Seduhan Hangat Filosofi Kopi 2

Purba Wirastama    •    18 Juli 2017 10:29 WIB
resensi film
Seduhan Hangat Filosofi Kopi 2
(Foto: Visinema Pictures)

Filosofi Kopi: Ben & Jody
- Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
- Naskah: Angga, Jenny Jusuf, Irfan Ramly
- Cerita: Angga, Jenny, Ni Made Frischa Aswarini, Christian Armantyo
- Produser: Anggia Kharisma, Chicco Jerikho, Rio Dewanto
- Durasi: 108 menit
- Rilis Indonesia: Kamis 13 Juli 2017


SETELAH menjual kedai kopi, Ben (Chicco Jerikho), Jody (Rio Dewanto), serta tiga orang pegawai berkeliling Indonesia dengan kedai combi untuk berbagi kopi terbaik versi mereka. Tentu saja perjalanan tersebut merupakan ambisi personal Ben dan Jody. Dua tahun berjalan, Nana (Westny Dj), Aldi (Aufa Assegaf), dan Aga (Muhamad Aga) memutuskan untuk mundur dengan alasan masing-masing.

Ben dan Jody pun sampai pada satu keputusan bahwa mereka tak bisa terus berkelana. Kembali mereka ke Jakarta untuk membangun ulang kedai kopi. Namun idealisme dan impian butuh modal dana yang tidak sedikit. Singkat cerita, Jody bertemu dengan Tarra (Luna Maya), investor baru yang membantu kedua sahabat membuka lagi Filosofi Kopi.

Jody juga merekrut barista tambahan. Datanglah Brie (Nadine Alexandra), sarjana lulusan sekolah pertanian yang juga belajar meracik kopi mulai dari biji. Sebagai barista, Brie memiliki ukuran kesempurnaan sendiri. Ben terusik. Seperti diceritakan dalam film sebelumnya, arogansi dan kepercayaan diri Ben memang terlampau berlebih. Baginya, untuk urusan kopi dialah juaranya.

Kehadiran dua perempuan membawa sejumlah konflik batin bagi kedua sahabat, baik karena benturan gagasan maupun perbedaan hal-hal praktis. Konflik dibuka satu per satu secara halus. Bukan lagi soal kopi paling enak, atau apa guna kopi enak kalau tidak dibagi.

Kopi dan kedai adalah persoalan yang lebih besar, mendasar, dan nyata ketimbang apa yang selama ini dihidupi oleh Ben dan Jody. Selain itu, diam-diam mereka juga berusaha mendekati perempuan yang sama.

Kendati banyak peristiwa terjadi sepanjang film, cerita utama sebenarnya cukup sederhana. Berbagai kejadian kecil lebih terasa sebagai elemen-elemen untuk menggambarkan emosi dan konflik batin setiap tokoh, terutama Ben dan Jody yang telah bersahabat sejak kecil.

Ibarat, ketika ada yang bertanya apa rasa kopi hitam, orang tak hanya menjawab bahwa rasanya pahit atau masam. Dia mendeskripsikan apa beda pahit masam kopi dibanding suguhan lain. Setiap lapisan diuraikan dan digali. Beginilah Ben yang angkuh, begitulah Jody yang tak lagi mau mengalah.

Film ini mampu membangun ketegangan emosional secara halus. Dialog cair dan intens, serta seimbang dengan bahasa visual yang efektif. Musik dan efek suara menyelinap pada momen yang wajar mengalir. Membuat seduhan film ini terasa dekat dan hangat.

Keempat tokoh utama pun terasa hidup. Chicco, Rio, Luna, dan Nadine membawa kedalaman emosi setiap karakter, serta memperkenalkan apa beban yang mereka tanggung dan ambisi yang hendak mereka capai.

Seperti halnya film-film Angga lain, kisah dalam Filosofi Kopi 2  juga memotret persoalan besar dalam masyarakat, yang dihadirkan ke kehidupan personal para tokoh. Ada sikap dan pernyataan jelas soal isu-isu tersebut, tetapi terdengar sebagai sebuah ungkapan protes yang menyeruak secara halus.

Filosofi Kopi 2  terasa lebih intens, mendalam, dan hangat dibandingkan film pertama. Dia menyeduh sisi-sisi lain kopi. Bahwa kopi bukan sekedar kemewahan instan secangkir kopi di suatu sore yang melankolis. Tidak lagi berfilosofi dengan rasa dan penyajian yang melambung, melainkan dengan persoalan yang lebih membumi.

Kopi semakin terasa sebagai sebuah analogi. Toh, film ini tidak hanya mendewakan kopi sebagai topik cerita. Dia mengurai ambisi dan emosi yang sering kita kenal dalam hidup sehari-hari. Sakit hati karena kegagalan, kegembiraan karena pencapaian, dan kekecewaan karena perasaan dikhianati.


*Ulasan ini merupakan pandangan pribadi penulis sebagai penonton film


(DEV)