Komedi dan Kebebasan ala Indro Warkop

Purba Wirastama    •    16 September 2018 07:00 WIB
indro warkopsineas kita
Komedi dan Kebebasan ala Indro Warkop
Indro Warkop berpose di kantor Falcon Pictures, Duren Tiga (Medcom.id - Purba)

Jakarta: Indrojoyo Kusumonegoro boleh saja menjadi bahan tertawaan ketika tampil sebagai "Indro" di  panggung komedi dan film-film Warkop era 1976-2001, atau ketika belakangan kembali aktif di film-film komedi. Dalam komedinya – bersama mendiang Dono, Kasino, dan sempat juga dengan Nanu – kadang terselip ungkapan satir yang menyindir situasi sosial pada zamannya.

Namun, Indro dan kawan-kawan tidak sekadar tampil "konyol" atau cuap-cuap pedas. Menurut Indro, yang pada 8 Mei lalu sudah genap berusia 60 tahun, grup Warkop selalu punya rancangan dan prinsip atas apa yang hendak mereka katakan dan apa yang tidak mereka lontarkan.

Prinsip utama, jangan sampai lawak satir Warkop membuat orang-orang resah dan merasa tidak aman. Pada dasarnya, mereka ingin menghibur.

"Kami juga mikir, enggak semua bisa kami kritik karena kalau ada beberapa (masalah) yang kami kritisi, orang resah: Berat hidup di Indonesia ya kayaknya," ungkap Indro dalam obrolan dengan Medcom.id di kawasan Duren Tiga Jakarta, akhir Agustus lalu, ketika sedang mempromosikan film layar lebar terbarunya bersama Tora Sudiro, Gila Lu Ndro.

Prinsip ini menjadi salah satu pegangan grup Warkop semasa aktif. Indro, satu-satunya anggota Warkop yang tersisa, masih memegang prinsip itu untuk proyek-proyek komedi yang dia bisa terlibat banyak, termasuk Gila Lu Ndro dari sutradara Herwin Novianto serta penulis naskah Aline Djayasukmana dan Upi. Dia ikut memberikan sensor, aspek komedi mana yang aman dan tidak akan membuat orang resah.

Kendati komedi mereka punya batasan, Indro bersama Warkop tetap menemukan kebebasan berekspresi, yang pada era orde baru seolah hanya ada di warung-warung kopi. "Bahkan tembok bisa mendengar," kata Indro terkekeh.


Indro Warkop berpose di kantor Falcon Pictures, Duren Tiga (Medcom.id-Purba)

Namun setelah reformasi Indonesia, masa di mana demokrasi menjadi acuan dan lebih banyak suara terangkat ke permukaan, Indro justru mendapati ironi. Bercanda semakin sulit. Sejumlah hal menjadi lebih sensitif karena sebagian masyarakat yang mudah tersinggung.

"Bercanda sekarang enggak sebebas dulu. Enggak bebas itu bukan karena pemerintahan, tetapi karena masyarakatnya," ujar Indro. Kali ini dalam mimik wajah yang lebih serius.


Karier Komedi Indro Warkop

Dalam trio Warkop, Indro menyebut dirinya kerap berperan sebagai playmaker. Maksudnya, dia membangun "umpan" komedi, yang kemudian disambut Kasino untuk Dono. Pembagian peran ini hanya satu dari sekian aturan yang mereka terapkan seiring perjalanan. Aturan lain misalnya, celetukan untuk Kasino disiapkan lebih matang karena itu adalah kekuatan komedinya.

Perjalanan karier Indro bermula pada 1977, ketika dia masuk grup penyiar Warkop Prambors. Di sana sudah ada Kasino, Nanu, Rudi Badil, dan Dono, yang menjadi penyiar program Obrolan Santai di Warung Kopi. Di luar radio, tanpa Rudi, mereka juga membentuk grup lawak panggung. Kelak, mereka mencopot embel-embel "Prambors" karena persoalan royalti dan hak paten.

Mereka menjadi grup kwartet. Indro adalah anggota termuda dengan selisih usia delapan tahun.

"Mereka sudah sarjana, gue baru kelas tiga SMA," ucap Indro.

Film pertama Warkop adalah Mana Tahan (1979) garapan sutradara dan penulis naskah Nawi Ismail. Menurut Indro, Mana Tahan adalah satu-satunya film Warkop yang kisahnya mereka buat. Indro, Dono, Kasino, dan Nanu memerankan tokoh yang tak memakai nama mereka, yaitu Paijo, Slamet, Sanwani, dan Poltak.

Paijo dan Slamet adalah dua mahasiswa perantau yang bertemu di kereta api dan memutuskan untuk tinggal satu rumah kos. Begitu sampai Jakarta, mereka tinggal di rumah kos milik Tante Mira (Rahayu Effendi) dan berkawan dengan Sanwani dan Poltak. Indro dan tiga kawan barunya sama-sama menyukai Halimah (Elvy Sukaesih), pembantu di rumah tersebut.


Iklan film Mana Tahan rilisan 1979 (warkopdki.org)


Suatu ketika, Halimah hamil. Tante Mira sempat menuduh salah satu dari mereka sebagai ayah dari janin Halimah, kendati kemudian fakta berbicara lain. Pada akhir cerita, Tante Mira senang karena keempat anak kos telah menjadi sarjana.

Indro masih mengingat hari-hari produksi film perdana ini. Ketika ditunjukkan video potongan dialog "Sepi banget..." yang belakangan menjadi meme di grup-grup percakapan WhatsApp, Indro mengungkap cerita di baliknya.

"Itu take pertama saya di film. Itu shot pertama saya dan take one dan satu take. Ini di Taman Mini Indonesia Indah. Adegannya, saya menjadi supir Blue Bird, banyak anak yang mau masuk mobil saya, tapi saya enggak mau. Anaknya ada sekitar 10 orang," ujar Indro.



"Ini sering dipakai di grup (WhatsApp). Yang saya heran, orang-orang menghubungkan, banyak adegan film-film dulu yang nyambung dengan kejadian sekarang. Kayak kemarin waktu Setya Novanto pura-pura tubrukan. Orang-orang lebih kreatif dari Warkop," ungkap Indro berkelakar, merujuk ke segmen tokoh Kasino kecelakaan di film Kesempatan Dalam Kesempitan (1985).


Dari Kwintet, Kwartet, lalu Trio

Setelah Mana Tahan, Warkop berjalan tanpa Nanu. Tahun berikutnya, mereka bermain dalam tiga film layar lebar, mulai dari Ge...er (Gede Rasa), Gengsi Dong, dan Pintar-Pintar Bodoh. Sejak film keempat ini, nama panggilan mereka selalu digunakan sebagai nama tokoh. Mereka juga tetap mengisi panggung komedi di berbagai tempat.

Nanu meninggal di Jakarta pada 1983 dalam usia 30, sedangkan Rudi menekuni profesi jurnalis. Indro dan dua kawannya mengukuhkan identitas grup dengan nama Warkop DKI. Dalam formasi trio ini, mereka bermain di 33 film panjang hingga 1994. Hampir separuhnya digarap sutradara Arizal (Gita Cinta dari SMA). Film terakhir Indro bersama Dono dan Kasino adalah Pencet Sana Pencet Sini.

Indro sempat bermain serial televisi bertajuk serupa bersama Dono dan Kasino. Indro sempat bekerja untuk beberapa program televisi selama tiga sampai lima tahun. Namun dia tidak pernah berniat menjadi sutradara atau atau produser film. Beda dengan Dono dan Kasino yang pernah menjadi produser.

"Saya berkaca, kayaknya saya hanya bisa main, enggak usah memaksa. Kalau semua harus kita kuasai, mereka yang ahli terhadap hal itu mau apa? Misalnya kayak begini, saya bisa naik haji beberapa kali kalau mau nabung. Namun begitu hari pertama naik haji, saya langsung mikir, saya hanya bisa sekali karena buat saya, enggak adil saya yang baru mau sekali, disaingi oleh banyak orang yang sudah berkali-kali," tutur Indro, tetap dengan referensi situasi sosial sekitar.


Dono, Kasino, Indro (warkopdki.org)

Setelah Kasino meninggal pada akhir 1997, Indro dan Dono tetap tampil di layar televisi dalam nama Warkop Millenium. Empat tahun kemudian, Dono menyusul kepergian Nanu dan Kasino.

Butuh waktu setahun bagi Indro untuk mengendapkan diri. Dia absen dari dunia hiburan dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga serta anak-anak Dono dan Kasino.

"Kami terbiasa kayak sapu. Saya bukan apa-apa tanpa Dono dan Kasino, mereka juga demikian. Tiba-tiba satu hilang. Ketika saya harus jadi playmaker, striker, dan kiper – itu yang paling berat buat saya karena kami terbentuk sebagai tim, selalu tim," kenang Indro.

"Saya setahun enggak kerja, enggak ngapa-ngapain, gue bingung. Di sisi lain, Dono dan Kasino bilang, Warkop harus diteruskan, minimal rohnya. Ya sudah, selama setahun itu, saya mendekat dengan anak-anaknya Dono dan Kasino, bikin sebuah grup dalam badan hukum, mulai kasih tahu siapa bapak-bapak mereka, sampai akhirnya mereka sadar, ternyata bapak bukan hanya pelawak, tetapi pahlawan buat keluarga."


Ikut Menyisir Naskah Film

Dalam tim itu, mereka bertiga tidak hanya beradu akting, tetapi juga ikut meninjau materi naskah film yang akan diproduksi. Menurut Indro, mereka memang punya privilese itu. Elemen komedi yang tidak pas akan dibuang atau dipindah ke bagian lain. Proses ini dilakukan sebelum reading dengan para pemeran lain.

"Untuk mencapai skenario siap pakai, minimal 10 kali kami ketemu untuk membedah saja. Baru setelah jadi, reading. Biasanya, kami enggak pakai reading karena sudah 10 kali (ketemu), sudah khatam," ujar Indro.

"Misalnya dia menulis naskah, (kami tanya) 'Mas, menurut anda, yang ini lucunya di mana? Kalau menurut saya begini.' Dia bisa mempertahankan enggak? Kadang saya dengan Mas Dono beda, dengan Mas Kasino apalagi," imbuhnya memberi contoh.



Penyisiran itu juga berguna untuk memastikan kemantapan alur cerita dan komedi, termasuk apakah sejumlah lelucon sudah melayani berbagai kalangan penonton. Tidak seperti komedi panggung, komedi film punya jangkauan lebih luas. Mereka sadar, ide dan rasa humor setiap daerah ternyata berbeda.

Karena itu, Indro dan kedua rekannya berusaha memperkaya wawasan komedi berbagai daerah, yang umumya dibagi dalam identitas etnis. Komedi orang Sunda belum tentu bisa diterima orang Jawa. Komedi orang Jawa belum tentu bisa diterima orang Batak. Begitu sebaliknya.

"Kabayan misalnya, dengan segala kebegoan. Untuk orang Sunda, itu lucu banget, untuk orang Jawa, enggak terlalu (lucu). Namun buat kami, itulah sebuah kekayaan," ungkap Indro.

Mereka punya catatan berisi berbagai bahan lelucon andalan untuk kalangan penonton berbeda. "Katalog lawak" ini sangat berguna ketika mereka tampil di panggung. Indro bertugas mencatat materi ini, sebelum Dedi Gumelar alias Mi'ing Bagito masuk dan menjadi asisten Warkop. Mereka juga mencatat materi mana saja yang sudah pernah dipakai.

"Supaya kalau diundang Pertamina lagi, kami jangan keluarkan itu bahan," ujarnya.

Satir Tanpa Meresahkan

Film-film Warkop DKI punya sejumlah kaidah dalam melawak. Salah satunya seperti yang telah diungkap Indro, yaitu jangan sampai lelucon menimbulkan keresahan. Mereka kadang menyindir situasi sosial, tetapi dalam cara yang relatif aman.

"Walaupun kritik, tetapi ada kaidah, ada yang harus lebih dikedepankan, rasa nasionalisme kita., rasa kebangsaan kita. Jadi jangan sembarang."

Dalam khazanah komedi yang senantiasa berubah seiring pergerakan zaman, prinsip itu masih relevan bagi Indro. Dia mengakui, mungkin sulit untuk selalu bisa melawak dengan gaya terkini. Urusan lucu-lucuan, biarlah ditangani generasi terbaru. Namun soal sensor, Indro masih punya pengaruh untuk film-film yang melibatkan dirinya.

"Kalau komedi, saya selalu pegang Arie (Kriting) untuk sementara ini, tetapi saya tetap punya sensor, punya pengaruh di situ. Ini jangan, enggak enak, orang ngerti apa kagak, nanti malah bikin resah. Misalnya begitu. Jadi, enggak semudah itu mengkritisi orang."

"Dari dulu, Warkop DKI enggak mau dibilang kritik politik. Kami mengkritisi perilaku politik dan itu ranahnya sosial. Politik itu hitam putihnya hanya menang atau kalah, peduli setan benar atau enggak, sedangkan yang kami kritisi perilakunya," tutur Indro.

Prinsip kedua, jangan sampai lelucon mereka masuk ke pelecehan fisik. Dono mungkin menjadi "korban" dalam lelucon Warkop, tetapi dia tidak pernah, misalnya, dikenai lelucon fisik. Indro mengklaim bahwa Warkop DKI tidak pernah bermain "kata-kataan" atau kekerasan verbal.

"Kami enggak pernah nyacat tubuh, kami enggak main itu dari dulu. Kalau Anda lihat sampai sekarang, kami enggak main kata-kataan, kami enggak nyeleneh. Menurut kami, kalau kami main fisik, gampang banget jadi komedian. Itu satu. Kedua, itu mencacat Tuhan," tegasnya.

Menurut Indro, kritik sosial dalam film-film lama Warkop sebenarnya terbatas dan hanya terselip dalam beberapa bagian. Baru dalam film terbaru ini, Gila Lu Ndro yang sekarang masih tayang di bioskop, komedi satir masuk secara penuh.

"Buat saya, film ini membanggakan. Buat saya pribadi, mudah-mudahan bisa diterima, ini film komedi satir pertama buat saya. Sebelumnya di Warkop atau Warkop DKI Reborn, tetap ada hal-hal kritis, walaupun segmennya terbatas dan sporadis. Misalnya, 'Kecil-kecil udah ngompas lu, besok gede jadi pimpinan ormas lu.' Itu sporadis saja, letupan kecil," terang Indro.

"Kalau film ini, mulai dari awal, ada tema di situ. Ada hal yang ingin kami ungkapkan mengenai kita," imbuhnya.


Kaver rilisan film Saya Duluan Dong dan Pencet Sana Pencet Sini, dua film terakhir Warkop DKI (warkopdki.org)

Sulitnya Bercanda di Era Demokrasi

Indro secara terbuka menilai bahwa masyarakat era pemerintahan Presiden Joko Widodo punya kebebasan sangat besar dalam hal berekpresi. Bahkan kelewat bebas. Namun ada ironi di sana. Banyak hal yang harus dipertimbangkan secara lebih ketat dalam urusan bercanda.

"Demokratis banget. Banyak hal yang menurut saya sudah kelewatan, keterlaluan, tetapi enggak diapa-apakan, ditegur saja enggak. Sebaliknya, sekarang apa-apa menjadi (sensitif)," ujar Indro.

Menurut Indro, semakin banyak orang dengan mudahnya berbicara tanpa landasan data. Humor juga menjadi lebih seenaknya. Sebagian lelucon tidak memikirkan dampak keresahan yang bisa ditimbulkan dalam masyarakat. Rasa tidak suka juga mudah disebar, terutama bagi sosok-sosok tertentu yang tidak disukai.

"Orang-orang memberi expose hanya karena enggak suka dengan satu orang. Exposes dengan data yang tidak mutakhir, semua orang resah, enggak ada rasa kebangsaan, enggak ada rasa nasionalisme."

Semua orang larut dalam euforia kebebasan. Indro menyebut bahwa ini adalah akibat tekanan orde baru selama 32 tahun. Dia mengibaratkan seperti sebuah pegas kendaraan bermotor yang terikat kawat dalam waktu lama, lalu kawat-kawat pengikat digunting.

"Dia memantul. Bayangkan saja mantulnya, untuk sampai duduk lagi, butuh berapa tahun. Kita sekarang masih ada dalam situasi ini. Euforia dan kebebasan – bahkan kebodohan yang ada, bukan kebebasan. Enggak ada orang bablas kalau enggak bodoh," ujar Indro.

Dia memberi contoh kasus ribut-ribut soal Jokowi dan stuntman dalam seremoni pembukaan Asian Games 2018 di Jakarta.

"Asian Games dicacat karena Jokowi, padahal seharusnya kita melihat Asian Games sebagai Indonesia. Saya enggak melihat Jokowi-nya, saya melihat kemegahan itu. Mungkin karena sama-sama seniman, saya mau menangis – mulai dari Tari Saman, lalu kayak ada seolah-olah naik gunung untuk prosesi obor," ungkap Indro.

Bagi Indro, adalah kemunduran bahwa dalam zaman demokrasi, orang malah jadi harus berhati-hati dalam bersuara. Menurut ayah tiga anak ini, situasi yang harus dihadapi sekarang adalah orang-orang yang tidak mengerti demokrasi. Seperti pegas yang dilepas, butuh waktu sekian tahun masyarakat mampu memahami kebebasan.

"Dulu, sekeliling kami enggak ada demokrasi, bahkan tembok bisa mendengar. Misal di sekolah, saya omong sesuatu dan hanya beberapa orang saja yang tahu saya tanda tangan petisi. Besok saya langsung diskors."

"Kami ambil nama Warung Kopi (Warkop), karena cuma di situ ada demokrasi. Sekarang, orang hanya mau berteriak, enggak mau menerima yang teriak," pungkasnya.

 


(ELG)

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

Produser The Rolling Stones Percaya Dangdut Mampu Mendunia

1 day Ago

Seperti yang dikatakan Rhoma Irama lewat lagu Viva Dangdut, "Dunia pun berdangdut, dunia k…

BERITA LAINNYA