Sosok Bartje van Houten di Mata Bens Leo

Purba Wirastama    •    07 Mei 2017 13:05 WIB
musik
Sosok Bartje van Houten di Mata Bens Leo
Sejumlah keluarga dan kerabat berada di dekat jenazah saat musisi Bartje Van Houten disemayamkan di rumah duka RS St Carolus Salemba, Jakarta. (Antara Foto: Aprillio Akbar)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat musik Bens Leo adalah salah satu sahabat yang tak menyangka Bartje van Houten tutup usia lebih cepat. Bartje, pentolan grup musik D'Lloyd sejak tahun 1970-an, meninggal di usia 67 tahun pada Jumat, 5 Mei 2017.

"Waktu dia meninggal, banyak teman, sahabat dia yang kaget sekali karena nggak pernah ada cerita Bartje sakit," kata Bens ketika dihubungi Metrotvnews.com,  Sabtu 6 Mei 2017.

Beberapa bulan sebelumnya, Eric van Houten adik Bartje berpulang lebih dulu karena serangan jantung. Bens juga tak menyangka karena sehari sebelumnya masih bertemu Eric di kantor.

Bens mengenal dekat sosok Bartje terutama karena terlibat bersama sebagai juri Lomba Menyanyi Lagu Karya (LMLK) Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Pacitanpada tahun 2013. Mereka bertiga dengan Jimmy Manopo, dan Bartje menjadi ketua juri.

Menurut Bens, Bartje termasuk gitaris yang disukai SBY. Selain sering dipercaya sebagai juri lomba musik, dia juga terlibat dalam penggarapan materi beberapa album musik SBY.

"Jaman Pak SBY bikin album rekaman, dari enam album, hampir semua ada permainan Bartje van Houten. Kalau Pak SBY bikin lomba nyanyi lagu karyanya keliling kota, termasuk di Pacitan, Bartje selalu diminta jadi juri," kata Bens.

Perjalanan D'Lloyd

Bartje mendirikan D'Lloyd bersama Syamsuar 'Sam' Hasyim sang vokalis pada akhir 1960-an. Bartje sendiri memegang kendali gitar utama dan memimpin grup.

Mereka merekrut empat anggota lain, yakni Andre Kasiman Gultom (flute/saxaphone), Chairoel Daud (drum), Budiman Pulungan (keyboard), dan Sangkan 'Papang' Panggabean (bass). Dalam tur, mereka juga menggandeng gitaris tambahan Yustian.

Bens pernah membantu D'Lloyd untuk pengerjaan kaver album pertama Titik Noda  tahun 1971 yang dirilis dalam piringan hitam. Bens mengingat, dia memotret mereka di atas kapal Djakarta Lloyd dengan kamera Yashica Mat dan film medium format ukuran 6x6.



"Itu Bartje ingat sekali. Ini bang Bens yang memotret pertama kami rekaman," kenang Bens.

D'Lloyd disebut Bens sebagai grup musik yang popularitasnya menyamai Mercys, Panbers, dan The Rollies pada jamannya. D'Lloyd bahkan masih populer hingga sekarang, terutama di Malaysia. Beberapa kali mereka masih mendapat undangan untuk tampil.

"Sehingga sebagai band rekaman, dia adalah band yang sukses. Dari situ saja sudah ketahuan betapa Bartje ini mampu mengatur dan menerapkan disiplin yang bagus. Karena band ini tidak pernah ganti formasi," ujar Bens.

Seiring waktu berjalan, beberapa anggota baru memang bergabung dengan D'Lloyd setelah para personel meninggal satu per satu. Namun penggantian ini bukan perubahan formasi esensial.

"Mereka hanya mencari pemain tamu. (Mereka) tetap menghormati musisi lain yang ikut mendirikan band, dan ikut populer pada saat di bawah Djakarta Lloyd," kata Bens.

Kepergian personel diawali dengan Gultom pada tahun 1976. Yuyun George pun diundang untuk menempati posisinya. Sementara, Papang meninggal tahun 1993, disusul Pulung (2008), Sam (2012), dan Chairoel (2014).

D'Lloyd adalah Bartje

Kepergian Bartje sebagai personel terakhir memunculkan pertanyaan, bagaimana kelanjutan D'Lloyd karena keenam personel utama telah tiada. Apalagi kiprah Bartje adalah yang paling menonjol di grup. Selain menjadi gitaris dan pemimpin, kebanyakan lagu D'Lloyd adalah ciptaannya.

Karena itu, serupa dengan ungkapan 'Panbers adalah Benny Panjaitan', Bens menyebut bahwa D'Lloyd adalah Bartje.

"Dia orang yang bisa mengatur band dengan baik, sehingga meskipun Sam (vokalis) enggak ada, orang mengingat D'Lloyd adalah Bartje," katanya.

Bagi Bens, faktor keberhasilan D'Lloyd mempertahankan formasi grup hingga sekarang adalah rasa kebersamaan yang terus dijaga. Misalnya soal honor yang dibagikan dengan baik.

"(Orang betah) karena kebersamaan. Susah senang dibagi bersama. Kelihatan agak langka di grup-grup lain yang sempat populer," kata Bens.

D'Lloyd juga diketahui tidak memiliki manajer khusus selain root manager yang hanya bertanggung jawab ketika tur panggung. Ini menjadi bukti bahwa mereka mampu mengelola grup musik dengan baik.

Sepeninggal Bartje, Bens sulit memprediksi bagaimana kelanjutan D'Lloyd. Sewaktu Bartje ditinggal oleh Sam tahun 2012, lalu Chairoel tahun 2014, grup musik ini masih diminati sebagai penampil.

"Tapi kalau Bartje nggak ada, saya nggak tahu. Dia pemimpin yang baik sekali, disukai sama anak buahnya," ujar Bens.

Jenazah Bartje disemayamkan di Rumah Duka St. Carolus, Jakarta sejak Jumat malam 5 Mei 2017. Sesuai rencana, hari ini, Minggu, (7/5/2017), jenazahnya dimakamkan Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta Selatan.

Selamat jalan, Bartje...


(DEV)

Renjana Base Jam Bernostalgia

Renjana Base Jam Bernostalgia

5 days Ago

"Sesuai lagu kita yaitu, Jatuh Cinta dan Rindu. Bagaimana mengenang awal orang 'jatuh …

BERITA LAINNYA