Tanggapi Kritik pada Film Naura & Genk Juara, Sutradara: Distorsinya Terlalu Jauh

Purba Wirastama    •    23 November 2017 14:08 WIB
film indonesianaura
Tanggapi Kritik pada Film Naura & Genk Juara, Sutradara: Distorsinya Terlalu Jauh
Eugene Panji (dok KG Studio)

Jakarta: Sepotong opini di akun media sosial atas nama Nina Asterly tersebar luas dan tersiar di grup-grup percakapan WhatsApp. Isinya tudingan bahwa film Naura & Genk Juara telah melecehkan agama, yang lalu disusul ajakan untuk memboikot film.

Akun media sosial atas nama Windi Ningsih mengambil langkah lebih jauh. Dia mengawali petisi internet di change.org, yang meminta berbagai institusi untuk menyetop film dari peredaran.

Sejumlah pernyataan datang dari institusi terkait, seperti Ketua Lembaga Sensor Film, Ahmad Yani Basuki, dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi. Mereka mendukung film ini dan menyebut bahwa tuduhan pelecehan tidak relevan.

Metrotvnews.com menghubungi sutradara Eugene Panji dan meminta tanggapan terkait tudingan ini. Berikut petikan wawancara langsung dengan Eugene.

M: Ada ribut-ribut di media sosial, ada opini bahwa muatan film Naura dianggap melecehkan agama karena mengandung ungkapan kaget yang diucapkan tokoh antagonis. Ada ungkapan spontan 'Astagfirullah' sebanyak tiga kali. Tudingan negatif ini disusul dengan pemboikotan film. Apa tanggapannya?

EP: Aku jawab dari domain kreatif saja. Pertama, sebagai pembuat film, yang saya pedulikan adalah soal isu, bahwa sudah 17 tahun kita enggak punya film anak-anak musikal dan enggak punya lagu anak-anak baru. Ini tertinggal. Rasanya, seharusnya bangsa ini berfokus ke situ. Lalu saya membuat film itu.

Kedua, film itu pasti ada bagian tidak sempurna. Nah, kalau kemudian masyarakat punya persepsi dari preferensi masing-masing, tentu diperbolehkan. Semua bisa diterima. Kalau output-nya berupa kritik, itu sangat aku butuhkan. Saat dianggap ada penggunaan kata tidak tepat, menurutku sifatnya kritik dan bisa diterima.

Akhirnya Ada Lagi Lagu Anak-Anak

Namun, jika kemudian ini melebar ke pernyataan bahwa saya menjelek-jelekkan, rasanya ini jadi distorsi banget. Menurutku, kritisi saja (film ini). Ke depan, saya akan lebih hati-hati bikin film. Bahwa saya tidak menghasut, tidak ada poin-poin menghasut dari film saya ini.

Saya masih ngotot bahwa ini film baik dan film sehat buat anak-anak kita. Ketika anak-anak menonton, mereka bahagia dan banyak orang tua mendukung ini. Kemudian LSF sudah membuat pernyataan, Kak Seto membuat pernyataan, teman-teman lain juga membuat pernyataan.

Apakah kemudian pernyataan orang yang mengirim itu lebih valid daripada kita, saya tidak tahu.

M: Produser film ini, Amalia Prabowo, menyebut proyek film Naura berawal dari dirinya dan Handoko Hendroyono. Lalu Eugene diajak sebagai sutradara. Bisa cerita lagi soal keterlibatan di proyek ini?

EP: Sebetulnya saya kloter paling terakhir dalam proyek ini. Ini yang mungkin masyarakat enggak tahu, bagaimana proses pembuatan film, bagaimana sutradara hadir di tengah proyek. Ada (proyek), yang ide ceritanya datang dari sutradara, dia menulis dan membuat sendiri.

Dalam kasus ini, saya kloter terakhir. Cerita ini sudah ada, sudah dikonsultasikan kepada semua pihak terkait, sudah ada FGD (focus group discussion). Benar yang Mbak Amalia bilang, saya direkrut melakukan pekerjaan itu sebaik mungkin.

(Menurut Amalia, pengerjaan film ini melibatkan diskusi kelompok dengan anak-anak SD dalam beberapa golongan usia. Tujuan diskusi adalah untuk mengetahui apakah alur cerita film sudah dapat dipahami oleh anak-anak.)


Eugene Panji di lokasi syuting Naura & Genk Juara (dok KG Studio)

M: Tudingan itu dikaitkan dengan preferensi politik Eugene. Bagaimana menjawab tudingan ini?

EP: Nah itu dia. Saya pernah menulis di Facebook: Maaf saya sedang sibuk berkarya, urusan politik dan agama, kalian saja.

Karena saya memang enggak pernah tertarik omong soal itu. Politik adalah konsumsi personal sekali. Kalau saya dituding pendukung figur tertentu, itu pilihan politik ya. Tapi kalian boleh melacak lagi, boleh riset di mana pun tentang saya, saya berteman lho dengan adik Sandiaga Uno.

Kami berseberangan (partai politik) dan masih berteman sampai sekarang. Kami bekerja di industri sama, ketemu, ketawa-ketawa, masih ngopi. Saya juga kenal baik dengan tim sukses Mas Sandiaga. Kami juga baru kerja bareng, dan enggak ada hubungannya sama sekali. Saya juga bersahabat dengan banyak teman-teman muslim, nenek saya juga muslim. Maksud saya, so what?

Saya bukan pemilih politik yang radikal, menghina, mencaci maki, apapun itulah, karena saya enggak pernah punya kapasitas itu. Saya diciptakan Tuhan dengan talenta kreatif, jadi saya bicara menyadari sudut pandang yang saya mampu saja. Makanya sampai hari ini, saya enggak pernah mau bicara politik dan agama karena saya anggap saya enggak mampu di bidang itu. Takut salah.

Kalau ditanya soal politik, itu konsumsi personal, pilihan politik saya, dan saya enggak pernah berkoar-koar soal pilihan politik saya. Kalau saya mengucapkan selamat ulang tahun, memang saya salah? Enggak juga kan. Tapi enggak pernah saya menghina pasangan lain, buat saya, perbedaan itu menyenangkan.

Yang saya sedih, ini film anak-anak lho. Tolong jangan ditunggangi. Kasihan anak-anak.

M: Ada kabar bahwa para pemain tertekan karena tudingan tersebut. Apa benar?

EP: Terus terang, mereka tertekan. Bayangkan, teman-teman pemain anak saya sudah sudah janjian mau nonton film bersama sekolah. Lalu tiba-tiba, gurunya omong ke mereka: Maaf ya kita tahan dulu.

Coba bayangkan perasaan mereka. Apakah kemudian itu tidak masuk ke area perundungan?  Lalu bagaimana dengan anak saya? (Isu tersebut) masuk ke grup WhatsApp yang isinya orang tua murid dan guru-guru. Jadi dampak sosial dong yang harus dipikirkan.

Jadi maksudku, lagi-lagi, saya sangat menerima sekali kritik apapun yang diberikan ke saya sebagai pembuat film. Ke depan, pasti saya harus lebih hati-hati. Tapi saya agak keberatan banget, kalau kemudian, kesalahan apa pun yang dianggap salah, dianggap sebagai penistaan agama dan bahkan menghasut untuk membenci agama. Menurutku, distorsinya terlalu jauh.


 


(ELG)