Turah, Sempat Dianggap Pretensius hingga Dikirim Ikut Seleksi Oscar

Purba Wirastama    •    24 September 2017 09:21 WIB
film indonesia
Turah, Sempat Dianggap Pretensius hingga Dikirim Ikut Seleksi Oscar
Slamet Ambari dan Ubaidilah dalam Turah (fourcolours)

Metrotvnews.com, Jakarta: Tak ada ambisi macam-macam ketika Wicaksono Wisnu Legowo, pria kelahiran Tegal 1983, menulis dan menyutradarai film Turah.  Menurut Wisnu, film ini dibuat semata demi berbagi pengalaman pribadi dia mengenai kehidupan di kampung Tirang.

Turah  tayang perdana di Singapore International Film Festival 2016 dalam program kompetisi film Asia. Kendati tidak menang, film dapat perhatian khusus dari dewan juri, bersama dengan film pendek On the Origin of Fear  garapan Bayu Prihantoro.

Dalam pekan yang sama, Turah juga diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan menjadi film terbaik pilihan komunitas (Geber Award). Wisnu juga meraih NETPAC Award atas kontribusi bagi gerakan sinema baru.

Setelah dikenal di festival dan mendapat perhatian media massa, Turah  berkeliling di beberapa program pemutaran khusus. Baru pada 16 Agustus 2017, film produksi Fourcolours Films ini dirilis di belasan layar bioskop. Turah bertahan selama dua minggu dan mendapat angka penonton sekitar lima ribu orang.

Pertengahan September, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) lewat komite berisi 13 orang pelaku seni film, menunjuk Turah  untuk mewakili Indonesia dalam tahap seleksi nominasi Oscars ke-90 di AS.

(Baca: Film Turah Akan Dikirim ke Oscar 2018)

Kendati Oscars berfokus ke industri film Amerika, sulit untuk menyangkal bahwa ajang penghargaan tersebut punya daya tarik kuat di dunia. Film-film nominasi tak selalu diputar di Indonesia misalnya, tetapi tetap saja perhatian dunia ke Oscars begitu besar.

Bisa dibilang, film Turah  punya kesempatan untuk berjalan lebih jauh. Wisnu sendiri mengakui bahwa film itu kini tak lagi menjadi catatan personal, tetapi catatan dunia.

Tak berhasil mendalami ilmu ekonomi, Wisnu masuk ke Fakultas Film dan Televisi IKJ pada 2003. Setelah itu, dia aktif membuat film dan iklan audio video, termasuk sejumlah proyek film pendek bersama Pemda Tegal. Perkenalan dengan Ifa Isfansyah mengantarkan Wisnu mendalami lebih jauh industri film.

Jumat 22 September 2017, Metrotvnews.com  berbincang lewat telepon dengan Wisnu. Wisnu, seperti sering diceritakan oleh Ifa dalam sejumlah kesempatan, adalah orang yang ceria dan mudah tertawa.

Berikut penggalan obrolan dengan Wisnu mengenai sekelumit perjalanan dia sebagai pembuat film dan sepenggal dua penggal cerita di balik produksi film Turah.

Sejak kapan terjun ke industri film?

Pertama kali saya menyutradarai film, itu film pendek tahun 2006, judulnya Tobong. Film itu dapat penghargaan spesial dari dewan juri FFI 2006. Habis itu saya masuk industri pertama kali jadi clapper, terus jadi asisten sutradara di film bioskop atau iklan. Baru bikin film panjang pertama, Turah, kemarin (2016). Sebelumnya sering bikin film pendek 30-an menit dengan Pemda Tegal. Beberapa pemain Turah pernah ada yang main di film-film pendekku itu.

Film dengan Pemda Tegal?

Setiap tahun mereka bikin semacam penyuluhan tetapi lewat media audio visual. Misal film fiksi tentang Tegal Sehat. Jadi sekalian mendukung program Pemda tentang Tegal Sehat, kami bikin film dengan tema itu. Sama kayak (film tentang) G30S/PKI, pemerintah bikin itu. Mirip-miriplah.

Proyek film penyuluhan masih berjalan sampai sekarang?

Sekarang masih jalan, cuma bukan aku yang menyutradarai. Ada tim lain yang bikin.

Apakah sudah lama dekat dengan para aktor Turah, seperti Slamet Ambari, Ubaidilah, Narti Diono?

Aku sudah kenal dari kecil, mereka sering main teater. Beranjak dewasa, aku pernah mengajak mereka bertiga bikin film pendek dengan Pemda Tegal tadi. Aku ajak mereka sesekali.

(Baca: Diajak Syuting, Aktor Film Turah Sembuh dari Sakit)

Sejak kecil mengenal dunia teater?

Saya dekat dengan teater karena kebetulan bapak saya (Yono Daryono) sutradara teater juga. Dia punya teater RSPD namanya, dari Tegal.

(Yono turut bermain di film Turah  arahan Wisnu, dalam peran sebagai Darso, juragan lokal kaya raya yang menguasai kampung Tirang)

Bapak juga sering menyutradarai tiga pemain tadi (Slamet dkk) di teater?

Lumayan sering. Cuma di lingkungan yang sama. Pernah (mengerjakan teater) dengan mereka juga, cuma enggak terus-terusan.

Katanya, perjumpaan pertama dengan Ifa Isfansyah waktu FFI 2006? Waktu itu film pendek kalian sama-sama diunggulkan di kategori film pendek.

Kalau itu saya saja yang tahu, tapi Mas Ifa enggak tahu saya. Saya tahu ada orang namanya Ifa Isfansyah. Ketemu lagi waktu Mas Ifa syuting Sang Penari. Ada lokasi (syuting) di Tegal. Nah aku menjadi asisten produksi di Tegal, mengurus kebutuhan penginapan segala macam di Tegal.

Syuting film Sang Penari  mundur. Saat mulai lagi, ketemu lagi, aku diminta menjadi asisten sutradara (astrada) 3, yang mengurus extras (pemain ekstra) bagian luar, yang jauh-jauh, yang banyak. Setelah syuting berlangsung beberapa minggu, aku jadi Astrada 2 karena Astrada 2 yang sebelumnya sakit.

Jadi, aku masuk ke tengah, masuk ke set dekat kamera. Sampai akhirnya aku diminta standby di set oleh Mas Ifa. Sejak itu, film berikutnya, aku selalu menjadi Astrada 2 untuk Ifa. Sampai 2016, (Catatan Dodol Calon Dokter, CJ Entertainment) itu film terakhirku bareng Mas Ifa (sebagai astrada).

Ifa pernah bilang bahwa naskah Turah terlalu pretensius, tapi dua tahun kemudian percaya. Menurutmu, mengapa Ifa bisa menilai demikian?

Karena dia melihat karakterku. Dia melihat aku sehari-hari, rasanya enggak cocok memikir hal seperti ini (kemiskinan kampung Tirang). Pikiran yang muncul (dari aku) itu enggak cocok jadi (pikiran) Turah. Menurut Mas Ifa, aku orang yang konyol, komedian. Terus disuruh nulis film, jadinya yang kayak begini, sok serius. Menurut Mas Ifa di tahun 2014: Ini bukan kamu deh.

(Baca: Ifa Isfansyah Sempat Meragukan Naskah Film Turah karena Terlalu Serius)

Begitu makin intens dengan dia, pada 2016 dia makin yakin bahwa (film Turah) ini yang selama ini ada di pikiran. Maksudnya, ternyata bagian luar (saya), bagi dia, enggak sama dengan di dalam. Namun, aku enggak tahu tepatnya bagaimana (penilaian Ifa).

Dua tahun mengerjakan naskah komedi dan tak ada yang jadi. Naskah apa yang dikerjakan?

Belum sampai naskah, masih bentuk sinopsis. Aku bikin cerita orang Tegal yang hijrah ke Jakarta, terus bikin orang Tegal mudik. Aku bikin beberapa sinopsis komedi. Ada komedi gelap juga, (dengan tokoh) orang-orang tua. Kayaknya di situ (titik perubahan pandangan Ifa tentang Wisnu). Ada satu sinopsis yang komedi tetapi pemerannya orang-orang tua. Menurut Mas Ifa, filmnya gelap.

'Kayaknya ada benang merah dengan Turah', mungkin begitu pas dia baca. Karena aku bikin satu sinopsis film komedi, tetapi komedi gelap.

Kenapa komedi gelap ini tak berlanjut?

Menurut Mas Ifa, enggak ketemu ini-nya. Dari aku, juga enggak selesai-selesai. Aku bikin sinopsis, pas mau masuk naskah, enggak jadi-jadi. Saat develop naskah dengan Mas Ifa, mentok. Sampai di satu titik, ada temanku yang mengingatkan: Bukankah kamu punya naskah itu, yang (kisahnya) di Tegal?

Aku enggak ingat, Mas Ifa juga. Lalu (aku ingat), oh Turah maksudnya. Aku cari, Mas Ifa baca lagi. Dua jam kemudian, dia langsung memutuskan: Ayo kita syuting ini! Waktu itu kami masih di Jakarta, persiapan syuting film Cado Cado. Aku dipanggil ke ruangan dia, membicarakan itu.

Naskah film Turah sudah jadi sejak 2014?

Naskah Turah ditulis 2014 saat aku syuting Pendekar Tongkat Emas  (Miles Films 2016). Itu naskah sudah jadi, enggak berubah. Aku kirim email ke Mas Ifa, dibaca, berhenti, ya sudah aku tidak bertanya apa-apa lagi. Sampai 2016, itu dibuka lagi. Aku bingung, kok Mas Ifa malah memutuskan ini.

Begitu aku baca lagi, ternyata rasanya masih sama. Aku masih bisa membayangkan kampung Tirang dengan jelas, bisa membayangkan detail karakter.

Mengapa naskah ditulis waktu syuting?

Waktu itu aku jadi astrada penjadwalan. Ada dua astrada di Miles, yang memang mereka biasa kerja dengan Miles. Astrada 1 biasa pegang semua, tapi karena aku diajak Mas Ifa menemani dia, aku dikasih posisi untuk membuat jadwal. Jadwal kan sudah jadi sebelum syuting. Aku sudah bikin 64 hari syuting.

Waktu syuting, ya aku tinggal melihat jalan enggak jadwalnya. Ternyata itu pekerjaan yang bisa dikerjakan sambil jalan, enggak perlu waktu khusus karena sudah aku pikirkan semua sewaktu persiapan.

Makanya banyak waktu luang. Malam atau sore – karena jam 5 sudah pulang – aku ngetik. Pagi sebelum mulai syuting, ngobrol dengan Mas Ifa, ketemu nih opening seperti ini. Begitu, sampai sebelum Pendekar Tongkat Emas selesai (syuting), naskah (Turah) sudah jadi.

(Baca: Ifa Isfansyah Sempat Meragukan Naskah Film Turah karena Terlalu Serius)

Sejak kapan mengenal Kampung Tirang?

2006, aku sudah baca di surat kabar soal Kampung Tirang. 2009, aku ingin bikin film. 2010, aku bikin film pendek di Kampung Tirang.

Aku lihat ke sana pertama tahun 2009 kalau enggak salah. Lihat suasana, karakter-karakternya. Kayaknya aku harus membagi catatanku waktu itu. Ada kampung seperti itu dengan kehidupan seperti itu di sekitar kita. Tirang enggak jauh dari rumahku, enggak jauh dari kota (Tegal).

Film ditutup dengan shot, yang seolah-olah kamera jatuh. Kamu pernah bilang kalau operator kamera tersandung, tetapi tetap dimasukkan. Saya pikir jawabanmu berbeda-beda setiap lain kesempatan. Apa jawaban yang lebih serius?

Hahaha. Waktu itu, kepikiran (jika) menonton film, sangat panjang, yang pesimis, kesannya jelas, aku enggak ingin ketika aku menonton (film serupa), masih terbayang-bayang seolah itu benar-benar ada.

Kamera (jatuh) adalah untuk menyamarkan realita dan fiksi, bahwa itu cuma film. Batasan mau dihilangkan, dikaburkan. Dengan jatuhnya kamera, orang sadar bahwa ada sesuatu, seseorang (di balik layar). Penonton disadarkan. Itu sih rasaku waktu itu. Enggak tahu, masing-masing penonton menangkap berbeda.


Wisnu saat mengarahkan film Turah (Dok. Fourcolours)

Banyak yang bilang film ini jujur dan tidak pretensius. Bagaimana kamu memandang soal ini?

Jujur, menurutku, waktu itu aku memang bikin film Turah  untuk film itu sendiri. Maksudnya, untuk cerita Kampung Tirang. (Film berisi hal) yang ingin aku omongkan saja. Enggak ada hal lain, selain filmnya.

Aku enggak tahu membahasakan ini bagaimana. Cuma ya sudah, bikin film untuk film. Paham enggak maksudnya? Mungkin ada orang yang mau bikin film untuk apa, cuma waktu itu aku bikin film ya untuk film ini saja. Sudah. Sampai filmnya jadi.

Enggak ada tujuan apa-apa, bahkan untuk hadir (sebagai kritik) di pemerintahan. Aku memang benar-benar ingin membagi catatanku ke semua orang. Aku pernah punya pengalaman ini, catatan tentang karakter-karakter seperti ini, pengalaman di Kampung Tirang. Nah, itu aku masukkan ke dalam bentuk film. Ada lho kehidupan seperti ini di dekat aku.

Waktu pertama kali datang ke Kampung Tirang, yang aku rasakan, kayaknya ada yang keliru. Kenapa aku hidup dekat banget dengan Tirang, tapi aku enggak tahu, enggak bisa berbuat apa-apa. Makanya, aku merasa perlu, narasi Kampung Tirang ini aku hadirkan ke medium film. Karena itu yang aku bisa. Kalau bisa bikin lagu, mungkin aku jadikan lagu.


(Dok. Fourcolours)

Soal struktur film, apakah ceritanya dibuat dengan struktur drama tiga babak?

Aku enggak mikir itu. Waktu menulis, benar-benar aku mengikuti karakter saja. Ada karakter orang seperti Turah, seperti Jadag. Aku coba pasangkan dengan istri mereka. Aku masukkan konfliknya, yang mengikuti karakter.

Kalau Turah punya masalah, cara dia menyelesaikan seperti ini, atau Jadag punya masalah, cara dia seperti ini. Nah, itu mengalir saja. Aku enggak punya patokan struktur drama. Aku punya Turah, Jadag, Darso, yang lain. Karakter-karakter itu aku pertemukan di kampung itu. Jadinya seperti itu.

Setelah film Turah diputar, banyak orang berkunjung ke sana?

Betul. Ada sekitar empat kelompok atau berapa, aku enggak ingat, mereka orang sekitar situ. Bahkan orang dekat Kampung Tirang juga enggak tahu kalau ada kampung di situ. Mereka datang, ada yang mereka ulang adegan, ada yang berfoto-foto, mencari lokasi ranjang Turah, mencari lokasi ini di mana. Sampai yang punya rumah bingung.

Begitu aku datang ke sana, semuanya (pemilik rumah) senang. 'Karena Mas Wisnu nih, semua datang nanya ini itu.' 'Ya enggak apa-apa, jadi ramai kampungnya sekarang.' 'Iya, enggak apa-apa ramai banyak yang main.'

Apa sedemikian parah sikap abai penduduk sekitar?

Bukan parah, tapi tempatnya memang terpencil. Kita harus masuk lewat belakang pabrik, harus nyebrang, dan jarang juga orang tahu. Orang Tegal sendiri pun jarang ada yang tahu.

Setelah film tayang, ada perbedaan di Tirang, selain soal kunjungan?

Enggak begitu kentara. Cuma karena ada tamu datang, ada narasi yang beda, obrolan jadi beda, tentang film. (Memperkaya obrolan?) Iya, memperkaya pembicaraan. Hahaha.

Setelah Turah dipilih PPFI untuk dikirim ke seleksi nominasi Oscars 2018, Wisnu bilang ingin membuat film lagi. Apa film yang baru?

Rencananya... Sekarang aku lagi nulis skenario draf 2. Cita-citanya, awal tahun depan film ini akan produksi. Syuting di Tegal juga. Desa Semedo namanya.

Bisa cerita sedikit soal film ini?

Yang jelas, film yang enggak suram. Kalau suram disebut pesimis ya? (tertawa) Kalau jadi, film yang besok ini lebih ceria.

Seandainya Turah lolos ke nominasi Best Foreign Language di Oscars 2018, tanggapan Wisnu?

Wah, saya berasa naik haji (tertawa).

Siap berangkat ke sana?

Insya Allah. Tapi dulu saya mau berangkat ke Amerika, visa saya ditolak. Enggak tahu karena apa ditolak, dapat surat kuning juga. Dulu saya mau syuting di sana dengan Mas Ifa. Visa ditolak, enggak jadi berangkat. Kalau ini jadi berangkat, berarti memang jodoh.


(DEV)

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

Guruh Soekarnoputra Sebut Orde Baru sebagai Biang Kerok Krisis Kebudayaan Indonesia

4 days Ago

Guruh juga mengingatkan jika generasi muda tidak lagi peduli akan bahasa Indonesia yang baik da…

BERITA LAINNYA