Jempalitan di Balik Siaran Malam Penghargaan

Purba Wirastama    •    08 Desember 2017 13:54 WIB
ffi (festival film indonesia)
Jempalitan di Balik Siaran Malam Penghargaan
Desain visual konsep panggung Malam Anugerah FFI 2017 (dok. Celerina)

Jakarta: Sebagai acara siaran langsung tv, Malam Anugerah Festival Film Indonesia 2017 pada November lalu mungkin tampak biasa saja layaknya seremoni penghargaan serupa. Ada sesi-sesi pembacaan pemenang dan pidato yang didahului dengan penyebutan daftar unggulan.

Para tamu memberi tepuk tangan. Penonton siaran di televisi mengamati dinamika penuh letupan emosi ini. Bagi yang telah menebak-nebak siapa peraih Piala Citra dan kebetulan tepat, ada sedikit rasa bangga. Tak kalah dengan para juri yang memberi suara, begitu kira-kira.

Bagi penonton, hasil kemenangan bisa jadi seperti pemicu untuk mengingat kembali film-film yang telah ditonton atau belum ditonton. Misal, Film Terbaik ternyata diputar ulang. Lalu ada upaya pembuktian, seperti apa sih film terbaik versi juri FFI.

Ada cerita tak populer di balik gelaran acara puncak yang tampak 'biasa' tersebut. Celerina Judisari, Ketua Bidang Acara tahun ini, semestinya hanya melakukan supervisi atas acara yang dikelola pihak ketiga, yang sekaligus adalah tuan rumah malam puncak.

Ini sesuai dengan semangat perampingan panitia pusat tahun ini, yang bermaksud jadi fasilitator saja. Sejumlah bidang pekerjaan, termasuk penjurian, digarap dalam kolaborasi dengan lembaga-lembaga lain.

Namun visi ini memang perlu mendapat perhatian lebih serius dari para pihak terkait dalam gelaran-gelaran FFI ke depan. Soal malam puncak, Celerina bercerita bahwa akhirnya dia harus turun tangan untuk 'menyelamatkan' acara karena sisa waktu yang tak panjang.

"EO (event organizer) akhirnya mengikuti kami," kata Celerina saat berbincang dengan Metrotvnews.com lewat telepon, belum lama ini.

"Harusnya aku hanya supervisi, tapi ternyata tidak. Aku yang melakukan, tapi kita enggak pegang duit sama sekali. Selama produksi, kami cuma mengatur saja. Ini harus di sini, kurang ini, segala macam. Aku ngumpulin tim tv akhirnya," lanjut Celerina.

Celerina, yang akrab disapa Mbak Ai, merekrut satu per satu tambahan tim hingga terkumpul lebih dari 40 orang untuk melakukan produksi off-air dan on-air di Sulawesi Utara dengan waktu persiapan relatif singkat.

Foto Para Peraih Piala Citra 2017

Waktu yang singkat disebabkan oleh situasi rumit yang muncul tatkala tanggung jawab pelaksanaan acara dipecah ke tim panitia lain atau EO berdasar sistem tender. Sejak awal, panitia pusat belum punya tim kreatif produksi untuk menyusun rincian konsep acara.

Sementara, anggaran untuk pengadaan tim kreatif harus menunggu EO terpilih lebih dulu. Anggaran terkait produksi acara disokong oleh pos dana daerah, dalam hal ini Sulawesi Utara. Anggaran untuk membeli jam siaran televisi sudah ada di pos dana Pusbangfilm (Pusat Pengembangan Perfilman) Kemdikbud.

Celerina menyebut situasi ini seperti misteri tak berkesudahan, antara ayam dan telur, mana yang lebih dulu ada.

"Tidak ada tim kreatif awal. Ini kan orang-orang film ingin (acara) kayak begini, tapi yang menurunkan itu menjadi satu konsep yang namanya proposal acara (siapa)?. Kalau misal kami mau (siaran langsung) dengan tv, berarti perlu panggung yang siap on-air. Gambar, teknis, segala macam itu harusnya sudah di awal, baru nanti EO (menyesuaikan)," tutur Celerina.


Celerina Judisari dan tim menyiapkan rekaman sambutan Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey (dok. Celerina)


Menurut dia, acara puncak FFI 2017 yang disiarkan langsung sebetulnya bukan perkara yang rumit-rumit amat bagi orang yang paham dengan program acara televisi on-air. Namun hambatan prosedural terkait pemecahan anggaran membuat kesiapan jadi genting karena tak dapat dikontrol sejak awal.

"Ini sesuatu yang simpel kalau memang orang-orang yang mengerti ada di situ. Ini jadi agak mingslek karena tempatnya jauh, bolak-balik," tuturnya.

Perkara On-air dan Off-air

Setelah 36 kali digelar sejak 1955, edisi 2017 adalah kali pertama puncak FFI dirayakan di Manado dan kali keenam diusung ke luar Pulau Jawa. Ketua Panitia Leni Lolang pernah menyebut bahwa Jakarta masih jadi tempat ideal untuk menggelar acara puncak. Namun permintaan kuat dari sejumlah daerah juga perlu diakomodasi.

"Ini kan perhelatan para pelaku perfilman. Berarti semua kami mobilisasi ke sana (Manado). Itu besar sekali. Begitu ada jaminan, boleh saja. Mereka juga bagian dari Indonesia juga. Karena sebenarnya kita ingin film tak hanya berkembang di Jakarta, tapi ke daerah-daerah (di luar Jakarta) juga," kata Leni di Jakarta, Agustus lalu.

Daftar Lengkap Pemenang FFI 2017

Status Manado sebagai tuan rumah diumumkan pada 21 Agustus 2017, tak sampai tiga bulan jelang acara puncak 11 November. Pada titik ini, belum ada kesepakatan pihak mana yang akan melaksanakan produksi acara. Ihwal siaran langsung pun belum dapat dipastikan.

Dalam kurun waktu September hingga Oktober, ada agenda seleksi nominasi dan penjurian akhir yang melibatkan 16 organisasi perfilman. Sempat ada polemik, film Posesif masuk menjadi salah satu unggulan sebelum dirilis di bioskop jaringan.

Kontroversi Film Posesif di FFI 2017 dan Status Sensor

Selain itu, tentu agenda persiapan malam puncak. Satu hal yang disayangkan Celerina, keputusan soal siapa pengelola acara puncak atau EO baru keluar 17 hari sebelumnya, yaitu pada 26 Oktober 2017. Saat itu dia masih berada di Jepang untuk persiapan syuting film.

Demi 'colong start' menyusun rincian konsep produksi, dia merekrut sejumlah orang, yang dia sebut bergabung karena 'dedikasi'. Ada Herti Purba, Titien Wattimena, serta Langlang Arya Salaka dan Yetti Salaka. Sejumlah orang bergabung lagi setelah persiapan berjalan.

"Aku dan Herti sudah sampai pada level: Ya sudah aku senang saja, aku sudah tahu ini pasti gila. Tapi aku punya tanggung jawab soalnya aku ada di Badan Perfilman (Indonesia). Untungnya anak-anak tv tahu aku. Jadi pada saat aku bilang: Ini mission impossible, mereka akhirnya oke dengan segala kesulitan di sana," ujar Celerina.


Situasi persiapan panggung Malam Anugerah FFI 2017 di Grand Kawanua Manado, empat jam sebelum acara dimulai (medcom.id_purba wirastama)


Konsep produksi dari pihak EO ternyata tidak sesuai standar menurut penyisiran Celerina dan tim. Ada hambatan komunikasi yang membuat penyediaan alat tidak tepat. Celerina menyebut penyusun anggaran dari pihak EO kurang paham bedanya siaran langsung (live) dan acara rekaman (taping).

"Aku masuk ke situ, aku bilang: Ini sudah salah semua. Nah, gimana caranya, kru sudah ada (dana) mobilisasi, tapi tidak ada dana produksi," ucapnya.

Celerina mengaku ada upaya untuk koordinasi langsung dari pihaknya selaku panitia pusat dengan EO selaku panitia lokal. Koordinasi langsung hendak dilakukan mengingat waktu persiapan yang singkat.

"Konsep ini enggak tertulis dan belum terlalu matang pada saat itu, dan semua buru-buru. Aku bilang ke (Pemprov) Sulut: Boleh enggak aku ke sana, memberi brief EO. Tapi ternyata tidak (bisa). Jadi yang memberi brief orang Sulut sendiri, yang mana enggak tahu. Jadi di sini ada kesalahan dalam menerjemahkan alat segala macam," jelasnya.

Dalam perjalanan, lusinan orang bergabung lagi ke dalam tim Celerina, termasuk yang menyusun konsep panggung, musik, pertunjukan pembuka, serta sistem audio dalam jadwal sangat ketat. Tiga kanal televisi yang menyiarkan program baru dipastikan pada 1 November. Sejak 5 November, tim mulai bekerja di Manado.

Satu capaian baru dibanding tahun sebelumnya, kata Celerina, adalah keseimbangan antara kebutuhan on-air dan off air. Tamu di Grand Kawanua Manado senang, pemirsa televisi pun dapat mengikuti nyaman.

Hal-hal teknis terkait keseimbangan ini, misalnya, penataan lampu di lokasi yang tak bisa terlalu redup supaya kamera dapat merekam ekspresi para tamu saat momen tertentu. Lalu juga siasat supaya 1.000 tamu di lokasi tak terganggu dengan kode para kru produksi saat siaran langsung mendapat jeda komersial. Ada acara selingan dengan presenter berbeda saat off-air.

"FFI itu kan ajangnya orang film. Mereka akan bilang bagus adalah kalau pada saat di sana, mereka bisa menikmati acaranya. FFI tahun kemarin, buat mereka, terbaik. Karena Jay Subiakto (mengerjakan acara). Enggak heran. Tapi kalau sudah masuk ke tv, itu jadi jelek karena waktunya kurang," tutur Celerina.
 

Celerina Judisari (tengah) dan Rita Dondokambey-Tamuntuan, ketua panitia lokal sekaligus istri Gubernur Sulawesi Utara (dok. Celerina)


Capaian lain yang patut mendapat perhatian adalah semua kategori penghargaan, yang jumlahnya 23, mendapat panggung siaran yang sama. Ini penting karena FFI satu-satunya ajang apresiasi tertinggi untuk film-film domestik yang dijamin oleh regulasi negara. Jika satu dua kategori tersingkir karena dikalahkan hal-hal lain yang kurang relevan, bukan pesta orang film lagi namanya.

Demi 23 sesi pembacaan tersebut, bagian sambutan acara disesuaikan. Ada sambutan dari pejabat yang tidak tayang. Ada sambutan yang telah direkam sebelumnya untuk memastikan durasi.

Acara tersebut ditargetkan berdurasi 2,5 jam saat siaran langsung. Pada kenyataannya, mereka masih butuh waktu tambahan 15 menit. Beruntung tiga kanal televisi setuju untuk menambah atas permintaan tim Celerina. Share (persentase jumlah penonton acara tv dengan jumlah penonton yang sedang aktif) juga mencapai angka cukup baik.

"Tapi ya, semua terlaksana, share juga oke, dapat share 6. Jadi maksud aku, tim pontang-panting tapi ya akhirnya bisa. Ini pelajaran saja bahwa di balik gemerlap itu ada (cerita semacam ini)," ungkapnya.

"Orang berebut proyek ini. Aku bilang: apa yang mau diperebutkan dengan kondisi yang seperti itu. Kecuali orang-orang gila," imbuhnya.

Menurut Celerina, ada beberapa komentar yang menyebut FFI menjadi proyek rebutan karena dianggap 'lahan basah'.

"Karena kalau dulu, kepanitiaan ada gajinya. Sekarang enggak. Kami terima sekitar... aku sih cuma terima 1,1 (juta). Yang lain ada yang cuma 800 (ribu). Ya begitu, tapi kami happy. Profesional ya harus profesional. Kalau kami panitia memang tidak dihitung di anggaran," tuturnya.

Merawat Citra FFI

Acara puncak FFI 2016, yang diadakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, disebut-sebut sebagai titik prestasi hajatan FFI atau Piala Citra dalam dua dekade terakhir. Ada Jay Subiakto dan Inet Leimena mengerjakan.

Namun waktu itu siaran langsung di tv mendapat kritik tajam. Salah satu kanal tv swasta tak kunjung menampilkan acara puncak karena ada program sinetron yang masih jalan.

Hingga kini, FFI adalah satu-satunya ajang penghargaan tertinggi tingkat lokal yang dapat dijadikan patokan perkembangan film-film domestik. Terutama, film cerita panjang yang didistribusikan di bioskop serta tempat pemutaran lain. Apalagi festival ini digelar atas amanat Undang-undang melalui Dinas Kebudayaan, Pusbangfilm, dan BPI.

Perjalanan FFI memang diwarnai berbagai polemik berlandaskan keraguan para pelaku perfilman dan penonton terhadap sistem yang melingkupinya. Namun sebagai sebuah brand atau merek, FFI tetap festival milik nasional.

Sejumlah pemerintah daerah bahkan disebut-sebut berebut kesempatan untuk menjadi tuan rumah acara dengan harapan dapat mendongrak popularitas dan gengsi kawasan terkait. Proyeksinya, sektor wisata daerah dapat meningkat, atau setidaknya daerah ini dilirik menjadi lokasi syuting.

Bagi Celerina, merek sebesar FFI sayang kalau tidak dijaga. Salah satunya adalah dengan lebih serius mengerjakan program siaran langsung jika skema perayaan seperti ini masih hendak dilanjutkan. Dia menyoroti prosedur pemilihan pihak yang akan diajak kerja sama untuk melakukan produksi.

"Kalaupun mau dilakukan di luar daerah (Jakarta) atau memang masih di Jakarta saja, secara prosedural harus diperbaiki. Tender EO jangan sampai terlalu mepet. Lalu  juga mungkin (sejak awal) mulai melibatkan lagi orang-orang yang memang mengetahui (cara kerja) tv dan lain-lain kalau memang ke depan masih mau melakukan siaran live," ungkap Celerina.

"Merek FFI ini adalah merek yang bagus dan harus dijaga seluruh tampilannya," lanjutnya.

Kendati disebut sebagai 'pestanya orang film', dia berharap FFI semakin mendekatkan diri ke publik. Menurutnya, masyarakat sudah mulai menyukai film-film Indonesia sehingga FFI bukan lagi untuk orang film saja. Apalagi, perayaan puncak disiarkan langsung.

"Acara kayak begini bukan untuk orang film saja. Tapi juga harus dikomunikasikan ke seluruh masyarakat Indonesia sehingga ini menjadi pestanya masyarakat Indonesia," tukas Celerina.

 


(ELG)

Seksisme dan Biduan Dangdut

Seksisme dan Biduan Dangdut

1 week Ago

Unsur seksisme bahkan lekat dengan profesi pedangdut ini. Seksisme merupakan penghakiman, prasa…

BERITA LAINNYA