, aku langsung pegang sendiri. Waktu itu jadi pencatat adegan di Kamulah Satu-satunya (2007), Get Married (2007), Ayat-ayat Cinta (2008). Habis itu mulai merambah ke sutradara lain. Ada Mas Rudy (Soedjarwo), Mas Garin (Nugroho), Kamila Andini, Teddy Soeriaatmadja, banyaklah. Awalnya benar-benar dari nol.


Lalu Prita menjadi asisten sutradara (astrada) setelah beberapa tahun. Seperti apa prosesnya?
Prosesnya mulai, begitu aku ikut Mas Guntur. Mas Guntur itu orang yang sangat serius ketika mengerjakan proyeknya. Setelah itu, guru berikutnya adalah Mas Hanung, yang juga sangat kukuh dengan apa yang dia mau. Mungkin karena guru-gurunya seperti itu, kita terbiasa untuk dipaksa punya target, mau jadi apa. Sampai Mas Hanung gemas. Semua orang yang ikut dia dua-tiga kali, sudah naik dari pencatat adegan ke astrada. Dari astrada, dijadikan co-director.

Kalau prosesku sampai beberapa tahun, banyak film. Bahkan enggak selalu di proyek Mas Hanung. Aku enggak suka terikat di satu orang, sehingga ke mana-mana asal jadwal cocok. Nah, Mas Hanung gemas, kamu mau jadi pencatat adegan sampai kapan. Harus punya tujuan.

Mau jadi astrada, aku enggak suka. Mengapa? Karena jauh dari pengadeganan. Hanya memikirkan pulang jam berapa, panggilan kru dan pemain, extras, makan siang. Memang menjadi manajer, jantung syuting, tetapi jatuhnya lebih ke produser. Aku tidak terlalu tertarik pada saat itu.

Karena freelance, butuh kehidupan lebih layak, akhirnya aku menerima pekerjaan sebagai astrada (Red CobeX, 2010). Itu pun sangat pemilih. Pokoknya dari sutradara yang punya tujuan tertentu, aku ingin belajar sesuatu, baru kuterima. Terutama soal cerita, yang aku bisa nyambung dan mengerti. Cerita soal keseharian yang bisa diulik, itu menyenangkan. Kalau terlalu jauh dari keseharian, misalnya fiksi sains atau laga, aku enggak ambil. Horor aku enggak terima karena memang penakut.


Soekarno: Indonesia Merdeka (2013)?
Film Soekarno tentang kepahlawanan. Aku memang dekat. Keluargaku pengagum Sukarno. Mau enggak mau aku mengenal.


Another Trip to the Moon (2015)?
Nah itu. Sebetulnya pertama kali aku kenal film-film non komersial di film Mouly Surya (What They Don't Talk About When They Talk About Love, 2013). Waktu itu aku hanya ikut industri terus, tiba-tiba dikenalkan dengan jenis lain. Karena tidak pernah sekolah film, aku tidak pernah punya pengetahuan bahwa ada beberapa jenis film. Karena aku nyemplung di industri, akhirnya panggilan syuting dari industri semua.

Begitu diajak Mouly, baru ngeh, ada film yang punya 'cara bertutur berbeda'. Dari situ aku ketagihan, lalu sudah tidak mematok harga atau apa, yang penting bisa belajar yang lain. Begitu Ismael Basbeth menawari (Another Trip to the Moon), Teddy menawari (About Woman, 2014), aku langsung mengiyakan karena yakin cara pengerjaan dan metode mereka berbeda dengan industri.


Dari mana mendapat referensi pertimbangan dalam memilih tawaran?
Aku dapat dari pengalaman 12 tahun di industri film. Dan aku enggak hanya dengan satu orang. Lintas geng. Dunia film kan punya kubu-kubu. Aku lintas geng banget. Dari situ, aku bisa mempelajari beberapa gaya produksi masing-masing. Ketika ditawari kerjasama, aku lebih dulu memutuskan iya atau tidak, karena sudah tahu latar belakang dia.

Aku juga bisa mengukur, apakah mampu mengimbangi takaran kesempurnaan si A. Seperti ketika Teteh (panggilan akrab Nia Dinata) meyakinkan aku untuk Switch, lama sebelum akhirnya aku menerima. Teteh sudah bikin Ca-bau-kan (2002), aku masih menonton dia di infotainment. Gimana enggak deg-degan. Ketika Teteh membicarakan beberapa batasannya, dia memberi dorongan semangat yang gila. Akhirnya aku jalan.


Bagaimana proses awal terlibat sebagai sutradara Salawaku? Ada Titien Wattimena juga sebagai penulis skenario.
Tawaran datang dari Michael Julius (produser Salawaku). Waktu itu tiba-tiba dia bilang ada proyek film tetapi belum tahu apa ceritanya. Dia baru pulang dari Ambon dan punya beberapa tempat bagus untuk digali. Ya sudah riset dulu karena enggak punya cerita. Kita diskusi, macam-macam materi kita dapat. Sampai, aku merasa bahwa aku akan memilih materi yang kira-kira memang aku kuasai, yang mana kehamilan di luar nikah.

Aku memilih men-dokter-kan naskah ke Mbak Titien. Saat itu Iqbal Fadly (penulis naskah Salawaku lain) terbentur urusan kuliah sehingga pengembangan naskah tidak bisa diteruskan. Akhirnya aku rekrut Mbak Titien, cerita apa yang aku tahu. Dia lihat segala lokasi yang sudah dikumpulkan, kita diskusi, akhirnya jadi seperti itu.


Poster film Salawaku (kamala films)


Dalam beberapa wawancara soal Salawaku, Prita bercerita bahwa perspektif kamera dibatasi pada ukuran mata manusia, apa yang kita lihat. Ada pertimbangan apa?
Aku mengukur kemampuan diri saja. Ketika menjadi astrada dan pencatat adegan dengan alat-alat seperti itu, aku tahu banget kegunaannya apa. Ketika menjadi sutradara, aku ragu apakah aku tahu banget dan bisa menggunakan fungsi-fungsinya.

Jadi kupikir, pendekatan yang bisa kulakukan adalah yang sudah biasa sekali kulakukan dari kecil sampai tua, kalau di suatu tempat aku hanya berdiri di kakiku sendiri. Aku juga tidak menemukan kebutuhan untuk pengambilan gambar dengan jimmy jib atau semacamnya.


Bagaimana bisa terlibat sebagai sutradara serial Switch?
Sebenarnya dari dulu Teteh (Kalyana Shira) menawarkan proyek-proyek semacam ini, enggak melulu film. Kalau film malah baru sekali di Ini Kisah Tiga Dara (Nia Dinata, 2016). Sebelumnya kita sudah dikasih beberapa cerita pendek yang harus kita kerjakan. Jadi sebenarnya Teteh sudah tahu cara kerjaku dan hasilnya.

Jadi Teteh menantang aku sebenarnya. Karena aku agak nempel dengan kesan sebagai pembuat film yang tidak terlalu komersial, Teteh membuka cap itu. Dia mau menantang, bisa enggak kalau aku di industri. Walaupun aku berangkat dari sana, aku sudah 'keracunan' model film yang cara bertuturnya berbeda.


Jangka waktu produksi dan rilis Switch relatif cepat. Apa memang tidak butuh waktu lebih panjang?
Jadwal dari Teteh sangat cukup karena syuting kita tidak terus-menerus 13 episode. Lima episode jalan dulu, itu pun punya jeda di tengah. Lalu ada pendalaman naskah, pengembangan karakter, foto properti, berbagai persiapan. Layaknya produksi film, tetapi lebih seperti film pendek. Lalu juga ada napas untuk editing dulu, dari episode 1-5. Baru nanti jalan lagi setelah Lebaran.
 
Jadi menurutku, enggak terlalu kejar tayang seperti sinetron. Aku rasa satu episode dengan 23 adegan masih terkejar. Makanya aku berani. Kembali lagi, mengukur kemampuan diri.

Waktu itu Teteh bilang, lokasi enggak jauh, sekitar Jakarta saja. Kita buat supaya bisa dekat. Akhirnya kita mencari lokasi yang dekat saja, dan itu juga enggak gampang karena banyak yang tidak sesuai naskah. Mau enggak mau jadi agak jauh. Syuting akhirnya tidak sesuai jadwal. Persoalan teknis.


Prita memilih Karina Salim lagi sebagai aktris di Switch, setelah Salawaku?
Pilihannya ada beberapa nama. Setelah melihat cara memerankan, Teteh, aku, dan Lucky (Kuswandi) memang jatuh cinta pada Karina. Dibandingkan kandidat lain, Karina lebih bisa memerankan Emma. Karena enggak gampang.


Syuting film Salawaku (kamala films)


Sekian tahun di pencatatan adegan dan manajemen produksi. Seberapa besar pengaruh pengalaman tersebut ketika kemudian mengerjakan Salawaku dan Switch?
Sangat besar. Karena sering bergabung ke beberapa sutradara, baik Mas Hanung, Mbak Upi, dan sebagainya, aku jadi tahu, mana titik-titik adegan yang sangat butuh konsentrasi, mana yang cukup selewat yang penting ada jahitannya. Aku diajari oleh Mas Garin waktu ikut produksi Guru Bangsa Tjokroaminoto (2015).

Katanya, jangan semua adegan nilai 9, Prita. Kasihan produksimu. Orang nonton juga capek karena semua sempurna. Harus punya waktu napas.

Aku belajar, memang enggak harus semua sempurna, yang penting kita kuasai dulu cerita dan tema. Dan karena sering jadi astrada, aku bisa mengukur diri dalam urusan manajemen. Tahu, yang ini mungkin dikerjakan atau tidak.  Jadi ketika dapat tawaran Salawaku, pertama kali kutanya adalah budget. Harusnya enggak perlu tahu.

Karena enggak ingin terlalu diimpi-impikan, waktu itu aku benar-benar tanya pada Michael Julius soal dana. Dia bilang sekian. Akhirnya aku mengatur dan memangkas. Malah jadi seperti co-producer juga. Aku mengukur diri supaya tahu, nanti syuting bisa berapa adegan, berapa pemain. Aku enggak mau syuting yang tiba-tiba pemain banyak, pasti tidak sanggup.


Bisa dikatakan, lebih realistis dalam eksekusi?
Lebih tahu apa yang aku mau. Dan untunglah mendapat produser yang seperti Michael. Jika bertemu dengan para produser industri, pasti jadinya bukan Salawaku.

Sekarang aku belajar lagi untuk jenis film industri karena ilmunya lebih besar, lebih banyak. Bukan apa-apa. Karena itu berhubungan dengan perolehan penonton, distribusi, pemasaran, shot kita. Pasti lebih banyak ilmunya. Dan aku merasa belum selesai.

Kalau proyek film, kayaknya aku belum bisa balik ke komersial. Akhirnya aku menerima untuk belajar menyutradarai pertunjukan seperti Switch, web series. Seperti ini kan jualan, aku tidak punya beban filmnya harus gimana-gimana. Aku cerita kepada Teteh, ingin begini. Teteh langsung bilang, ya sudah kamu coba sutradarai web series.  Ini juga pengalaman pertama. Jadi aku juga belajar. Treatment di atas sinetron, di bawah film, dengan kru orang-orang yang terbiasa mengerjakan film.


Sudah merasakan udara industri dan 'cara tutur berbeda'. Perbedaan utama soal apa?
Waktu pengambilan gambar. Artinya kalau serial seperti Switch, mau enggak mau hanya sekadar bisa disambung. Jika penyampaian pesan sudah cukup, langsung ke adegan berikutnya. Namun untuk film seperti Salawaku, aku butuh waktu lebih panjang, pelan-pelan. Kalau Switch, kita punya jadwal yang harus kita patuhi.

Memang harus berpikir lebih cepat sehingga persiapan harus lebih matang. Kalau di Salawaku, aku memilih pemain memberikan finishing di lokasi ketika syuting. Kalau Switch, aku minta semua sudah selesai waktu pendalaman naskah. Jadi di lokasi tinggal pengulangan. Karena itu, akan lebih cepat lanjut adegan berikutnya.


Apa ada perbedaan mendasar soal tekanan produser?
Enggak ada. Tantanganku di Switch adalah, karena ada berbagai produk yang harus 'dikawinkan' dengan adegan, bagaimana supaya tidak terkesan terlalu jualan, tetapi adegan tetap jalan. Lima produk harus ada di setiap episode. Misal ada 23 adegan di satu episode, lima adegan harus menampakkan produk. Itu jadi 'pekerjaan rumah' banget.

Namun yang paling berat dan menantang di Switch adalah, aku seperti mengarahkan empat orang di dua karakter utama. Karakter utama diperankan Karina Salim dan Tatyana Akman. Mereka bertukar. Ketika Karina menjadi Emma dan Tatyana menjadi Febby, dan begitu pula sebaliknya, aku seperti mengarahkan empat orang berbeda.
 
Aku harus menjaga kapan dia jadi Emma, kapan jadi Febby. Seberapa takaran karakter ketika dimainkan supaya enggak jomplang. Ketika Febby diperankan Karina atau Tatyana, paling enggak harus punya benang merah. Begitu juga sebaliknya, harus punya benang merah. Memang susah, apalagi syuting loncat-loncat.


Prita pernah bilang hanya mau membuat film dengan cerita personal. Apa semacam Switch juga termasuk?
Switch kan bukan film, tapi serial (web series / over-the-top content). Hanya film yang akan aku kerjakan dengan pendekatan personal. Film, bisa bioskop bisa enggak.

Personal juga bukan berarti harus film-film aneh. Personal dalam arti, paling tidak aku tahu, tidak sekadar mengalami. Kalau harus mengalami dulu, masak semua cerita aku alami. Paling tidak aku tahu seperti apa. Aku tahu narasumber terdekat seperti apa. Itu yang aku sebut personal.

Contoh paling gampang, aku enggak akan pernah bikin film horor karena aku penakut sejak kecil. Kalau ada orang mau cerita horor, pasti aku tinggal. Beneran. Jadi aku enggak akan pernah karena aku enggak menguasai.


Film horor apa yang pernah ditonton?
Terpaksa sekali pernah menonton karena Mas Hanung menipu waktu itu. Dia bilang ada rapat, tapi nonton dulu. Ternyata, masuk ke dalam bioskop, Conjuring... Itu pun aku enggak nonton, cuma gini-gini (menutup mata).


Apa kesulitan utama membuat dan memasarkan film di Indonesia?
Kalau membuat film, mungkin kita masih bisa mengejar. Namun melakukan distribusi, belum ada satu pun yang menemukan jawaban. Formula yang tepat, supaya film yang dikemas dengan sedemikian rupa dengan promo benar, bisa bertahan lama di bioskop serta ditonton banyak orang, itu belum ditemukan. Dari antara proyek film yang aku pernah terlibat, dengan strategi pemasaran apapun, itu ada yang benar ada yang meleset. Jadi kita belum tahu.


Sekian tahun ikut berbagai macam proyek film dan sinetron. Pengaruh terbesar datang dari siapa saja?
Sudah pasti Mas Guntur nomor satu karena dia yang memberi jalan. Kedua jelas Mas Hanung. Ketiga Mouly Surya. Keempat Titien Watimenna.


Kru dan pemain Salawaku di TIFF 2016 (foto via @axelfransse)


Apa target besar dalam hidup?
Ingin bikin teater, seni pertunjukan, tetapi itu benar-benar jangka panjang.

Secara mendasar, keterkaitan produser, sutradara, dan penulis di film itu gila-gilaan. Kita memang masih harus siasati dengan berbagai macam hal, memastikan kerjasama antara banyak orang. Namun ternyata, di semua medium yang dapat menampilkan sebuah pertunjukan cerita, yang paling utama dibutuhkan tiga orang ini.

Jadi aku merasa teater itu punya tantangan yang jauh lebih besar. Belum tahu aku sanggup atau enggak. Namun aku tertarik untuk bercerita dalam bentuk lain, yang lagi-lagi, tiga orang ini porsinya benar-benar besar dan tepat.


Lagi-lagi soal pengadeganan. Apakah memang sudah punya ketertarikan sejak kecil?
Aku tukang bohong sih dari kecil dulu, ha-ha. Enggak, ya aku senang saja. Dulu basic aku sebetulnya musik, tetapi juga enggak sekolah musik. Sejak kecil ada piano di rumah. Yang les kakak, tetapi justru aku yang lebih senang. Jadi begitu guru les pulang, aku langsung cari-cari (bagaimana memainkan lagu) menurut pendengaran.

Senang musik, tetapi enggak pernah boleh karena orang tua tidak terlalu mendukung di seni. Jadi ya akhirnya berbelok ke yang lain. Mencari pekerjaan kalau enggak di periklanan ya televisi.

Aku salut sama orang-orang yang melakukan rutinitas setiap hari, dari pagi di kantor duduk sekian jam. Aku salut sama mbakku, bapakku, adikku, yang bertahun-tahun seperti itu.


Pernah bergabung di grup musik? Bermain di mana saja?
Waktu di Jogja, iya. Main di festival kecil-kecilan kayak di Kridosono. Dulu memang lebih suka Jazz, jadi lebih sering main di lounge dan kafe yang kecil-kecil. Itu tahun 1997-2003. Sewaktu pindah Jakarta pertama kali masih main kok. Karena itu aku jadi ingin belajar public speaking. Karena selalu tampil di depan. Aku vokalis dan kibordis. Dulu (grup musiknya) Staccato ada, Lava ada, Pangaya ada. Anak baru banget, belum terbuka jalannya.


Rencana film berikutnya? Apakah ide pribadi?
Kemarin ada riset yang dibiayai oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia. Aku salah satu yang ikut, tetapi belum tahu setelah riset mau dibawa ke mana. Jadi ada 10 tempat wisata yang harus digali, sampai kemudian oleh pemerintah dialihkan ke orang-orang film untuk dikenalkan ke dunia luar.

Kalau dari ide sendiri ada, tetapi masih jauh. Belum dapat produser juga. Aku punya satu tema yang jadi cita-cita banget. Riset sudah jalan lama, malah sebelum Salawaku. Naskah belum ada karena belum tahu mau melakukan pendekatan dari mana.


 


(ELG)